SURAT KABAR, CIMAHI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana, khususnya bencana hidrometeorologi, di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih membayangi wilayah Jawa Barat, termasuk Cimahi.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, mengatakan bahwa berdasarkan dokumen kajian risiko bencana yang dimiliki pemerintah daerah, terdapat sedikitnya 10 jenis ancaman bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Cimahi.
“Kalau kita tarik dulu secara umum lebih ke atas, di Cimahi itu kami sesuai dengan petunjuk dokumen kajian resiko bencana kami ada 10 ancaman ya. Banjir, banjir bandang, sesar lembang tentunya, cuaca ekstrim, ganggal teknologi, buruk panik dan lain sebagainya," ujarnya saat diwawancarai via telepon, Sabtu (7/2/26).
Andy, sapaan akrab Fithriandy, menambahkan bahwa kondisi cuaca ekstrem belakangan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin merilis peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem hampir setiap hari.
“Dengan sangat menyesal karena memang skalanya masif ini bisa saya katakan mulai dari hampir separuh atau sepertiga pulau Jawa terdampak termasuk Cimahi,” ujarnya.
Menurut Andy, kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk lebih waspada, khususnya mereka yang tinggal di wilayah-wilayah yang selama ini dikenal rawan terdampak banjir dan genangan akibat hujan deras.
“Maka dari hal itu kami menyampaikan kepada masyarakat untuk bisa mengantisipasi hal ini termasuk mengantisipasi tentunya daerah-daerah yang biasa terdampak cuaca ekstrim dalam hal ini hujan ya yang sering terjadi atau kerap terjadi banjir,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa potensi yang harus diantisipasi tidak hanya banjir besar, tetapi juga banjir genangan, limpasan air, hingga dampak lanjutan lainnya.
“Banjir genangan, limpasan dan lain sebagainya untuk tetap siaga,” tutur Andy.
Saat ini, lanjut Andy, BPBD Kota Cimahi masih menetapkan status siaga daerah geohidrometeorologi. Dalam status tersebut, seluruh unsur kebencanaan disiapkan pada tingkat kesiapsiagaan yang lebih tinggi.
“Jadi pada status siaga daerah ini kami menyiapkan personel, peralatan dan para stakeholder kebencanaan untuk red di satu tingkat lebih sigap,” ujarnya.
Dengan langkah tersebut, BPBD berharap dapat merespons secara cepat jika terjadi kondisi darurat di lapangan.
“Kalau misalnya nanti diperlukan untuk pengarahan, penanganan, dan distribusi maupun penanggulangan kami mudah-mudahan lebih siap,” kata Andy.
Menanggapi pertanyaan terkait luas wilayah Kota Cimahi yang hanya terdiri dari tiga kecamatan, Andy menjelaskan bahwa potensi bencana hidrometeorologi hampir merata di seluruh wilayah.
“Kalau menyangkut bencana hidrometologi, bencana-bencana ini sebabkan oleh dan cuaca ekstrim, air hujan dan cuaca ekstrim, dengan sangat menyesal kami menyampaikan bahwa memang hampir di semua kecamatan,” ungkapnya.
Bahkan, kata dia, dari total 15 kelurahan yang ada di Kota Cimahi, hampir semuanya memiliki titik-titik rawan bencana dengan karakteristik yang beragam.
“Hampir di semua 15 kelurahan di Cimahi itu ada titik-titik rawan ya. Dimana bentuknya itu seperti yang saya sebutkan tadi, longsor-longsor sporadis, kemudian ada genangan-genangan, kemudian ada banjir, kemudian ada ancaman banjir bandang,” jelas Andy.
Ia mencontohkan kejadian banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di salah satu kelurahan, yang berdampak cukup signifikan terhadap warga.
“Seperti yang baru terjadi beberapa waktu yang lalu kata Andy, di kelurahan utama terjadi banjir yang cukup skalanya ya, cukup besar skalanya, dimana mendampak kepada 130 KK, sampai ratusan jiwa, itu kita harus siap mengantisipasi hal itu,” katanya.
Fenomena cuaca ekstrem, menurut Andy, menjadi faktor utama meningkatnya potensi bencana tersebut.
“Karena di samping daerah-daerah yang sudah biasa kerap terjadi banjir, limpasan dan genangan, fenomenanya karena memang cuacanya terlalu ekstrim, curah hujan lebih besar dari biasanya,” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan rilis BMKG pada Januari lalu yang menyebutkan bahwa puncak musim hujan tahun ini diprediksi terjadi pada bulan Maret, berbeda dengan pola tahun-tahun sebelumnya.
