![]() |
| Dialog Jiwa: “Pasar Jabatan Wali” (Doc: Istimewa) |
SURAT KABAR - Di sebuah alam antara mimpi dan tafakur…
ada pasar aneh bernama:
> Sūq al-Wilāyah — Pasar Jabatan Para Wali
Di sana bukan jual kambing.
Bukan jual tanah.
Tapi… ada yang sibuk “menjual maqom”.
Di sudut pasar duduk dua orang:
seorang Wali Majdzub — rambut acak-acakan, tertawa sendiri sambil makan singkong rebus.
seorang Wali Mulamātiyah — tenang, sorban rapi, matanya teduh seperti Subuh sebelum adzan.
MAJDZUB :
“Wahai saudaraku… lihat itu!”
(sambil menunjuk keramaian)
“Itu orang jual apa?”
MULAMĀTIYAH :
“Itu?
Ada yang jual karomah.
Ada yang jual sanad.
Ada yang jual gelar ‘Abah’, ‘Habib’, ‘Kyai Haji, Mursyid Internasional’. Ada yg jual beli Turunan, dan Maqom2 keramat.
MAJDZUB :
(astaghfirulloh sambil ngakak)
“HAHAA!
Ada diskon nggak?”
MULAMĀTIYAH :
“Ada.
Beli satu jabatan… bonus seribu pengikut.”
MAJDZUB:
“Terus bayarnya pakai apa?”
MULAMĀTIYAH :
“hapalkan dalil, perbagus pidatonya, buat narasi dan framing fitnah para ulama, kyai, ustad, tokoh agama yg jujur, dekatin Pejabat Pengaruh, Pakai identitas gelar2, dan hilangkan rasa ikhlas, yg penting amplop.
Majdzub terdiam.
Lalu tertawa lagi sampai burung-burung beterbangan. Karena pengaruh Kharisma Kewalian
MAJDZUB :
“Kalau begitu aku bangkrut dari dulu!”
“Aku cuma punya sandal putus dan hati yang bocor.”
MULAMĀTIYAH :
“Itulah sebabnya engkau kaya.”
MAJDZUB :
“Eh tapi serius…
kenapa manusia suka beli jabatan wali ?”
MULAMĀTIYAH :
“Karena mereka takut menjadi hamba biasa, takut ditinggalkan jemaah, takut kehilangan JOB. takut TDK ada yang khidmat, takut kehilangan pengaruh sebagai Ustad atau Kyai
Mazdub : “Padahal…”
MULAMĀTIYAH :
“Padahal para wali sejati justru takut disebut wali.”
Nada bicaranya membuat Angin ruhani lewat perlahan.
Lampu pasar bergoyang. Petir kayak mau hujan
Di kejauhan terdengar orang berteriak:
> “SIAPA MAU IJAZAH CEPAT JADI WALI ?
> BONUS FOTO BERSAMA !”
Majdzub jatuh terguling sambil tertawa.
MAJDZUB :
“Dulu para wali jual diri kepada Alloh…
Sekarang manusia jual Alloh untuk dirinya, menjual agama.”
Mulamātiyah menunduk.
Air matanya jatuh perlahan.
MULAMĀTIYAH :
“Yang paling menyedihkan…
bukan orang yang ditipu.”
MAJDZUB :
Tapi ?
MULAMĀTIYAH :
“Orang yang menipu/tertipu dirinya sendiri, Gonta ganti topeng wajah, lalu merasa diri sudah sampai kepada Tuhan. Sudah bermakrifat, hasil kekayaan dari hasil menjilat,
Keadaan menjadi Sunyi.
Lalu Majdzub berdiri di tengah pasar dan berteriak:
“WAHAI MANUSIA ! JANGAN CARI SIAPA YANG PALING TERKENAL! CARI SIAPA YANG PALING TAKUT KEPADA ALLOH!”
Pasar mendadak hening.
Satu per satu lampu padam.
Tersisa dua wali itu…
dan suara dzikir dari langit:
*“Ikhlas… ikhlas… ikhlas…”
Hikmah Penutup
“Jabatan ruhani tidak pernah dibeli oleh manusia. Ia diberikan Alloh kepada hati yang hancur, tersembunyi, dan tidak merasa memiliki apa-apa.”
By. Budi Ahida
Kasie Bimas Islam Kemenag Cimahi
Penulis Buku Neo Sufi ; Regulasi Emosi & Protokol Alam Semesta


Posting Komentar