SURAT KABAR, CIMAHI – Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) di MTs Negeri Cimahi pada tahun pelajaran 2026/2027 tidak hanya menjadi agenda pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik baru.
Kegiatan ini juga diarahkan sebagai ruang awal membangun karakter, menanamkan nilai-nilai keagamaan, serta menciptakan budaya belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.
Tema yang diusung tahun ini ialah "Melangkah dengan Cinta, Bertumbuh dalam Adab, Berkarya dengan Ilmu, Menuju Generasi Madrasah yang Beriman, Berkarakter, dan Mendunia."
Pelaksanaan MATAMUDA berlangsung selama empat hari. Kegiatan diawali pada Sabtu (11/7/2026) sebagai tahap persiapan, kemudian dilanjutkan pelaksanaan inti selama tiga hari pada Senin hingga Rabu, 13–15 Juli 2026.
Pada tahun ajaran ini, MTs Negeri Cimahi menerima 352 murid baru yang terdiri atas 141 siswa laki-laki dan 211 siswi perempuan.
Jumlah tersebut dipilih dari 576 pendaftar sehingga sebanyak 224 calon peserta didik belum dapat diterima. Seluruh murid baru terbagi ke dalam 11 rombongan belajar masing-masing berisi 32 siswa. Pihak sekolah mencatat jumlah pendaftar terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTs Negeri Cimahi sekaligus Ketua Panitia MATAMUDA, Ade Pawaz mengatakan konsep pelaksanaan tahun ini dirancang untuk menekankan pembentukan karakter peserta didik sejak memasuki lingkungan madrasah.
Ade menjelaskan, secara substansi MATAMUDA memiliki tujuan yang sama dengan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS). Perbedaannya hanya terletak pada nomenklatur yang digunakan.
"Untuk MATAMUDA dan MPLS sebetulnya itu sama, namun MATAMUDA digunakan untuk sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama pada jenjang MI, MTs, dan MA. Sementara MPLS merupakan istilah yang digunakan oleh Dinas Pendidikan untuk SD, SMP, dan SMA," ujar Ade kepada Surat Kabar, Rabu (15/7/2026).
Menurut dia, inti kegiatan tetap berfokus pada pengenalan lingkungan belajar baru agar peserta didik mampu beradaptasi sejak awal.
"Kalau inti-intinya sama-sama aja pengenalan lingkungan, di mana mereka para siswa-siswi baru memasuki lingkungan baru. Dalam kegiatan tersebut mereka diberikan wawasan-wawasan kaitan dengan wawasan wiyata mandala, wawasan tentang tata krama, kemudian tentang cara belajar pembelajarannya," ungkapnya.
Pelaksanaan MATAMUDA tahun ini mengacu pada sejumlah regulasi, yakni Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan, kebijakan Kementerian Agama mengenai penguatan nilai-nilai keislaman, moderasi beragama, serta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam penyelenggaraan pendidikan madrasah.
Selain itu, kegiatan juga mengacu pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan MATAMUDA Tahun Pelajaran 2026/2027 yang diterbitkan Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kemuridan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Termasuk di dalamnya ketentuan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile.
Ade menuturkan, salah satu materi penting yang diberikan ialah pengenalan sistem pembelajaran di jenjang MTs yang berbeda dengan sekolah dasar.
Menurutnya, ketika masih di SD, seorang guru umumnya mengajar beberapa mata pelajaran. Sementara di tingkat MTs atau SMP, setiap guru mengampu satu mata pelajaran tertentu sehingga peserta didik perlu memahami pola belajar yang baru.
"Sementara kalau di Tsanawiyah atau di SMP, satu guru satu mata pelajaran. Jadi pengenalan kurikulumnya juga, selain tadi pengenalan lingkungan, pengenalan guru-gurunya, mata pelajarannya, tata tertibnya, keseluruhan kaitan dengan sekolah barunya," tutur Ade.
Melalui proses orientasi tersebut, pihak sekolah berharap peserta didik memiliki kesiapan mental sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar secara penuh.
"Sehingga ketika mereka selesai mengikuti orientasi, mereka akan lebih siap belajar karena sudah dikondisikan dengan mengikuti kegiatan MATAMUDA," katanya.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan MATAMUDA kali ini berlangsung selama empat hari. Satu hari tambahan dimanfaatkan untuk kegiatan pentas kreasi seni antarkelas.
Ade mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama mengenalkan identitas madrasah sejak dini kepada peserta didik baru.
"Harapan dari Kementerian Agama, anak lebih dini, lebih awal harus mengikuti Mars Madrasah. Mars Madrasah dikenalkan supaya mereka terpacu dan betul-betul bisa, maka dilombakan," ujarnya.
Setiap kelas mengusung identitas salah satu provinsi di Indonesia melalui kostum dan aksesori yang dikenakan selama pentas seni.
"Tentunya dengan memakai aksesori-aksesori sesuai dengan kelasnya. Di mana masing-masing kelas itu adalah nama-nama provinsi dari Indonesia. Selain mereka diaksesorisi dengan wilayahnya, mereka juga menyanyikan lagu, salah satunya lagu Mars Madrasah tersebut, termasuk lagu KBC," ungkap Ade.
"KBC itu lagunya di Kementerian Agama. Nah, mereka itu dilombakan juga," sambungnya.
Secara umum, tujuan penyelenggaraan MATAMUDA adalah mengenalkan lingkungan belajar yang baru sekaligus membantu peserta didik memahami kondisi diri maupun lingkungan sosialnya.
"Agar setiap siswa-siswi baru itu memiliki kesiapan mental, mengurangi rasa cemas dan agar dapat mudah menyesuaikan diri dalam mengikuti proses pembelajaran selanjutnya," katanya.
Lebih jauh, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap madrasah, memahami nilai-nilai yang dijunjung sekolah, serta menanamkan kepedulian terhadap nama baik almamater.
"Juga mewujudkan madrasah yang aman, nyaman, dan menyenangkan dengan pendekatan nilai-nilai moderasi beragama, menumbuhkan budaya dan jiwa inklusif, ramah, anti kekerasan, dan bullying, anti pelecehan seksual, dan menghargai harkat martabat kemanusiaan," tegas Ade.
Pada penyelenggaraan tahun ini, MTs Negeri Cimahi juga memperkenalkan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik di luar kegiatan pembelajaran di kelas.
Konsep tersebut mencakup nilai Panca Cinta, yakni cinta kepada Allah (Hablum Minallah/Hubbullah), cinta kepada Rasulullah, cinta kepada ilmu pengetahuan (Hubbul Ilmi), cinta kepada diri sendiri (Hubbunnafs), cinta kepada sesama (Hubbunnas), cinta kepada lingkungan (Hubbul Bi'ah), serta cinta kepada bangsa dan negara (Hubbul Wathan wal Bilad).
Melalui pendekatan tersebut, pihak MtsN Cimahi berharap proses pengenalan lingkungan madrasah tidak berhenti pada aspek administratif semata, tetapi menjadi fondasi awal pembentukan generasi yang beriman, berkarakter, memiliki kepedulian sosial, serta mampu berkembang di tengah tantangan global. (SAT)


Posting Komentar