Iklan

Terancam Punah, Aksara Sunda Kian Ditinggalkan: Mang Ujang Laip Soroti Rendahnya Minat dan Minimnya Ruang Belajar

Posting Komentar
Maestro Aksara Sunda asal Cimahi, Mang Ujang Laip
SURAT KABAR, CIMAHI - Aksara Sunda, salah satu penanda penting identitas budaya masyarakat Tatar Sunda, kini berada di persimpangan jalan. Di tengah arus modernisasi dan dominasi sistem tulisan global, keberadaannya kian terpinggirkan. 

Kekhawatiran itu disampaikan Maestro Aksara Sunda, Yudistira Purana Sakyakirti atau yang akrab disapa Mang Ujang Laip, saat menyoroti makin langkanya generasi yang mampu membaca dan menulis aksara Sunda.

Mang Ujang Laip menegaskan, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan budaya, melainkan juga menyangkut keberlanjutan jati diri bangsa. Menurutnya, minimnya regenerasi pembaca dan penulis aksara Sunda menandakan adanya masalah serius yang harus segera ditangani bersama.

"Kini semakin langka orang Sunda yang mampu membaca dan menulis aksara Sunda. Itulah sebabnya kita harus bergerak cepat untuk menyelamatkannya," kata Mang Ujang Laip, Kamis (22/1/26).

Ia memaparkan, salah satu faktor utama kemunduran aksara daerah adalah rendahnya minat masyarakat, terutama generasi muda. 

Aksara Sunda kerap dipandang tidak memiliki nilai praktis dalam kehidupan ekonomi sehari-hari, sehingga dianggap kurang relevan untuk dipelajari.

"Banyak masyarakat dan generasi muda menganggap aksara daerah tidak efektif sebagai sarana untuk mencari nafkah, sehingga kurang tertarik untuk mempelajarinya," tuturnya.

Selain persoalan minat, Mang Ujang Laip juga menyoroti minimnya wadah dan ruang belajar. Hingga kini, Kota Cimahi dinilai masih kekurangan lembaga budaya atau komunitas yang secara khusus dan konsisten mengembangkan literasi aksara daerah. 

Padahal, upaya pelestarian tersebut sejalan dengan amanat UUD 1945 yang menekankan pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penguatan warisan budaya.

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah menyusutnya penggunaan bahasa daerah sebagai medium utama aksara Sunda. Ketika bahasa Sunda semakin jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, simbol dan sistem tulisannya pun ikut kehilangan konteks.

"Bahasa daerah yang menjadi isi dari aksara kuno semakin jarang digunakan, membuat simbol aksara tersebut terasa tidak relevan dengan perkembangan zaman," ujarnya.

Di sisi lain, dominasi sistem aksara dari kebudayaan baru yang dianggap lebih praktis dalam komunikasi modern turut memperlebar jarak masyarakat dengan akar budayanya sendiri. 

Aksara Sunda perlahan tersisih, bukan karena kehilangan nilai, melainkan karena kalah oleh arus efisiensi zaman.

Meski demikian, Mang Ujang Laip menegaskan bahwa aksara Sunda belum sepenuhnya hilang. Jejaknya masih dapat dijumpai dalam berbagai kesempatan khusus, seperti upacara adat, naskah kuno, hingga peninggalan sejarah yang menjadi saksi perjalanan peradaban Sunda.

"Meskipun kini jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, aksara kuno Sunda masih dapat ditemukan dalam kesempatan khusus seperti acara adat atau peninggalan bersejarah, menjadi bukti bahwa jejak budaya tersebut belum sepenuhnya hilang," bebernya.

Bagi Mang Ujang Laip, kondisi ini harus menjadi alarm bersama. Tanpa langkah nyata dan kolaborasi antara masyarakat, komunitas budaya, serta pemerintah, aksara Sunda berpotensi tinggal nama, hadir dalam buku sejarah, namun absen dalam kehidupan generasi masa depan. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar