![]() |
| Dialog Jiwa: “Aku, Nafsu, dan Ruh yang Terluka” (Doc. Istimewa) |
SURAT KABAR - Tempat: Sebuah ruang batin yang sunyi.
> Waktu: Setelah maksiat, menjelang malam yang sepi.
> Hanya ada dua suara: nafsu yang membujuk, dan ruh yang menangis.
NAFS:
Mengapa kau menangis, wahai ruh?
Bukankah dia sudah merasakan nikmat yang lama kau impikan?
Kenapa masih kau ratapi sentuhan yang telah terjadi?
RUH:
Karena setiap sentuhan haram adalah luka di tubuhku.
Karena kenikmatanmu hanyalah racun yang ku telan dalam diam.
Aku merintih bukan karena dia jatuh,
tapi karena dia tak mau bangkit.
NAFS:
Ah, jangan terlalu keras.
Dunia ini fana, tubuh hanya ingin bahagia sebentar.
Tuhan itu Maha Pengampun, nanti juga dimaafkan.
Nikmati dulu, taubat belakangan.
RUH:
Dan bagaimana jika "belakangan" tak pernah datang?
Bagaimana jika ajal mencabut nyawa saat aroma maksiat masih melekat?
Apakah kau akan ikut menemaninya saat kubur menanyakan jejakmu?
NAFS:
Tapi dia lelah…
Kesepian, hampa, rindu akan cinta dan hangatnya pelukan.
Zina itu bukan nafsu semata — itu pelarian dari luka.
RUH:
Luka tidak akan sembuh jika disiram dosa.
Pelarian dari sepi hanya menjerumuskannya ke gelap yang lebih dalam.
Cinta tidak lahir dari syahwat,
Cinta lahir saat ia kembali memeluk Tuhan.
NAFS:
Kau begitu suci, ruh… Tapi dunia ini penuh goda.
Tak semua orang mampu hidup sepertimu.
Bukankah Tuhan menciptakan syahwat juga?
RUH :
Ya, tapi juga menciptakan kehormatan.
Ia diberi pilihan: menjadi pecandu tubuh, atau penempuh jalan pulang.
Dan aku menangis… karena dia lupa rumahnya adalah cahaya.
Bukan kasur yang gelap tanpa ridha.
NAFS (terdiam)
Lalu… apa yang harus ia lakukan sekarang?
RUH (berbisik) :
Menangis...
Lalu sujud...
Lalu berkata lirih dalam malam,
"Ya Allah… aku kotor. Tapi aku ingin pulang."
Penutup Narasi :
> Setiap ruh tahu jalan pulang.
> Tapi selama nafs masih berbicara lebih nyaring,
> Langit akan menunggu,
> Dengan sabar...
> Tapi juga dengan hitung yang tak pernah salah.
By. H. Budi Ali hidayat
Kasie Bimas Islam Kemenag Cimahi
Penulis Buku Neo Sufi ; Regulasi Emosi & Protokol Alam Semesta


Posting Komentar