SURAT KABAR, BANDUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengambil langkah nyata untuk memastikan kesehatan mental anak sekolah melalui program khusus yang melibatkan peran psikolog. Selain psikolog, program intervensi kesehatan mental ini juga akan menggandeng guru Bimbingan Konseling (BK) dan psikolog klinis untuk melakukan asesmen serta pendampingan langsung kepada siswa.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengimbau para orang tua agar tidak tersinggung atau menolak ketika anak mereka masuk dalam daftar peserta asesmen di sekolah sebagai bagian dari deteksi dini kesehatan mental.
“Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua,” ujar Farhan, Kamis (12/2)
Farhan menegaskan, asesmen kesehatan mental bukan bentuk pelabelan negatif, melainkan upaya perlindungan dini agar anak mendapatkan dukungan yang tepat sesuai kebutuhannya.
Selain intervensi psikologis di sekolah, Farhan menambahkan bahwa penguatan literasi digital menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menyaring informasi dari media sosial, termasuk menghadapi perundungan daring (cyberbullying) dan berbagai tekanan sosial di ruang digital.
“Penguatan literasi digital penting sebagai bagian dari pencegahan, agar anak mampu menyaring informasi serta memahami situasi di media sosial,” tuturnya.
Menanggapi kebijakan tersebut, akademisi sekaligus pemilik usaha di bidang layanan psikologi, Billy Martasandy, menilai langkah Pemkot Bandung sebagai pendekatan preventif yang progresif dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
Menurut Billy, selama ini penanganan kesehatan mental anak sering kali bersifat reaktif, baru dilakukan ketika kasus sudah mencuat atau berdampak serius. Program asesmen dini di sekolah dinilai dapat meminimalkan risiko tersebut.
“Pendekatan preventif seperti ini sangat penting. Asesmen bukan untuk memberi label, tetapi untuk memetakan kebutuhan psikologis anak sejak awal. Dengan begitu, intervensi bisa lebih cepat dan tepat,” ujarnya.
Billy menjelaskan, fase usia sekolah merupakan periode krusial dalam perkembangan emosi dan sosial anak. Tekanan akademik, dinamika pertemanan, hingga paparan media sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis jika tidak didampingi dengan baik.
Ia juga mendukung pelibatan guru BK dan psikolog klinis secara kolaboratif. Menurutnya, sinergi antara tenaga pendidik dan profesional kesehatan mental akan memperkuat sistem dukungan di lingkungan sekolah.
“Guru BK berada di garis depan karena berinteraksi setiap hari dengan siswa. Ketika didukung oleh psikolog klinis untuk asesmen mendalam, maka pendekatannya menjadi lebih komprehensif,” katanya.
Sebagai pelaku usaha di bidang psikologi, Billy menilai kebutuhan layanan kesehatan mental anak di perkotaan terus meningkat, seiring perubahan pola interaksi sosial dan tingginya penggunaan gawai.
Ia pun mengapresiasi penekanan Farhan terhadap literasi digital sebagai bagian dari pencegahan. Menurutnya, edukasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis menggunakan perangkat, tetapi juga kecakapan emosional dalam merespons konten dan interaksi di dunia maya.
“Anak perlu dibekali kemampuan regulasi emosi dan berpikir kritis saat berselancar di media sosial. Literasi digital dan kesehatan mental itu saling berkaitan,” ujarnya.
Billy berharap program ini dapat dijalankan secara berkelanjutan dan disertai sosialisasi intensif kepada orang tua agar tidak muncul stigma terhadap anak yang mengikuti asesmen.
“Kalau orang tua, sekolah, dan pemerintah berjalan bersama, maka kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman dan suportif bagi tumbuh kembang anak,” tutupnya. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar