SURAT KABAR, BANDUNG - Kota Bandung menghadapi tantangan serius dalam isu kesehatan mental, khususnya di kalangan pelajar. Hasil survei kesehatan mental yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bandung pada 2025 mencatat sekitar 10 ribu siswa tingkat SD dan SMP mengalami gangguan kesehatan menta.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut temuan tersebut menjadi sinyal darurat yang tidak bisa diabaikan. Survei itu dilakukan sebagai bagian dari upaya pemetaan kondisi psikologis anak dan remaja di lingkungan sekolah.
“Sekitar 10.000 siswa teridentifikasi mengalami masalah kesehatan mental,” ujar Farhan, Jumat (6/2/26).
Menurutnya, data tersebut akan menjadi dasar bagi Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk menyusun program penguatan kapasitas guru, khususnya guru Bimbingan dan Konseling (BK). Pemerintah kota berencana menyiapkan skema intervensi agar sekolah lebih responsif terhadap persoalan psikologis siswa.
“Kami akan menyiapkan program yang bisa langsung menjawab kebutuhan di lapangan, terutama di sekolah,” tambahnya.
Fenomena ini sejalan dengan kondisi nasional. Survei kesehatan tahun 2023 menunjukkan sekitar 20 persen penduduk Indonesia atau setara 54 juta orang mengalami gangguan mental emosional, menandakan persoalan kesehatan mental telah menjadi krisis kesehatan publik.
Menanggapi temuan tersebut, akademisi psikologi Billy Martasandy menilai angka 10 ribu siswa bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata tekanan psikososial yang dialami anak-anak usia sekolah.
“Ini menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya ruang belajar akademik, tetapi juga medan tekanan emosional. Faktor seperti tuntutan prestasi, relasi sosial, hingga dinamika keluarga sangat memengaruhi kondisi mental anak,” ujar Billy.
Ia menekankan pentingnya intervensi dini dan pendekatan berbasis sekolah. Menurutnya, peningkatan kapasitas guru BK harus dibarengi dengan literasi kesehatan mental bagi seluruh tenaga pendidik.
“Guru mata pelajaran pun perlu dibekali pemahaman dasar kesehatan mental agar bisa mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis. Jangan sampai anak-anak baru ditangani ketika kondisinya sudah berat,” jelasnya.
Billy juga mendorong kolaborasi lintas sektor antara sekolah, orang tua, dan tenaga profesional agar penanganan kesehatan mental pelajar dapat berjalan berkelanjutan.
“Kalau ditangani serius sejak sekarang, kita bisa mencegah dampak jangka panjang yang lebih berat di masa depan,” pungkasnya. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar