Iklan

Kolaborasi Pendidikan dan Industri, Harris & Pop! Hotel Cetak SDM Muda Siap Kerja

Posting Komentar
Salah Seorang Siswi SMKN 3 Cimahi saat Sedang PKL di Salah Satu Hotel

SURAT KABAR, CIMAHI - Siapa yang terlibat, apa programnya, di mana dilaksanakan, kapan dimulai, mengapa penting, dan bagaimana dampaknya. Pertanyaan itu menjadi dasar lahirnya Program Kelas Industri di SMK Negeri 3 Cimahi, sebuah kolaborasi strategis antara dunia pendidikan dan industri perhotelan bersama Harris & Pop! Hotel Festival Citylink Bandung.

Program ini hadir sebagai jawaban atas persoalan klasik pendidikan vokasi di Indonesia, lulusan yang banyak, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi realitas dunia kerja yang kian kompetitif dan berstandar tinggi. 

Di Cimahi, kebutuhan akan sumber daya manusia terampil, berkarakter, dan siap pakai menjadi isu mendesak seiring pertumbuhan sektor jasa dan pariwisata di kawasan Bandung Raya.

Salah Seorang Siswi SMKN 3 Cimahi saat Sedang PKL di Salah Satu Hotel

Melalui Kelas Industri, SMKN 3 Cimahi tidak sekadar menyiapkan siswa untuk lulus, tetapi membekali mereka dengan kompetensi teknis, etos kerja, hingga kesiapan mental agar mampu beradaptasi sejak dini dengan budaya industri, khususnya di bidang hospitality yang menuntut disiplin dan pelayanan prima.

Kolaborasi dengan Harris & Pop! Hotel Festival Citylink Bandung menjadi langkah konkret penyelarasan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). 

Program ini dirancang jangka panjang, terstruktur, dan berkelanjutan, tidak berhenti pada praktik kerja semata, tetapi menyentuh proses pembentukan karakter siswa sejak masih duduk di bangku sekolah.

Para Siswa-Siswi SMKN 3 Cimahi saat Sedang PKL di Salah Satu Hotel

Perwakilan Harris & Pop! Hotel Festival Citylink Bandung, Ismail Fajar Septiana menegaskan bahwa Kelas Industri bukan program insidental. Kolaborasi ini telah memiliki legitimasi kebijakan dari Dinas Pendidikan, sehingga pelaksanaannya berjalan dengan arah dan tujuan yang jelas.

"Pada dasarnya kita punya kolaborasi yang memang bisa dibilang hal yang dilegitimasi kan lah dari sisi Dinas Pendidikannya juga gitu, dan ini programnya namanya Kelas Industri,” ujar Ismail kepada Surat Kabar, Kamis (12/2/26).

Perwakilan Harris & Pop! Hotel Festival Citylink Bandung, Ismail Fajar Septiana

Menurut Ismail, program ini berangkat dari keprihatinan industri terhadap masih lebarnya jarak antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan riil di lapangan kerja. Banyak lulusan memiliki dasar teori, tetapi belum sepenuhnya memahami ritme kerja, standar profesional, dan tuntutan mental saat masuk dunia industri.

“Tujuannya sih sebenarnya untuk bisa mencapai apa yang seharusnya vokasi itu cetak, yaitu sumber daya manusia yang siap pakai atau siap guna,” katanya.

Ismail menekankan bahwa istilah 'siap pakai' tidak boleh dimaknai secara sempit. Siswa tidak serta-merta dijadikan pekerja sejak dini, melainkan dipersiapkan melalui pemahaman, pembiasaan, serta pembentukan etos kerja yang sesuai standar industri.

Hidangan Siswa-Siswi SMKN 3 Cimahi saat PKL

“Betul sekali gitu. Kalau kita istilahnya antara siap pakai dan siap guna untuk di dunia kerja,” tegasnya.

