Dies Natalis ke-57 SMKN 3 Cimahi Jadi Momentum Transformasi Pendidikan Vokasi di Era Digital

Redaksi
Tambahkan
...
0
Semarak Dies Natalis SMKN 3 Cimahi ke-57 (Doc. Istimewa)
Semarak Dies Natalis SMKN 3 Cimahi ke-57 (Doc. Istimewa)

SURAT KABAR, CIMAHI – Perayaan Dies Natalis ke-57 SMKN 3 Cimahi tak hanya menjadi seremoni tahunan semata. Melalui tajuk Creative Fest, sekolah vokasi tersebut menegaskan arah transformasi pendidikan kejuruan yang lebih kreatif, adaptif terhadap kebutuhan industri, serta mampu mengikuti perkembangan teknologi digital yang bergerak semakin cepat.

Suasana perayaan terasa semarak sejak pagi hari. Berbagai stan karya siswa, pameran hasil kreativitas, hingga penampilan seni dari masing-masing kelas membuat lingkungan sekolah tampak hidup dan penuh antusiasme. 

Momen ulang tahun sekolah yang berdiri sejak 25 Mei 1969 itu pun diwarnai rasa syukur, harapan, serta doa untuk perjalanan pendidikan ke depan.

Kepala Sekolah SMKN 3 Cimahi, Ade Sudrajat, mengatakan bahwa di usia ke-57 tahun, sekolah tidak hanya merayakan perjalanan panjang sebagai institusi pendidikan vokasi, tetapi juga terus melakukan pembenahan agar mampu mengikuti perkembangan industri dan teknologi.

Menurutnya, sekolah kini berupaya menyiapkan lulusan yang bukan sekadar siap kerja, tetapi juga mampu beradaptasi menghadapi perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.

Kepala Sekolah SMKN 3 Cimahi, Ade Sudrajat
Kepala Sekolah SMKN 3 Cimahi, Ade Sudrajat 

Di tengah dinamika pendidikan vokasi yang terus berkembang, para alumni sekolah tersebut mulai menunjukkan kiprah di berbagai bidang. Sebagian memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang akademik, sementara lainnya berkarier di dunia profesional, bahkan hingga ke luar negeri.

Ade menyebut capaian para alumni menjadi salah satu hal yang patut disyukuri. Ia menuturkan, sejumlah lulusan kini telah menjadi akademisi, dosen, hingga profesor. Selain itu, ada pula alumni yang berkarier di luar negeri sebagai diaspora Indonesia.

“Alhamdulillah, lulusan-lulusan yang sudah ada itu ada yang sudah jadi akademisi, ada yang jadi dosen, ada yang sudah profesor gitu kan. Kemudian ada juga yang sudah berkarier di luar negeri, jadi diaspora di sana gitu kan,” kata Ade saat ditemui Surat Kabar di sekolah.


Ia menjelaskan, profesi para alumni kini tersebar di berbagai bidang. Ada yang bekerja di perusahaan dalam maupun luar negeri, dan tidak sedikit pula yang memilih jalur wirausaha.

“Banyaklah yang sudah bekerja di luar negeri, kemudian bekerja di Indonesia juga alhamdulillah banyak, bahkan banyak juga yang berwirausaha. Jadi memang alhamdulillah lulusan-lulusan kita itu ada yang bekerja, ada yang melanjutkan, juga ada yang wirausaha,” ujarnya.


Memasuki usia ke-57 tahun, sekolah juga menargetkan peningkatan prestasi akademik maupun non-akademik untuk menjaga eksistensi di tingkat kota, nasional, hingga internasional.

Ade menegaskan, pembenahan terus dilakukan, baik dari sisi fasilitas maupun kualitas sumber daya manusia. Kompetensi guru terus ditingkatkan, sementara sarana praktik siswa diperbarui agar tetap selaras dengan kebutuhan industri.

“Ya semoga ke depannya SMK 3 lebih baik lagi, lebih maju lagi, dan kita berbenah tidak hanya dari segi fasilitas, tapi juga dari segi SDM,” ujar Ade.

Ia mengatakan, sekolah ingin memastikan setiap lulusan memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun membangun usaha sendiri setelah lulus.