“Kemudian juga kemarin BMKG per Januari mengeluarkan rilis bahwa puncak musim hujan ini di bulan Maret, jadi kalau kita perhatikan dari rilis-rilis BMKG tahun-tahun sebelumnya, baru kali ini puncak musim hujan itu masuk di bulan Maret, sebelumnya akhir Januari biasanya, setengah Februari biasanya,” paparnya.
“Sekarang ini sampai puncaknya bulan Maret ini, jadi sekali lagi ya antisipasi, karena dengan sangat menyesal, Cimahi ini 15 kelurahan, 3 kecamatan ini hampir terdampak semua, ada daerah rawannya,” lanjut Andy.
Terkait upaya pemerintah daerah dalam menekan dampak bencana, Andy menyebutkan bahwa BPBD Cimahi telah menjalankan sejumlah strategi untuk menurunkan tingkat kerentanan dan meningkatkan ketangguhan masyarakat.
“Jadi begini, untuk meningkatkan kerentanan masyarakat, menurunkan kerentanan masyarakat dan meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam kebencanaan ada beberapa strategi yang kita lakukan,” ujarnya.
“Dari kami sendiri tentunya dengan berbagai cara ya, pemasakan early warning system, kemudian penyedia logistik yang lebih lengkap, kemudian juga kapasitas anggota kita tekankan,” lanjutnya.
Selain kesiapan internal, BPBD juga fokus pada edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat agar mampu melakukan evakuasi mandiri saat terjadi bencana.
“Serta berusaha membuat masyarakat tahu bagaimana cara evakuasi mandiri dan evakuasi lingkungan terkecil keluarga,” jelas Andy.
Menurutnya, keterbatasan anggaran dan teknologi membuat pendekatan berbasis kesiapan masyarakat menjadi langkah paling realistis dan efektif.
“Karena ya kalau kita bicara bagaimana antisipasi supaya cuacanya tidak terlalu extreme datang, kemudian bagaimana kita memasang barier-barier banjir dan sebagainya, barangkali ada keterbatasan ya, biayanya besar, kemudian teknologinya kompleks, nah kita siapkan masyarakatnya,” katanya.
Meski demikian, BPBD Cimahi tetap berupaya meningkatkan sistem peringatan dini. Tahun ini, pemerintah daerah berencana memasang **delapan titik Early Warning System (EWS)** untuk memantau ketinggian muka air.
“Tapi tetap kita berusaha untuk itu semua, tahun ini CIMAHI akan memasang EWS ya, delapan titik untuk EWS, pantau muka air,” ujarnya.
Andy menegaskan, pemahaman masyarakat terkait jalur evakuasi, titik kumpul, dan cara menyelamatkan diri menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko korban saat bencana terjadi.
“Apa yang harus dilakukan pada saat bencana gempa, apa yang harus dilakukan, di mana jalur evakuasi, di mana titik kumpul dan sebagainya,” tuturnya.
Hal tersebut, kata dia, juga berlaku pada bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di wilayah Cimahi.
“Bagaimana tahu tempat-tempat yang bisa untuk titik kumpul yang diketinggian, kemudian bagaimana cara bergerak dengan genangan air,” jelasnya.
“Misalnya sampai di lutut ke paha dan sebagainya, dan bagaimana tahu cara mengenali arus, apa genangan yang berarus atau genangan yang tidak berarus gitu,” lanjut Andy.
Ia meyakini bahwa peningkatan pemahaman masyarakat akan berdampak langsung pada penurunan risiko korban dan tingkat keparahan bencana.
“Jadi kalau masyarakat tahu semua bagaimana cara bergerak pada saat gempa, pada saat bencana, bencana apapun itu, kami percaya ketangguhan masyarakat lebih tinggi, kerentanannya lebih rendah,” katanya.
“Sehingga skor survive-nya itu akan lebih tinggi, sehingga dengan demikian masyarakat severeness nya akibatnya atau keparahannya bisa lebih sedikit,” imbuhnya.
“Jadi ini juga upaya-upaya yang terus dilakukan oleh BPBD khususnya ya, untuk terus melakukan mitigasi kebencanaan kepada masyarakat,” pungkas Andy. (Mong)


Posting Komentar
Posting Komentar