Lebih jauh, Ismail menilai bahwa Kelas Industri tetap berpijak pada tujuan besar pendidikan nasional. Selain mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan vokasi harus mampu mengarahkan siswa sesuai potensi, minat, dan bakat yang dimiliki, bukan semata memenuhi kebutuhan pasar kerja.

“Karena tujuannya ya balik lagi ya, mencerdaskan kehidupan bangsa dan yang sudah pasti juga adalah memberikan mereka kompetensi sesuai dengan minat si anak-anaknya sendiri,” sambungnya.

Ismail menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar lulusan SMK saat ini bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi kesiapan mental dan karakter ketika menghadapi lingkungan kerja yang sesungguhnya. 

Dunia industri memiliki ritme cepat, tekanan tinggi, dan standar disiplin yang ketat, sesuatu yang kerap menimbulkan culture shock bagi lulusan baru.

"Nah, supaya apa? Nanti mereka itu tidak mengalami culture shock dan lain sebagainya. Tapi yang paling penting adalah prosesnya sendiri,” ujarnya.

Karena itu, dalam Kelas Industri, pembentukan karakter ditempatkan sebagai fondasi utama. Industri perhotelan, menurut Ismail, membutuhkan sumber daya manusia yang disiplin, memiliki etika kerja kuat, mampu bekerja dalam tim, dan berorientasi pada pelayanan.

“Nah, di proses ini kita berfokus terhadap sumber daya manusia yang punya tingkat disiplin dan juga punya karakter yang memang harus dibentuk sesuai dengan karakter orang-orang yang bekerja di dunia hospitality, terutama di perhotelan,” jelasnya.

Siswa-Siswi SMKN 3 Cimahi saat Sedang PKL di Salah Satu Hotel

Namun, Ismail juga menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah dan industri. Peran orang tua menjadi faktor krusial dalam menjaga konsistensi sikap, komitmen, dan motivasi siswa selama mengikuti Kelas Industri.

"Betul, karena tanpa adanya dukungan orang tua, saya rasa industri dan juga pihak sekolah tidak akan bisa memaksimalkan potensi anak-anak yang nantinya akan berada di industri,” tegasnya.

Tantangan pembinaan karakter siswa saat ini, lanjut Ismail, semakin kompleks di tengah derasnya arus media sosial dan perkembangan teknologi. Generasi Z dan Generasi Alfa tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat cepat, namun tidak selalu selaras dengan proses pembentukan karakter dan kedisiplinan.

“Dikarenakan banyak pengaruh-pengaruh di luaran sana, terutama dari sisi sosial media atau teknologi yang bisa membawa mereka ke hal-hal yang sebenarnya tidak bisa memunculkan potensi mereka sendiri,” ungkapnya.

Situasi tersebut menuntut sinergi yang lebih kuat antara sekolah, industri, dan keluarga. Melalui komunikasi intens, pendampingan berkelanjutan, serta pertemuan rutin, ketiga unsur ini diharapkan mampu menjaga fokus siswa agar tidak terjebak pada distraksi yang justru menghambat pengembangan diri.

Karena itu, Kelas Industri diposisikan bukan sekadar program tambahan, melainkan sebuah ekosistem pembelajaran yang menjembatani dunia pendidikan dan dunia kerja. 

Dengan pendekatan yang diterapkan bersama SMKN 3 Cimahi, Ismail optimistis program ini mampu menjawab tantangan masa depan pendidikan vokasi.

"Saya rasa bisa untuk menjawab tantangan yang nanti anak-anak ini akan hadapi di masa depan,” kata Ismail menutup.

Kolaborasi ini menjadi sinyal bahwa pendidikan vokasi tidak bisa berjalan sendiri. Ketika sekolah, industri, dan orang tua bergerak dalam satu visi, maka peluang melahirkan lulusan SMK yang kompeten, berkarakter, dan siap kerja bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang mulai terjawab dari Cimahi. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar