SURAT KABAR, BANDUNG - Kalangan pengusaha menyambut optimistis target Pemerintah Kota Bandung yang membidik pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029. Optimisme itu sejalan dengan pernyataan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang menegaskan bahwa Kota Bandung tengah berada di jalur cepat pemulihan ekonomi pasca-Covid-19.
“Dilihat dari angka makro, tampaknya Kota Bandung berada di jalur fast track menuju pemulihan ekonomi pasca-Covid-19. Prospeknya baik, tetapi tantangan selalu ada di depan kita,” ujar Farhan sebelumnya.
Menanggapi hal itu, pengusaha asal Bandung Billy Martasandy menilai pernyataan tersebut cukup beralasan jika melihat indikator ekonomi terkini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kota Bandung diproyeksikan konsisten di atas 5 persen, disertai penurunan angka kemiskinan, membaiknya rasio gini, serta turunnya tingkat pengangguran terbuka.
“Secara makro memang terlihat ada penguatan. Aktivitas perdagangan dan jasa mulai stabil, daya beli masyarakat juga menunjukkan tren positif. Ini menjadi fondasi penting untuk melangkah menuju target 8 persen,” ujar Billy, Kamis (12/2).
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa optimisme tersebut perlu diikuti dengan langkah konkret, terutama dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Menurutnya, stabilitas regulasi, percepatan perizinan, serta kepastian hukum akan menjadi faktor penentu keberhasilan akselerasi pertumbuhan ekonomi.
Billy menilai struktur ekonomi Bandung yang ditopang sektor kreatif, kuliner, fesyen, teknologi digital, dan pariwisata menjadi kekuatan tersendiri. Diversifikasi ini dinilai mampu menjaga ketahanan ekonomi di tengah dinamika global.
“Kalau sinergi lintas sektor yang disampaikan Pak Wali benar-benar dijalankan secara konsisten, saya kira pertumbuhan 8 persen bukan sesuatu yang mustahil. Kuncinya ada pada kolaborasi dan keberpihakan pada sektor riil,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi kota. Digitalisasi, akses pembiayaan, dan perluasan pasar dinilai harus menjadi prioritas agar dampak pertumbuhan lebih merata.
“UMKM harus naik kelas. Jika UMKM tumbuh, maka penyerapan tenaga kerja meningkat dan daya beli ikut terdorong. Ini akan memperkuat efek berganda terhadap PDRB,” jelasnya.
Selain itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk terus memperbaiki infrastruktur dan mempercepat reformasi birokrasi. Ia sepakat dengan penekanan Farhan soal akselerasi kinerja aparatur sipil negara (ASN) sebagai bagian dari fondasi pertumbuhan.
“Kalau birokrasi makin responsif dan pro-investasi, pengusaha akan lebih percaya diri melakukan ekspansi. Itu yang akan mempercepat realisasi target 8 persen,” ujarnya.
Dengan tren indikator makro yang membaik dan dukungan dunia usaha, para pelaku bisnis berharap Bandung dapat kembali menjadi motor pertumbuhan ekonomi regional, sekaligus mendekati ambisi pertumbuhan 8 persen pada 2029 secara bertahap dan berkelanjutan. (SAT)


Posting Komentar