Iklan

Tekanan Akademik Dinilai Picu Gangguan Mental Pelajar, Pengamat Desak Perubahan Sistem Pendidikan

Posting Komentar
Tekanan Akademik Dinilai Picu Gangguan Mental Pelajar, Pengamat Desak Perubahan Sistem Pendidikan
SURAT KABAR, BANDUNG - Meningkatnya indikasi gangguan kesehatan mental di kalangan pelajar dinilai tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan yang masih menempatkan capaian akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Pola tersebut dinilai menciptakan tekanan berlapis yang berisiko menggerus kondisi psikologis siswa sejak usia dini.

Pengamat pendidikan sekaligus Direktur PT Martasandy Bimbel Terpadu, Billy Martasandy, menilai temuan mengenai gangguan mental pelajar seharusnya menjadi alarm bagi seluruh ekosistem pendidikan, baik sekolah formal maupun lembaga pendidikan tambahan.

Menurut Billy, rutinitas akademik siswa saat ini semakin padat. Beban belajar tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlanjut ke berbagai aktivitas penunjang yang kerap berlangsung tanpa jeda pemulihan psikologis.

"Anak-anak hari ini menghadapi beban yang jauh lebih kompleks. Setelah sekolah, mereka masih mengikuti les, kursus, hingga persiapan ujian berjenjang. Kalau tidak diimbangi manajemen emosi dan dukungan psikologis, ini bisa menjadi tekanan serius,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Sebagai pelaku langsung di sektor bimbingan belajar, Billy mengakui bahwa lembaga pendidikan non formal turut memiliki tanggung jawab moral terhadap kondisi mental siswa. Ia menekankan bahwa orientasi pendidikan tambahan tidak semestinya hanya mengejar nilai atau kelulusan.

"Kami melihat sendiri ada siswa yang sebenarnya cerdas, tetapi mengalami kecemasan berlebihan, takut gagal, bahkan merasa tidak pernah cukup. Ini bukan soal kemampuan akademik, tapi soal kesehatan mental,” katanya.

Ia menjelaskan, tekanan tersebut semakin diperparah oleh iklim kompetisi yang kian agresif. Media sosial, perbandingan prestasi antar pelajar, serta ekspektasi tinggi dari lingkungan sekitar membentuk situasi belajar yang sarat beban psikologis.

“Budaya membanding-bandingkan itu sangat berbahaya. Anak akhirnya belajar bukan untuk memahami, tetapi untuk menghindari rasa malu atau mengecewakan orang tua,” tuturnya.

Billy mendorong perubahan mendasar dalam cara pandang pendidikan. Menurutnya, fokus pembelajaran perlu bergeser dari sekadar hasil menuju penghargaan terhadap proses. Sekolah dan lembaga bimbingan dinilai perlu menyediakan layanan konseling yang mudah dijangkau serta membangun komunikasi berkelanjutan dengan orang tua.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga pendidik dalam membaca gejala awal gangguan mental pada siswa. Tanda-tanda seperti perubahan perilaku signifikan, penurunan motivasi, emosi tidak stabil, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial perlu mendapat perhatian serius.

“Guru dan tutor adalah pihak yang setiap hari berinteraksi dengan siswa. Mereka harus dibekali literasi kesehatan mental agar tidak salah menilai. Jangan semua dianggap malas atau kurang disiplin,” tegasnya.

Lebih jauh, Billy mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semestinya direduksi menjadi angka rapor atau keberhasilan menembus sekolah favorit. Kesiapan mental dan pembentukan karakter justru menjadi fondasi jangka panjang bagi anak dalam menghadapi realitas kehidupan.

“Kalau anak lulus dengan nilai tinggi tapi mentalnya rapuh, itu bukan keberhasilan utuh. Pendidikan harus membentuk pribadi yang tangguh secara akademik sekaligus sehat secara psikologis,” pungkasnya.

Ia berharap isu kesehatan mental pelajar dapat menjadi momentum evaluasi menyeluruh, agar sistem pendidikan di Indonesia bergerak menuju lingkungan belajar yang lebih manusiawi, suportif, dan berkelanjutan. (SAT)
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar