SURAT KABAR, CIMAHI - Penampilan yang matang, konsep pertunjukan yang kuat, dan keberanian menghadirkan koreografi berkarakter mengantarkan Sanggar Tari Mutiara Cimahi meraih dua penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Sayembara Ceta II (Kebo Iwa) yang digelar di Mayang Sunda, Bandung, pada 8 Juli 2026.
Sanggar asal Kota Cimahi itu berhasil membawa pulang Juara 1 sekaligus penghargaan Koreografer Terbaik, setelah bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Di tengah persaingan yang ketat, Sanggar Tari Mutiara Cimahi tampil mencuri perhatian. Bukan hanya melalui kualitas tari yang ditampilkan, tetapi juga lewat konsep pertunjukan yang berbeda sehingga mampu membangkitkan antusiasme penonton sejak awal hingga akhir penampilan.
Founder sekaligus koreografer Sanggar Tari Mutiara Cimahi, Syntya Marlina mengatakan keunikan konsep menjadi salah satu faktor yang membuat penampilan timnya meninggalkan kesan mendalam.
"Mungkin kita itu berbeda dari yang lain, karena kan kalau yang lain itu mungkin dari konsep, kemudian dari kemasan. Lalu dari koreografi-koreografi juga kita memiliki keunikan. Juga dari penampilan, tapi kalau penampilan lain menurut saya semuanya bagus kok," ujarnya kepada Surat Kabar, Jumat (10/7/2026).
Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian adalah penggunaan properti berupa topeng buta berukuran besar yang langsung menjadi fokus sejak awal pertunjukan.
Properti tersebut tidak sekadar menjadi pelengkap panggung. Topeng berwajah menyeramkan itu menjadi bagian penting dalam membangun alur cerita sekaligus memperkuat atmosfer pertunjukan.
Dipadukan dengan koreografi yang dinamis, kostum yang selaras dengan tema, serta detail gerakan yang disusun secara matang, penampilan Sanggar Tari Mutiara Cimahi menghadirkan karakter yang kuat di atas panggung.
Menurut Syntya, properti tersebut menjadi pembeda yang memperkuat kesan dramatis sekaligus mempertegas karakter pertunjukan. Ia menilai kekuatan penampilan timnya juga terletak pada perpaduan konsep, koreografi, kostum, tata rias, hingga penyusunan keseluruhan pertunjukan menjadi satu kesatuan yang utuh.
Meski berhasil menjadi juara, Syntya menegaskan bahwa kompetisi bukanlah ajang untuk menentukan siapa yang paling hebat. Baginya, setiap peserta memiliki kualitas dan karakter pertunjukan masing-masing.
"Sebenarnya aku enggak bisa menilai dari sisi aku sebagai koreografer. Tapi kalau ditanya apa yang membedakan penampilan kami, mungkin ada di koreografinya, konsep yang kami usung, kemasan tariannya, mulai dari kostum, make up, properti yang digunakan, sampai beberapa aksi dalam koreografi. Mungkin itu yang menjadi pembeda," kata Syntya.
Nyaris Mengundurkan Diri
Di balik keberhasilan tersebut, proses persiapan tidak berjalan mudah. Sanggar Tari Mutiara Cimahi bahkan sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena padatnya jadwal para penari sepanjang Juli.
Para anggota harus membagi waktu antara latihan untuk kompetisi dengan berbagai agenda pertunjukan di luar kota. Kondisi itu membuat waktu istirahat mereka sangat terbatas.
Syntya mengaku sempat khawatir melihat kondisi para penarinya. Namun, ia memilih terus memberikan motivasi agar seluruh tim mampu menyelesaikan perjuangan hingga kompetisi berakhir.
"Sebetulnya di awal kita sempat mau menyerah, mau mengundurkan diri karena melihat jadwal anak-anaknya itu bener-bener padat," kata Syntya.
Ia menjelaskan, selama Juli tim hanya memiliki kesempatan latihan sekitar delapan kali.
"Ya untuk latihan kita maksimal di delapan kali, di bulan ini, di bulan Juli full kita latihan. Kayak gitu sih, jadi tantangan yang paling berat yaitu tadi kita memanage waktu untuk latihannya itu bener-bener padat banget," ungkapnya.
Padatnya aktivitas membuat para penari harus berpindah dari satu latihan ke latihan lainnya hampir tanpa jeda.
"Dari misalnya, jam 1 sampai jam 3 ada latihan event show Tari Sendratari, kemudian jam 3 lanjut ke jam 6 ada latihan event show modern dance, kemudian dari jam 6 misalnya sampai jam 9 malam, 10 malam baru kita ada latihan untuk kompetisi," ungkap Syntya.
Rutinitas tersebut membuat para penari hampir tidak memiliki waktu beristirahat. Bahkan, kondisi itu sempat membuat tim mempertimbangkan kembali keikutsertaan mereka dalam kompetisi.
"Jadi bener-bener anak-anak itu enggak ada untuk istirahat, makanya kita tuh bener-bener mikir-mikir dulu tuh di awal apakah mau dilanjut atau enggak. Tapi demi dan menguatkan anak-anak juga pada akhirnya kita bisa melewati masa proses itu," kata Syntya.
Target Awal Bukan Menjadi Juara
Syntya mengatakan sejak awal target Sanggar Tari Mutiara bukan semata-mata mengejar gelar juara. Mereka hanya ingin mempersembahkan pertunjukan terbaik yang mampu meninggalkan kesan bagi penonton sekaligus menunjukkan eksistensi Sanggar Tari Mutiara dalam dunia tari di Jawa Barat.
Upaya yang dibangun melalui proses panjang tersebut justru berbuah manis dengan raihan gelar tertinggi.
"Dan ya alhamdulillah kita dapat rezeki, dapat bonus bisa menjadi juara satu," ungkap Syntya.
Sambutan penonton dan dewan juri pun menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Sejak awal pertunjukan, salah seorang juri terlihat merekam penampilan mereka, sementara sorakan penonton terus menggema memenuhi ruangan.
Meski mendapat respons yang begitu meriah, Syntya menegaskan timnya tidak pernah merasa menjadi yang paling unggul.
"Kita cuma bertujuan, pengen nampilin yang terbaik yang bisa ngasih kesan pada orang lain, kepada penonton. Tujuan awal kita kan gitu, tapi alhamdulillah ternyata kita bisa jadi juara," tuturnya.
Tak hanya meraih Juara 1, Syntya juga dinobatkan sebagai Koreografer Terbaik dalam ajang tersebut. Penghargaan itu, menurutnya, menjadi pencapaian yang sama sekali tidak diduga.
"Kalau yang menjadi kebanggaan, selain kita mendapat juara satu, kita pun juga dapat juara koreograf- koreografer terbaik yang enggak disangka-sangka juga. Bisa dapat juara koreografer terbaik se-Jawa Barat di ajang Sayembara Cetak II Kebo Iwa ini," kata Syntya.
Terus Bawa Nama Cimahi Lewat Seni Tradisi
Ke depan, Sanggar Tari Mutiara berkomitmen terus membawa nama baik Kota Cimahi, Jawa Barat, hingga Indonesia melalui pelestarian seni tari tradisional.
Menurut Syntya, kompetisi hanyalah salah satu ruang berkarya. Sanggar Tari Mutiara juga aktif mengisi berbagai pertunjukan dan kegiatan seni sebagai wadah bagi para penari muda untuk terus berkembang.
"Harapan kita, Sanggar Tari untuk kedepannya pasti mengharumkan nama kota, kemudian mengharumkan Jawa Barat dan mengharumkan Indonesia tentunya. Karena kita ini enggak pernah berhenti dalam melestarikan seni tradisi karena kita itu selalu ada pagelaran, selalu ada perform, show tradisional," kata Syntya.
Ia menambahkan, sanggar yang dipimpinnya tidak hanya fokus mengikuti kompetisi, tetapi juga terus membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, tampil, dan berkembang melalui berbagai pertunjukan.
"Jadi, enggak hanya dalam kompetisi aja, tapi kita pun juga bergerak di event-event, show, menjadi wadah untuk anak-anak bisa tampil, berkembang, dan tumbuh bersama," ujar Syntya.
Menurutnya, pengalaman tampil di atas panggung, baik dalam kompetisi maupun pertunjukan seni, sama pentingnya dalam membentuk kemampuan dan karakter para penari.
"Selain membangun mental sebagai penari di ajang kompetisi ataupun di ajang event show," tandas Syntya. (SAT)


Posting Komentar