SURAT KABAR, BANDUNG – Di tengah tren perjalanan yang kini banyak dibagikan melalui media sosial, Sidik Permana (43) memilih cara berbeda untuk mengenal Indonesia. Pemuda asal Kota Bandung itu menempuh ribuan kilometer menggunakan sepeda motor, melintasi berbagai pulau hingga mencapai Pulau Miangas, salah satu titik terluar Indonesia di perbatasan Filipina.
Bagi Sidik, sepeda motor bukan sekadar alat transportasi. Kendaraan roda dua menjadi sarana untuk melihat langsung wajah Indonesia yang selama ini hanya dikenalnya melalui buku, televisi, maupun cerita orang lain.
Sidik mengaku dirinya bukan seorang petualang profesional ataupun fotografer perjalanan. Ia hanya seorang pemuda biasa yang memiliki keinginan sederhana, yakni menyaksikan keberagaman Nusantara dengan mata kepala sendiri.
Perjalanan panjang tersebut berawal pada pertengahan 2019 saat ia bergabung dengan Bandung NMAX Community. Bersama komunitas itu, Sidik rutin mengikuti berbagai agenda touring ke sejumlah daerah di Pulau Jawa.
Namun, perjalanan dengan rute yang relatif sama justru memunculkan rasa penasaran yang semakin besar. Ia mulai bertanya-tanya tentang kehidupan masyarakat di luar Pulau Jawa, bentang alam yang belum pernah disaksikan, hingga keberagaman budaya yang selama ini hanya ia kenal dari berbagai cerita.
Keinginan itu akhirnya diwujudkan pada akhir 2020. Dengan perlengkapan sederhana dan tekad yang kuat, Sidik memulai perjalanan pertamanya menuju Pulau Sumatra menggunakan sepeda motor.
"Bagi saya saat itu, yang dibawa bukan hanya perlengkapan perjalanan, tetapi juga rasa penasaran tentang negeri yang selama ini hanya saya kenal lewat buku, televisi, dan cerita orang lain," ujar Sidik saat ditemui di kediamannya di Gedebage, Jum'at (17/7/2026).
Perjalanan menuju Sumatra menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap Indonesia. Menurutnya, negeri ini jauh lebih luas, beragam, dan kaya dibandingkan gambaran yang selama ini diperoleh dari berbagai media.
Di setiap daerah yang ia singgahi, Sidik menemukan perbedaan bahasa, budaya, hingga kebiasaan masyarakat. Meski demikian, ada satu hal yang selalu ia rasakan di sepanjang perjalanan, yakni keramahan warga yang menyambutnya dengan hangat.
"Mengapa aku memilih menjelajah Indonesia dengan sepeda motor, bukan dengan cara lain?" kata Sidik, mengenang pertanyaan yang pernah ia ajukan kepada dirinya sendiri saat memulai perjalanan itu.
Setelah menuntaskan ekspedisi di Pulau Sumatra, Sidik melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kalimantan. Jalan panjang yang membelah kawasan hutan hingga wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia memberikan pengalaman berbeda sekaligus pelajaran hidup yang menurutnya sulit ditemukan di tempat lain.
Semangat untuk terus mengenal Indonesia kemudian membawanya menjelajahi kawasan timur Nusantara. Dengan sepeda motor, ia melintasi Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Kupang di Pulau Timor. Bahkan, perjalanan tersebut sempat membawanya menyeberang ke negara tetangga, Timor Leste.
Berdiri di wilayah negara lain justru membuat rasa cintanya terhadap Indonesia semakin kuat. Dari kawasan perbatasan itu, Sidik menyadari betapa luas dan besarnya wilayah Nusantara yang dimiliki Indonesia.
Di antara seluruh perjalanan yang telah dijalani, pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat mengelilingi Pulau Sulawesi selama 43 hari.
Perjalanan tersebut bukan sekadar touring jarak jauh. Sidik membawa misi khusus untuk mencapai Pulau Miangas, salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina.
"Tantangan medan, dari aspal mulus yang memanjakan mata hingga jalanan rusak yang menguji ketahanan fisik dan mesin. Ujian cuaca, berjemur di bawah terik matahari yang menyengat, lalu seketika harus menerobos badai hujan lebat," ungkapnya.
Berbagai tantangan itu, menurut Sidik, seolah terbayar lunas ketika bertemu masyarakat di sepanjang perjalanan. Berkali-kali ia mendapat sambutan hangat dari orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.
Keramahan warga, sapaan sederhana, hingga bantuan yang diberikan tanpa pamrih menjadi kenangan yang paling membekas dibandingkan ribuan kilometer perjalanan yang telah ditempuh.
Kini, bagi Sidik, makna sebuah perjalanan tidak lagi diukur dari seberapa jauh roda motornya berputar ataupun berapa banyak destinasi wisata yang berhasil dikunjungi.
"Perjalanan ini adalah cara bagiku untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Menemukan diri sendiri di antara keberagaman yang menyatukan kita," kata Sidik.
Ia meyakini perjalanan tersebut belum berakhir. Masih banyak daerah yang belum sempat disinggahi, jalan-jalan yang belum pernah dilalui, hingga kisah masyarakat lokal yang menurutnya layak didengar dan dikenalkan kepada lebih banyak orang.
Bagi Sidik, Indonesia bukan hanya sebatas wilayah yang tergambar di peta, melainkan ruang belajar yang selalu menghadirkan pengalaman baru dalam setiap perjalanan.
"Indonesia bukan sekadar tempat tinggal di peta dunia, bagi saya adalah ruang belajar tanpa batas yang terus dijelajahi di atas dua roda," tutup Sidik. (SAT)


Posting Komentar