![]() |
| Dewan Penasehat LSM GBR Kota Cimahi, Yusuf Boy (Doc. Istimewa) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Isu dugaan monopoli proyek oleh sejumlah asosiasi jasa konstruksi di Kota Cimahi menuai tanggapan. Dewan Penasehat LSM GBR Kota Cimahi, Yusuf Boy, menilai tudingan tersebut tidak tepat dan tidak mencerminkan kondisi di lapangan.
Menurut Yusuf, asosiasi seperti Gapensi, Gapeksindo, dan Gapeknas justru berperan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan. Ia menduga pernyataan yang memicu isu tersebut datang dari pihak yang kurang memahami situasi di Kota Cimahi.
“Menurut pandangan saya sebagai orang Cimahi, peran asosiasi yang ada di Kota Cimahi sudah sangat bagus, mereka menjadi mitra strategis pemerintah,” kata Yusuf saat memberikan keterangan, Jumat, 17 April 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan asosiasi memiliki fungsi penting dalam menjaga iklim usaha tetap kondusif. Selain itu, asosiasi dinilai mampu mendorong persaingan yang sehat antar pelaku usaha serta meningkatkan kesadaran hukum di sektor jasa konstruksi.
Dalam hal pengadaan langsung, Yusuf merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2025 yang mengatur batas maksimal nilai proyek hingga Rp400 juta. Ia menilai, keterlibatan asosiasi dalam mendorong anggotanya untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek tersebut merupakan hal yang wajar.
“Menurut saya itu sah-sah saja apabila asosiasi mendorong pelaku usaha jasa konstruksi yang tergabung dalam asosiasi mereka,” ujarnya.
Yusuf juga menekankan pentingnya peran asosiasi dalam memberdayakan pengusaha lokal. Ia mengaku tidak menemukan indikasi monopoli proyek di Kota Cimahi. Sebaliknya, ia melihat distribusi pekerjaan justru lebih merata sesuai kapasitas masing-masing pelaku usaha.
“Justru saya akan merasa aneh kalau untuk pengadaan langsung di bawah 400 juta dikerjakan atau didapat oleh pengusaha di luar Cimahi,” katanya.
Adapun untuk proyek dengan nilai di atas Rp400 juta, pemerintah menggunakan mekanisme E-KATALOG V-6 dengan metode mini kompetisi. Yusuf menyebut sistem tersebut terbuka bagi semua pelaku usaha, tidak terbatas pada perusahaan lokal.
“Metode pemilihan ini terbuka untuk umum tidak hanya untuk pengusaha lokal, dan selama ini dijalankan. Justru saya melihat pengusaha Cimahi ini hanya sedikit yang bisa mendapatkan, ini harus menjadi PR asosiasi kenapa pengusaha-pengusaha lokal bisa kalah di dalam metode pemilihan ini,” ucap dia.
Yusuf menyatakan dukungannya terhadap langkah asosiasi yang terus berupaya meningkatkan kualitas pelaku usaha konstruksi di Kota Cimahi. Ia menilai, peningkatan kapasitas ini penting agar pelaku usaha lokal mampu bersaing secara sehat.
“Saya memberikan dukungan moril untuk asosiasi-asosiasi yang ada di Kota Cimahi, terus melangkah jangan takut, terus perjuangkan pengusaha-pengusaha lokal yang ada di Cimahi jangan sampai kalah bersaing dengan pengusaha luar,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusivitas kota. Ia mengingatkan agar kepentingan segelintir pihak tidak mengganggu stabilitas daerah.
“Jangan sampai hanya karena kepentingan segelintir orang kota ini menjadi tidak kondusif yang rugi kita semua. Orang luar tidak akan merasakannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yusuf juga mendorong kepada masyarakat Kota Cimahi untuk aktif mengawasi jalannya pemerintahan.
“Kita awasi bersama-sama pemerintahan, kalau ada yang keliru kita ingatkan dan luruskan, supaya tidak terjadi lagi seperti kejadian yang sebelum-sebelumnya,” tutupnya. (SAT)


Posting Komentar