SURAT KABAR, BANDUNG - Kasus meninggalnya seorang siswa SMPN 26 di Bandung yang ditemukan di kawasan eks Kampung Gajah, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (12/2/2026), memicu keprihatinan luas. Peristiwa ini diduga berkaitan dengan praktik perundungan yang telah berlangsung lama dan berujung pada tindak kekerasan fatal.
Korban berinisial ZAAQ sebelumnya dilaporkan hilang sejak Senin, 9 Februari 2026, sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Aparat kepolisian telah menangkap terduga pelaku di Kabupaten Garut dan saat ini masih mendalami motif serta rangkaian kejadian.
Merespons tragedi tersebut, Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk memerangi perundungan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memerintahkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) serta Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk memberikan perlindungan terhadap keluarga korban guna mencegah stigmatisasi.
“Perundungan dalam bentuk apa pun tidak dapat ditoleransi. Ini adalah tanggung jawab bersama orang tua, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk memastikan anak-anak kita terlindungi,” tegas Farhan.
Kepala DP3A Kota Bandung, Uum Sumiati, menyatakan pihaknya akan terus memantau kondisi keluarga korban dan menyiapkan pendampingan psikologis apabila diperlukan.
Sementara itu, tim psikologi dari PT Martasandy Psychology Indonesia Vionabilla Azalea Callysta Sasha Syadina menjelaskan turut menyoroti pentingnya melihat kasus ini dari perspektif kesehatan mental remaja.
Menururnya, kasus bunuh diri atau kekerasan fatal pada remaja umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal.
“Biasanya ada akumulasi tekanan. Bisa dari beban akademik, masalah pertemanan, perundungan, konflik keluarga, sampai kondisi psikologis seperti depresi yang tidak terdeteksi,” ujarnya.
Menurutnya, masa remaja merupakan fase perkembangan yang sangat sensitif. Remaja sedang mencari jati diri dengan kondisi emosi yang fluktuatif dan kebutuhan besar untuk diterima lingkungan. Ketika mereka merasa sendirian, tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, atau merasa menjadi beban, tekanan tersebut dapat terasa sangat berat.
“Ini harus dilihat sebagai persoalan kesehatan mental, bukan sekadar dianggap kurang kuat atau tidak tahan banting,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kondisi internal keluarga sangat memengaruhi emosi remaja. Pola komunikasi di rumah, cara orang tua merespons kegagalan, serta kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain dapat membentuk konsep diri remaja.
“Tekanan eksternal saat ini sudah sangat besar, media sosial, tuntutan akademik, perbandingan sosial. Kalau di rumah anak tidak merasa aman secara emosional atau tidak didengar, dampaknya bisa signifikan terhadap kesehatan mentalnya,” jelasnya.
Direktur PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, menambahkan bahwa kasus seperti ini seharusnya menjadi evaluasi sistemik, terutama jika di sekolah yang sama pernah terjadi kasus serupa.
“Layanan konseling di sekolah harus benar-benar aktif dan mudah diakses, bukan sekadar formalitas administratif. Guru dan wali kelas juga perlu dibekali kemampuan mengenali tanda perubahan perilaku siswa,” ujarnya.
Ia juga menolak anggapan bahwa generasi saat ini lemah mental. Menurutnya, remaja masa kini menghadapi tekanan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
“Remaja tidak tiba-tiba menjadi rapuh. Biasanya ada proses panjang dari tekanan yang tidak tersampaikan atau tidak tertangani. Ini refleksi bagi kita semua bahwa kesehatan mental bukan isu sepele,” kata Billy.
Para psikolog menilai, pencegahan perundungan tidak cukup hanya dengan respons saat kasus mencuat. Diperlukan edukasi kesehatan mental secara konsisten, sistem deteksi dini di sekolah, serta kolaborasi erat antara pemerintah, sekolah, dan keluarga.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa satu figur dewasa yang mau mendengar tanpa menghakimi bisa membuat perbedaan besar dalam hidup seorang remaja. Ruang aman, empati, dan komunikasi terbuka dinilai sebagai kunci utama agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar