Iklan

Tragedi Flyover Pasopati: Duka SMK Sangkuriang 1 Cimahi Usai Salah Satu Siswanya Meninggal Secara Tak Diduga

Posting Komentar
SMK Sangkuriang 1 Cimahi
SURAT KABAR, CIMAHI - Kabar duka itu datang tanpa tanda. Ruang kelas XII Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL) 2 SMK Sangkuriang 1 Cimahi mendadak kehilangan satu bangku pada Selasa (10/2/2026). MRJ (17), seorang siswa kelas akhir, tak pernah kembali. Ia meninggal dunia dalam tragedi di Flyover Pasopati, Bandung, peristiwa yang kembali membuka luka lama bagi sekolah yang pernah mengalami kejadian serupa pada 2024.

Di sekolah, MRJ dikenal sebagai sosok yang nyaris tak meninggalkan jejak kegaduhan. Pendiam, jarang menonjol, dan tidak pernah tercatat bermasalah. Kepergiannya justru menyisakan pertanyaan karena tak satu pun tanda dianggap mencolok oleh guru maupun teman-temannya.

Wali Kelas XII AKL 2, Listia Meiliana Sari, mengingat hari-hari terakhir kehadiran MRJ di sekolah. Dua hari sebelum kabar duka itu datang, MRJ sudah tak terlihat di kelas.

"Hanya saja dalam dua hari ini dia tidak masuk sekolah. Waktu hari Senin saya tanyakan, 'Anak-anak hari ini siapa yang enggak masuk?' MRJ (almarhum) Bu, katanya enggak enak badan," terang Listia saat ditemui di sekolah, Rabu (11/2/2026).

Komunikasi dengan keluarga sempat dilakukan pihak sekolah hingga Selasa pagi. Informasi awal yang diterima pun belum mengarah pada tragedi di jantung Kota Bandung itu. Hingga akhirnya, kabar duka disampaikan langsung oleh pihak keluarga.

"Akhirnya saya mendapatkan kabar dari keluarganya gitu kan, kakaknya mengabari kalau MRJ meninggal. Kakaknya mengabari ke sekolah kalau MRJ meninggal," kata Listia.

Di mata gurunya, MRJ adalah siswa yang berjalan di jalur aman, tak bermasalah, tak mencolok, dan nyaris tak menyisakan tanda-tanda kegelisahan.

"Enggak sih, sejauh ini di kelas juga baik-baik aja gitu. Maksudnya ada dengan ke pendiamannya dia gitu, ada. Dalam arti, pendiam itu dia tidak begitu banyak polah gitu. Baiklah siswanya gitu," ujarnya.

Secara akademik, MRJ bukan siswa dengan prestasi ekstrem, namun cukup konsisten menjalani kewajibannya sebagai pelajar.

"Dari akademiknya ya biasa-biasa aja gitu, terbilang cukup baik sejauh ini, kata Listia.

Hubungannya dengan teman-teman sekelas pun disebut berjalan normal. Tak ada konflik, tak ada cerita yang mengarah pada persoalan pribadi. Justru karena itulah, kepergiannya mengejutkan satu kelas penuh.

"Anak-anak juga enggak ada yang cerita apa pun, enggak, dia aman di kelas juga. Ya shock lah pasti gitu, anak-anak juga kaget gitu kenapa bisa terjadi seperti ini," ujar Listia.

Ketika pihak sekolah mendatangi rumah duka, suasana masih diselimuti kehilangan. Informasi yang diterima guru pun sederhana, nyaris tanpa penjelasan panjang.

"Orang tuanya hanya menyampaikan, 'Bu Listia, anak saya pergi dari rumah' gitu kan. 'Anak saya berangkat ke sekolah' gitu, hanya itu aja sih," kata Listia.

Soal hubungan MRJ dengan keluarganya, Listia menegaskan tidak melihat adanya persoalan berarti.

"Sepertinya, karena kemarin kita baru ketemu sekali juga, sepertinya tidak begitu banyak bermasalah sama keluarga atau gitulah gitu. Bisa dibilang harmonis ya," tandasnya.

Kini, satu bangku kosong di kelas XII AKL 2 menjadi penanda kehilangan. Tragedi di Flyover Pasopati bukan hanya mencatat satu nama korban, tetapi juga menyisakan duka sunyi di ruang kelas, di antara teman-teman yang tak pernah menyangka bahwa perpisahan bisa datang tanpa salam. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar