SURAT KABAR, CIMAHI - Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi merangkai kegiatan akademik dan kebangsaan menjelang Ramadan melalui sejumlah agenda yang menekankan nilai keteladanan, keberlanjutan, dan pembentukan karakter mahasiswa.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya ditandai peresmian Patung Jenderal Ahmad Yani, tetapi juga diwujudkan melalui aksi simbolik yang merepresentasikan komitmen jangka panjang kampus, seperti penanaman pohon, peletakan batu pertama, serta penebaran benih ikan.
Rektor Unjani Prof. Dr. Agus Subagyo mengatakan, kegiatan hari itu pada dasarnya merupakan agenda munggahan yang kemudian dirangkai dengan sejumlah aktivitas bermakna. Salah satu agenda yang menjadi penanda utama adalah peresmian Patung Jenderal Ahmad Yani yang dilaksanakan sejak pagi.
"Kegiatan hari ini sebenarnya yang utama itu memang munggahan. Nah, kita barengi, kita awali dulu dari jam 8 pagi itu adalah pertama itu adalah peresmian patung Jenderal Ahmad Yani," jelasnya saat diwawancarai usai peresmian, Kamis (11/2/26).
Menurut Agus, penggunaan nama besar Jenderal Ahmad Yani sebagai identitas universitas membawa konsekuensi nilai yang harus terus dihidupkan.
Karena itu, pendirian patung tersebut dimaknai sebagai upaya menjaga ingatan kolektif atas jasa Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi, sekaligus menanamkan nilai keteladanan kepada sivitas akademika.
Ia menjelaskan, nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada simbol fisik. Unjani, kata Agus, secara sistematis memasukkan keteladanan Jenderal Ahmad Yani ke dalam kurikulum melalui mata kuliah wajib universitas.
"Sekaligus juga kita di Unjani itu ada mata kuliah, ada mata kuliah Ke-Ahmad-Yani-an gitu. Di Unjani itu ada MKWN, ada MKWU. Kalau MKWN wajib nasional ada Pancasila, kewarganegaraan, ada MKWU wajib universitas," bebernya.
Mata kuliah tersebut, lanjut dia, menjadi pembeda Unjani dengan perguruan tinggi lain.
"Wajib universitas tuh salah satunya adalah mata kuliah Ke-Ahmad-Yani-an, kalau di Muhammadiyah mungkin Ke-Muhammadiyah-an lah gitu. Kalau di Unjani ada Ke-Ahmad-Yani-an dan LDKK, Latihan Dasar Kedisiplinan dan Kepemimpinan," tegas Prof. Agus.
Dalam konteks itu, berbagai aksi simbolik seperti penanaman pohon, peletakan batu, dan penebaran benih ikan dipandang sebagai representasi konkret dari nilai yang ditanamkan kampus,btentang keberlanjutan, keteguhan, dan kehidupan yang terus tumbuh.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan visi Unjani dalam mencetak lulusan berkarakter kuat, sebagaimana tercermin dalam slogan Smart Military University.
"Karena di Unjani kita pengen sesuai slogan Unjani 'Smart Military University', disiplin, loyal, dan santun. Artinya para mahasiswa yang lulus itu mereka memiliki ciri khas atau karakter disiplin," imbuhnya.
Agus menilai kecerdasan akademik semata tidak cukup tanpa disiplin dalam praktik kerja.
"Pinter tapi kalau nggak disiplin pasti tidak disukai di kantornya, oleh atasannya, oleh bawahannya dan sebagainya. Kemudian yang kedua selain disiplin, loyal," kata Prof. Agus.
Ia menambahkan, loyalitas menjadi nilai penting yang kerap menentukan keberhasilan seseorang di dunia profesional.
"Jadi di dunia kerja itu juga dibutuhkan loyalitas, bahkan kadang-kadang di beberapa negara itu loyalitas yang utama dibandingkan kepintaran. Yang terakhir itu santun," cetusnya.
Selain disiplin dan loyalitas, Unjani juga menekankan pentingnya sikap santun sebagai fondasi relasi sosial dan profesional.
"Artinya kita harus di dunia kerja para mahasiswa kita harus santun. Salam, sapa, sopan, santun, simpati, senyum, sapa, salam dan sebagainya itu kita inikan agar supaya mereka sukses di tempat kerjanya masing-masing," kata Prof. Agus.
Nilai-nilai tersebut, menurut dia, menjadi bekal pembeda lulusan Unjani agar mampu bersaing dan beradaptasi di dunia kerja.
"Itu bekal yang kita inikan yang mungkin bisa membedakan kita dengan lulusan yang lainnya karena kita harus disiplin, loyal dan santun selain mereka pinter dan kompeten di prodinya atau sesuai prodinya masing-masing," ujarnya menutup. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar