Iklan

Kasus Pelajar Cimahi-Demak : Tekanan Ekonomi dan Kekerasan Verbal di Rumah Dinilai Jadi Bom Waktu Psikologis Remaja

Posting Komentar
Akademisi psikologi Billy Martasandy
SURAT KABAR, BANDUNG - Kasus tragis yang melibatkan seorang pelajar asal Cimahi yang mengakhiri hidupnya di Flyover Pasopati, Kota Bandung, serta peristiwa pelajar di Demak yang diduga kerap dimarahi ibunya, kembali membuka diskursus soal kesehatan mental remaja dan rapuhnya sistem dukungan psikologis di lingkungan keluarga.

Akademisi psikologi Billy Martasandy menilai, dua kasus tersebut memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dan kekerasan verbal dalam keluarga dapat menjadi faktor risiko serius bagi kondisi mental remaja.

Menurut Billy, remaja berada pada fase perkembangan identitas diri yang sangat rentan terhadap tekanan eksternal. “Ketika kondisi ekonomi keluarga memburuk, remaja seringkali ikut memikul beban psikologis yang sebenarnya bukan tanggung jawab mereka. Mereka bisa merasa bersalah, merasa menjadi beban, atau merasa gagal membantu orang tua,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tekanan ekonomi bukan hanya soal kekurangan materi, tetapi juga tentang atmosfer emosional di rumah. Ketegangan antar anggota keluarga, kecemasan orang tua, hingga konflik yang terus-menerus dapat menciptakan lingkungan yang tidak aman secara psikologis bagi anak.

Dalam kasus pelajar asal Cimahi, Billy menilai pentingnya melihat peristiwa tersebut sebagai akumulasi tekanan, bukan sekadar keputusan impulsif. 

“Tindakan bunuh diri jarang berdiri sendiri. Biasanya ada proses panjang: rasa putus asa, perasaan tidak berdaya, dan keyakinan bahwa tidak ada jalan keluar,” katanya.

Sementara itu, terkait pelajar di Demak yang kerap dimarahi ibunya, Billy menegaskan bahwa kekerasan verbal memiliki dampak jangka panjang yang tidak kalah serius dibanding kekerasan fisik.

“Dimarahi secara terus-menerus, direndahkan, atau dibanding-bandingkan dapat membentuk konsep diri negatif pada anak. Lama-lama anak percaya bahwa dirinya tidak berharga,” jelasnya.

Billy menyebut, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa tekanan yang mereka alami bisa ‘ditransfer’ kepada anak dalam bentuk kemarahan atau kritik berlebihan. Padahal, bagi remaja, rumah seharusnya menjadi ruang paling aman untuk pulang dan bercerita.

Ia juga menyoroti minimnya literasi kesehatan mental di masyarakat. Masih banyak keluarga yang menganggap perasaan sedih, cemas, atau stres sebagai hal biasa yang tidak perlu ditangani secara serius.

“Kalimat seperti ‘kamu kurang bersyukur’, ‘jangan lebay’, atau ‘itu cuma masalah kecil’ justru membuat anak semakin menutup diri. Mereka merasa tidak didengar,” tuturnya.

Billy mendorong pemerintah daerah dan sekolah untuk memperkuat layanan konseling yang mudah diakses remaja, terutama di wilayah perkotaan dengan tekanan sosial-ekonomi tinggi. Selain itu, edukasi parenting berbasis kesehatan mental juga dinilai krusial agar orang tua memiliki keterampilan mengelola emosi.

Ia menegaskan, pencegahan bunuh diri bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi tanggung jawab kolektif. 

“Kita perlu membangun ekosistem yang suportif, keluarga yang hangat, sekolah yang responsif, serta lingkungan sosial yang tidak menghakimi,” katanya.

Billy berharap dua peristiwa ini menjadi momentum refleksi bersama bahwa kesehatan mental remaja sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

 “Anak-anak tidak selalu mampu mengatakan bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Tugas orang dewasa adalah lebih peka, bukan menghakimi,” pungkasnya. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar