Peran Forum Anak Menguat di Tengah Kompleksitas Masalah Anak di Kota Cimahi

Redaksi
Tambahkan
...
0
Ketua Forum Anak Kota Cimahi, Safruri Maulina (Doc. Istimewa)
Ketua Forum Anak Kota Cimahi, Safruri Maulina (Doc. Istimewa)

SURAT KABAR, CIMAHI (FEATURE) - Kasus yang melibatkan remaja belakangan kian sering mencuat ke permukaan. Situasi ini menegaskan bahwa persoalan anak bukan lagi isu pinggiran, melainkan sudah menjadi perhatian serius, termasuk di Kota Cimahi

Dalam konteks itu, keberadaan Forum Anak Jati Mandiri (FAJIMI) menjadi salah satu simpul penting yang bekerja di balik layar, menampung suara anak dan remaja yang kerap luput terdengar.

Di bawah pembinaan DP3AP2KB Kota Cimahi, forum ini tak sekadar menjadi ruang berkumpul. FAJIMI berperan sebagai wadah berbagi cerita, sekaligus jembatan ketika persoalan anak muncul di lingkungan mereka. 

Pembinaan Forum Anak Cimahi Kecamatan dan Kelurahan di Aula Gedung C Pemkot Cimahi (Doc. Surat Kabar)

Dari obrolan sederhana hingga laporan yang membutuhkan tindak lanjut, semua dihimpun dan diupayakan agar tidak berhenti sebagai keluhan semata.

Kerja yang dijalankan pun tidak ringan. Mengumpulkan data, merangkai kronologi, hingga memastikan setiap temuan dapat ditindaklanjuti menjadi bagian dari proses yang kerap luput dari perhatian publik. Di titik inilah peran Forum Anak menjadi signifikan, bukan hanya sebagai pendengar, tetapi juga penggerak.

Ketua Forum Anak Kota Cimahi, Safruri Maulina, menjelaskan peran tersebut dengan tenang namun tegas. Ia menyebut, dalam perjalanan menuju Kota Layak Anak, forum yang dipimpinnya dihadapkan pada persoalan yang semakin beragam dan kompleks.

Ketua Forum Anak Kota Cimahi, Safruri Maulina

Menurut Safruri, FAJIMI menjalankan dua fungsi utama, yakni sebagai Pelopor dan Pelapor (2P), serta sebagai wadah Partisipasi Anak dalam Proses Perencanaan Pembangunan (PAProP). Melalui peran ini, anak-anak tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi ikut terlibat dalam proses yang menyangkut masa depan mereka sendiri.

"Jadi 2P itu Pelopor dan Pelapor, di mana untuk Pelopor itu sendiri, kami menjadi penggagas utama suatu program kerja, yang di mana program kerja ini akan diaplikasikan dan juga berdampak untuk anak-anak di Kota Cimahi,” ujar gadis 16 tahun itu saat diwawancarai Surat Kabar usai kegiatan Pembinaan Forum Anak Cimahi Kecamatan dan Kelurahan di Aula Gedung C Pemkot Cimahi, Sabtu (18/4/26).

Pembinaan Forum Anak Cimahi Kecamatan dan Kelurahan di Aula Gedung C Pemkot Cimahi

FAJIMI hadir sebagai ruang harap, menjadi jalan dalam mencegah sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan anak, khususnya di Kota Cimahi.

"Jadi, ketika seorang anak di Kota Cimahi mengalami suatu permasalahan yang menyangkut hak anak, mereka dapat menyampaikan keluh kesah itu kepada beberapa pengurus FAJIMI, yang nanti nya akan kami bantu untuk disampaikan kepada dinas pengampu terkait, yakni DP3AP2KB Cimahi," kata siswi SMKN 1 Cimahi itu.

FAJIMI tak hanya ditempatkan sebagai objek, tetapi juga tumbuh sebagai subjek dalam pembangunan. Mereka dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan di Kota Cimahi membawa suara remaja agar tak lagi sekadar didengar, tetapi juga dipertimbangkan.

Safruri kemudian mengisahkan bagaimana laporan-laporan itu bermula sering kali dari percakapan sederhana antar teman. Anggota FAJIMI, yang tersebar di berbagai SMP dan SMA sederajat di Cimahi, menjadi simpul awal dari informasi yang mengalir.

“Teman-teman ini tentunya punya teman juga. Jadi, barangkali teman-temannya ini menghadapi suatu masalah ataupun suatu kasus, itu bisa disampaikan ke anggota FAJIMI,” ucapnya.

Namun, kata dia, setiap laporan tak serta-merta diteruskan. Ada proses yang harus dilalui, mengurai cerita dan data, mengumpulkan bukti, hingga memastikan kronologi kejadian benar-benar jelas sebelum sampai ke tangan dinas terkait.

"Anggota FAJIMI ini nantinya akan diproses, akan dikumpulkan bukti-bukti lengkapnya, akan digeledah kembali kira-kira kasusnya itu seperti apa, teknisnya seperti apa, yang di mana nantinya akan kami sampaikan kepada Dinas DP3AP2KB untuk diproses,” kata Safruri.

Pembinaan Forum Anak Cimahi Kecamatan dan Kelurahan di Aula Gedung C Pemkot Cimahi

Laporan itu, lanjutnya, tak serta-merta melaju begitu saja. Ia menempuh jalan berlapis melewati kelurahan, menyinggahi kecamatan, sebelum akhirnya tiba di dinas, sebagai bagian dari alur penanganan yang disusun rapi.

Saat ditanya mengenai kemungkinan laporan langsung diproses, Safruri menjawab singkat namun tegas, “BISA.” Kendati demikian, ia menegaskan ada sejumlah syarat yang wajib dipenuhi, mulai dari bukti yang kuat, alur kronologi yang jelas, hingga keterangan saksi serta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

Di balik sikapnya yang tenang, perempuan berhijab itu menyadari bahwa proses yang dijalani tidak selalu berjalan mulus. Tantangan kerap muncul secara senyap, terutama terkait ketersediaan bukti. 

Hal yang semestinya menjadi penguat sebuah laporan, dalam banyak kasus justru menjadi kendala yang paling sering ditemui.

"Kemudian untuk tantangan lain yang kami hadapi ini ketika anggaran untuk berkegiatan sosial mengalami pemangkasan dari pusat. sehingga membuat operasional program kerja sedikit terhambat," ungkapnya pelan.

"Sedangkan kami harus memproses, namun tidak ada bukti, itu kan sulit juga ya diprosesnya. Kemudian untuk tantangan yang kami hadapi itu ada di bagian penurunan anggaran," sambungnya.

Penurunan anggaran, menurutnya, turut memengaruhi gerak FAJIMI sendiri, baik dalam menjalankan program kerja maupun dalam merespons kasus yang ada.

Saat disinggung mengenai kasus yang kerap muncul, raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. Ia menyebut, mayoritas laporan yang masuk berkaitan dengan pelecehan seksual. Selain itu, ada pula kasus yang berkaitan dengan penyimpangan atau transgender seperti LGBT yang disebutnya tengah marak diperbincangkan.

Ia juga menyoroti fenomena anak-anak yang masih beraktivitas melewati batas waktu yang ditentukan. Dalam keterangannya, anak memiliki batas jam malam hingga pukul 21.00. Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda.

Masih ada komunitas maupun warung yang beroperasi di atas jam tersebut. Bahkan, kata dia, ada kasus komunitas yang terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap warga, seperti pembegalan hingga pencopetan.

Tak hanya itu, kebiasaan membolos ke warung saat jam belajar juga menjadi persoalan yang terus berulang.

“Kemudian adanya kasus anak-anak di jam belajar bolos ke warung di luar sekolah,” imbuhnya.

Menghadapi situasi itu, FAJIMI tidak bergerak sendiri. Mereka berkoordinasi dengan DP3AP2KB sebagai langkah kehati-hatian.

"Kami selaku Forum Anak tidak bisa langsung segera mengambil tindakan. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan terlebih lagi, kami pun masih tergolong anak anak yang membutuhkan perlindungan orang dewasa. Oleh karena itu, setiap progres yang di ambil, harus disetujui oleh banyak pihak dan dipertimbangkan dalam banyak hal," ujar dia.

Ada kekhawatiran yang tak bisa diabaikan, mulai dari risiko diikuti, diteror, hingga mendapat perlakuan buruk. Karena itu, setiap langkah selalu dibicarakan terlebih dahulu dengan dinas.

"Nantinya, ketika memang dibutuhkan, kami akan melakukan berbagai tindakan seperti yang pertama sosialisasi, kemudian melakukan pembinaan dan rapat,” cetusnya.

Di tengah keterbatasan yang kerap membatasi langkah, FAJIMI hadir seperti cahaya kecil yang tak memilih padam. Mereka menegaskan bahwa remaja bukan sekadar bayang-bayang dari kebijakan, melainkan denyut yang hidup, yang mampu merasa, bersuara, dan bergerak menjawab persoalan di sekitarnya.

Di lanskap yang penuh riuh dan tak selalu ramah, mereka tetap berdiri. Menjadi pelopor yang menyalakan harapan, pelapor yang mengantarkan suara-suara lirih, sekaligus ruang pulang bagi cerita-cerita yang selama ini tersisih dalam sunyi.

Dalam ikhtiar pencegahan, langkah mereka pun merapat ke sekolah, menyulam kerja sama di ruang-ruang belajar. 

Lewat sosialisasi, imbauan, dan edukasi, mereka menanam benih kesadaran, agar sekolah tak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi pelabuhan pertama tempat kegelisahan remaja berlabuh dan perlahan menemukan jawab.

"Tentu, karena disini kami tidak bisa bergerak sendiri untuk mencapai hasil yang maksimal. Kami membutuhkan keterlibatan dari banyak pihak, sekolah salah satu nya," tutup Safruri. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar