![]() |
| Percakapan antara Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan (Doc. Istimewa) |
Percakapan antara Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan
SURAT KABAR - Di suatu ruang yang tidak terikat oleh waktu, tiga sosok duduk mengelilingi sebuah meja cahaya: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan. Mereka sedang membicarakan sebuah keluarga yang mendambakan sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Masa Lalu berkata:
Aku menyimpan ribuan kenangan mereka. Aku melihat saat mereka saling jatuh cinta, saat akad terucap, saat anak pertama lahir, dan saat tawa memenuhi rumah mereka.
Tetapi aku juga menyimpan pertengkaran, kekecewaan, air mata, dan kata-kata yang melukai.
Sayangnya, banyak keluarga menjadikanku penjara. Mereka terus menghidupkan luka yang sudah berlalu.
Masa Kini tersenyum dan menjawab:
Benar. Banyak pasangan datang kepadaku membawa koper berisi kesalahan masa lalu.
Mereka lupa bahwa aku adalah satu-satunya tempat di mana cinta dapat dipraktikkan.
Bukan kemarin.
Bukan besok.
"Hanya sekarang".
Masa Depan mengangguk perlahan.
Dan banyak pula yang terlalu sibuk mengejar ku.
Mereka berkata: Nanti kalau kaya kita bahagia.'
Nanti kalau rumah besar kita tenang.' Nanti kalau anak-anak sukses kita damai.'
Padahal aku belum tentu datang seperti yang mereka bayangkan."
Masa Lalu menatap keduanya.
"Lalu apa rahasia keluarga sakinah?"
Masa Kini menjawab:
Keluarga sakinah bukan keluarga tanpa masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang memilih kasih sayang lebih besar daripada ego, setiap hari."
Masa Depan menambahkan:
Keluarga sakinah tidak dibangun dengan menunggu keadaan sempurna. Ia dibangun dari doa-doa sederhana, pelukan yang tulus, maaf yang ikhlas, dan kesediaan untuk tumbuh bersama.
Masa Lalu kemudian berkata:
Kalau begitu, biarkan aku menjadi guru, bukan hakim. Biarkan kesalahan menjadi pelajaran, bukan tuduhan.
Masa Kini berkata:
Biarkan aku menjadi tempat syukur.
Karena rumah yang dipenuhi syukur akan terasa lapang meski sederhana."
Masa Depan berkata:
Dan biarkan aku menjadi harapan. Bukan kecemasan."
Ketiganya lalu berdiri dan memandang sebuah rumah kecil di kejauhan. Di dalamnya tidak ada kemewahan. Tidak ada kesempurnaan. Namun ada seorang suami yang berusaha memahami.
Ada seorang istri yang berusaha memaafkan.
Ada anak-anak yang belajar menghormati. Ada doa yang tak pernah putus.
Maka Masa Lalu berbisik:
Mereka belajar
Masa Kini tersenyum:
Mereka mencintai
Dan Masa Depan berkata:
Mereka sedang membangun surga, sedikit demi sedikit
Renungan
👉Jangan hidup di masa lalu hingga kehilangan syukur hari ini. Ingatlah! masa lalu sedang sujud kepada Alloh Rabbul alamin
👉Jangan hidup di masa depan hingga lupa mencintai hari ini. Ingatlah! masa depan sedang sujud kepada Alloh Rabbul alamin
👉Karena keluarga sakinah lahir ketika kenangan menjadi pelajaran, hari ini menjadi ladang syukur dan amal, dan masa depan menjadi tempat berharap kepada keridloan Alloh dan Rasul Nya.


Posting Komentar