![]() |
| CEGAH KRISIS MENTAL: UPTD PPA Cimahi edukasi siswa dan guru cegah kekerasan dan gangguan mental (Gemini AI) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Ancaman gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja mulai menjadi perhatian serius di Kota Cimahi. Pemerintah daerah melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) memperkuat langkah pencegahan dengan menyasar lingkungan sekolah hingga keluarga.
Langkah ini merespons tren regional yang mengkhawatirkan. Di Kota Bandung, hampir 49 persen atau sekitar 71.433 siswa SMP terindikasi mengalami masalah kesehatan mental, mulai dari ansietas hingga depresi.
Kepala UPTD PPA Kota Cimahi, Kusnia Rustiani, mengatakan penguatan ketahanan mental anak harus dilakukan sejak dini. Menurut dia, peran sekolah dan keluarga menjadi kunci dalam mencegah anak mengalami kerentanan psikologis.
"Guru di sekolah, guru BK siap sedia membantu mereka. Orang tua yang menyayangi mereka, yang kita bina terus, seharusnya seperti apa di rumah. Kemudian pembinaan di sekolah," ujarnya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (7/4/2026).
Data UPTD PPA menunjukkan, sepanjang 2025 terdapat 82 kasus kekerasan terhadap anak dengan pola yang fluktuatif. Puncak kasus terjadi pada Maret sebanyak 17 kasus, disusul Agustus 13 kasus dan Oktober 11 kasus. Sementara Februari menjadi bulan dengan jumlah kasus terendah, yakni dua kasus.
Mayoritas kasus didominasi kekerasan terhadap anak (KTA) dan kekerasan terhadap perempuan (KTP), tanpa temuan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Memasuki 2026, hingga Maret tercatat 16 kasus kekerasan. Februari menjadi bulan tertinggi dengan delapan kasus, diikuti Maret lima kasus dan Januari tiga kasus.
"Secara umum, kasus didominasi KTA dan KTP, tanpa temuan TPPO, dengan tren yang masih fluktuatif di awal tahun," kata Kusnia.
Dari sisi penanganan psikologis, Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA Cimahi, Yukie Agustia Kusmala, menjelaskan pendekatan dilakukan melalui dua jalur utama, yakni penanganan berbasis laporan dan pencegahan.
Menurut dia, program pencegahan difokuskan pada usia sekolah dasar melalui sosialisasi sekolah ramah anak, penguatan kapasitas guru BK, serta optimalisasi Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di setiap jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi.
"Karena di setiap sekolah sampai ke perguruan tinggi hampir sudah ada tim pencegahan dan penanganan kekerasan ," imbuhnya.
Yukie menilai, penguatan mental anak menjadi penting agar mereka mampu menghadapi tekanan akademik maupun sosial. Di sisi lain, keluarga memegang peran strategis dalam membentuk kondisi psikologis anak.
"Jadinya kita juga memberikan parenting tentang pengasuhan, bagaimana orang tua berperan dalam pertumbuhan anak dan juga bagaimana anak bisa terlibat dalam tanggung jawabnya di rumah," tuturnya.
Ia juga menyoroti derasnya arus informasi yang membuat anak rentan membandingkan kondisi keluarganya dengan orang lain, yang berpotensi memicu tekanan psikologis.
"Jadi sama-sama sebenarnya keluarga itu seperti apa sih peran anak, peran orang tua."
Isu minimnya peran ayah atau *fatherless* turut menjadi perhatian. UPTD PPA mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebagai bagian dari penguatan keluarga.
"Kayak kemarin sempat ramai ayah yang ambil raport, itu salah satunya untuk mendukung nggak cuma pelajar yang sehat di sekolah tapi juga di rumah," ujarnya.
Untuk kasus yang telah dilaporkan, penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan pihak sekolah. Tahapan awal dimulai dengan asesmen menyeluruh terhadap anak, lingkungan pertemanan, serta pihak terkait lainnya.
"Nah, apa yang dilakukan? Yang pertama tuh asesmen. Asesmennya pada anaknya, terus pada temannya, dan juga pada pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan kasus, entah itu guru misalnya atau pihak lain," kata Yukie.
Setelah asesmen, dilakukan sosialisasi lanjutan guna membangun pemahaman bersama, terutama dalam menangani persoalan seperti perundungan di lingkungan sekolah.
"Supaya semuanya jadi punya pemahaman yang sama. Dan misalnya nanti ada kasus yang serupa, mereka sudah punya pengetahuan itu," terang Yukie.
Edukasi tersebut menyasar seluruh elemen sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, hingga siswa, termasuk pembekalan keterampilan manajemen stres.
"Termasuk misalnya tadi manajemen stres, itu penting banget mereka punya kemampuan untuk bisa mengatasi itu sendiri, menghadapi itu sendiri, dan itu skill," tandasnya. (REL)


Posting Komentar