“Jadi, targetan kami gimana caranya lulusan SMK 3 ya sukses. Di dunia luar itu jadi sukses,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Hubungan Industri dan Masyarakat SMKN 3 Cimahi, Latifah Pujiastuti, menilai Dies Natalis 2026 menjadi penanda transformasi sekolah dalam menghadapi tantangan industri dan perkembangan teknologi.

Dies Natalis SMKN 3 Cimahi

Menurut Latifah, perayaan tahun ini terasa lebih istimewa karena turut menghadirkan sekitar 20 guru purnabakti yang pernah menjadi bagian perjalanan sekolah.

“Alhamdulillah hari ini mengundang berbagai semua guru purnabakti yang masih ada. Alhamdulillah tadi banyak, sekitar 20-an,” ujar Latifah.

Ia menjelaskan, kehadiran para guru purnabakti menjadi saksi perubahan sekolah yang awalnya hanya memiliki tiga jurusan, yakni Tata Boga, Perhotelan, dan Tata Busana, hingga kini berkembang menjadi lima jurusan.

Transformasi tersebut dilakukan untuk mencetak lulusan yang lebih siap menghadapi kebutuhan industri. Selain bidang kuliner, perhotelan, dan fashion design, sekolah kini juga memiliki jurusan Manajemen Perkantoran dan Desain Komunikasi Visual (DKV).

“Setelah transformasi dan penambahan jurusan ini, kita berkeinginan menciptakan alumni-alumni yang siap pakai, lebih mumpuni di industri, dan memiliki kompetensi yang sangat baik di bidangnya,” kata dia.

Dalam memperkuat kesiapan lulusan, sekolah juga menggandeng sekitar 125 mitra industri. Kerja sama itu diwujudkan melalui berbagai program, mulai dari magang guru, praktik kerja lapangan (PKL), hingga proses rekrutmen lulusan.

"Kita menggandeng sekitar 125 mitra industri ya. Kita memiliki berbagai macam MoU dengan beberapa industri itu dan meningkatkan kerjasamanya bentuknya yaitu guru magang, kemudian PKL,” ujar Latifah.

Selain itu, hubungan dengan para mitra industri juga terus dijaga guna mendukung kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.

“Kemudian rekrutmen, juga kita membina hubungan yang baik dengan mitra industri,” tutur Latifah.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital turut membawa tantangan baru dalam dunia pendidikan. Latifah menilai pola belajar siswa saat ini sudah jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Menurut dia, guru kini dituntut mampu beradaptasi dengan era digital yang memengaruhi hampir seluruh aktivitas pembelajaran di sekolah.

“Zaman berubah ya. Kita tidak bisa mendidik siswa atau murid itu sama dengan zaman kita dulu,” ujar Latifah.

Ia mengatakan, perkembangan teknologi membuat para guru, baik normatif-adaptif maupun produktif, harus semakin menguasai sistem pembelajaran berbasis digital.

“Sekarang ada zaman yang dipengaruhi oleh digitalisasi, teknologi yang semakin canggih, maka guru dituntut untuk lebih menguasai digital tadi,” katanya.

Perubahan pola belajar itu terlihat dari kebiasaan siswa di kelas. Jika dulu siswa terbiasa mencatat materi secara manual, kini sebagian besar memilih memotret materi menggunakan telepon genggam.

“Sekarang hampir semua pembelajaran menggunakan HP,” ucapnya.

Latifah mengaku kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik. Sebab, kebiasaan menulis tangan di kalangan siswa perlahan mulai berkurang.

“Saya ngajar, ‘Bu, foto ya,’ foto,” katanya menirukan ucapan muridnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut membuat kemampuan menulis siswa tidak serapi generasi sebelumnya. Selain itu, materi yang telah dipotret belum tentu kembali dipelajari oleh siswa.

“Nah, jadi apa kurangnya? Mereka tuh menulis kurang rapi. Kedua, ketika udah difoto, entah dibaca entah tidak,” terangnya.

Meski begitu, pihak sekolah tetap berupaya menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan metode pembelajaran konvensional. Sebab, menulis dan mendengarkan dinilai tetap penting untuk melatih kemampuan motorik serta fokus siswa saat belajar.

“Kami pengen anak-anak tuh dengan menulis mereka belajar motorik, kemudian dengan mendengarkan mereka belajar fokus,” pungkasnya. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar