DI ANTARA SK, TARGET, DAN TAKDIR: Jangan Rumitkan Hidup, Dekap Hatimu Atas Nama AllohDI ANTARA SK, TARGET, DAN TAKDIR: Jangan Rumitkan Hidup, Dekap Hatimu Atas Nama Alloh

Redaksi
Tambahkan
...
0
DI ANTARA SK, TARGET, DAN TAKDIR: Jangan Rumitkan Hidup, Dekap Hatimu Atas Nama Alloh (Doc. Istimewa)
DI ANTARA SK, TARGET, DAN TAKDIR: Jangan Rumitkan Hidup, Dekap Hatimu Atas Nama Alloh (Doc. Istimewa)

SURAT KABAR - Dialog Jiwa ; Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional di Antara Alam Mimpi dan Alam Realitas, pejabat struktural dan pejabat fungsional saling berdebat tentang keunggulan jabatan mereka, hingga akhirnya keduanya menemui jalan buntu dan menemukan kesadaran yang lebih tinggi.

Malam itu, sebuah ruang aneh terbentang di antara alam mimpi dan alam realitas. Tidak ada gedung kantor, tidak ada meja kerja, tidak ada tanda pangkat dan tidak ada kursi jabatan. Yang ada hanyalah dua sosok yang saling berhadapan.


Mereka duduk di bawah langit yang tidak berbintang, seolah berada di antara dunia yang nyata dan dunia yang tak terlihat.

Pejabat Struktural membuka percakapan.
"Aku tidak mengerti mengapa banyak orang meremehkan jabatan struktural. Padahal organisasi berjalan karena kepemimpinan. Tanpa struktur, semua akan kacau."

Pejabat Fungsional tersenyum tipis.
"Dan tanpa keahlian, kepemimpinan hanya menjadi kumpulan perintah yang kosong."

Pejabat Struktural mulai meninggikan suaranya.
"Aku bertanggung jawab terhadap kebijakan, pengambilan keputusan, dan arah organisasi. Risiko yang ku pikul jauh lebih besar."

Pejabat Fungsional menjawab cepat.
"Tetapi keputusanmu tidak akan bermakna tanpa orang-orang yang bekerja langsung di lapangan. Banyak kebijakan lahir dari meja, namun gagal saat bertemu kenyataan."

Pejabat Struktural tertawa kecil.
"Setidaknya namaku tercatat sebagai penanggung jawab."

"Dan setidaknya pekerjaanku menghasilkan manfaat yang nyata."

Perdebatan semakin panjang ;
Mereka membandingkan pengaruh, 
Mereka membandingkan tanggung jawab,
Mereka membandingkan penghormatan,
Mereka membandingkan beban kerja,
Mereka membandingkan prestasi,
Mereka bahkan membandingkan siapa yang lebih dekat dengan kepentingan masyarakat.

Namun semakin lama mereka berbicara, semakin terasa bahwa tidak ada yang benar-benar menang. 
Setiap argumen selalu menemukan lawannya.
Setiap keunggulan selalu memiliki kelemahan.
Setiap kebanggaan selalu memiliki bayang-bayang kesombongan.

Hingga akhirnya keduanya terdiam, buntu, sunyi, dan tidak ada lagi yang bisa diucapkan. Di saat itulah muncul seorang lelaki tua yang tidak mereka kenal, wajahnya tenang, matanya jernih. Ia bertanya sederhana.

"Jika besok SK kalian dicabut, siapakah kalian?"
Keduanya terdiam.
"Tidak ada jabatan."
Tidak ada jawaban.
"Jika semua target selesai dan nama kalian dilupakan, siapakah kalian?"
Keduanya kembali diam.
Lelaki tua itu tersenyum.
"Kalian telah berdebat panjang tentang jabatan, tetapi lupa bertanya tentang diri kalian sendiri."
Keheningan memenuhi ruang itu.
Lalu lelaki tua yang sudah pensiun itu berkata:

"Jabatan struktural adalah amanah."
"Jabatan fungsional adalah amanah."
"Keduanya hanyalah pakaian."
"Masalahnya bukan pada pakaiannya."
"Masalahnya adalah ketika seseorang lupa siapa yang memakaikannya."
Tiba-tiba langit yang gelap berubah menjadi terang.

Kedua pejabat itu menundukkan kepala.
Mereka sadar dan menyadari bahwa selama ini mereka sibuk mempertahankan identitas jabatan, tetapi lupa merawat jiwa.

Mereka sibuk mencari pengakuan manusia, tetapi jarang mencari keridhaan Alloh.
Mereka sibuk membandingkan diri, tetapi lupa memperbaiki diri.

Dan dari kedalaman hati mereka terdengar sebuah bisikan :

"Jangan rumit kan hidup." Karena jabatan akan berakhir.

Target akan berganti, penilaian manusia akan berubah tetapi Alloh tetap ada. Maka dekap lah hatimu, tenangkan jiwamu laksanakan amanahmu. Dan pulanglah kepada-Nya. Atas nama Alloh.


Kasie Bimas Islam Kemenag Kota Cimahi
Pembina BP4 Kota Cimahi
Pengurus Bidang Pengkajian & Pengembangan MUI Kota Cimahi

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar