![]() |
| Aksi panggung siswa kelas XI SMAN 1 Cimahi saat Festival Musikal Sachi yang memadukan seni, budaya, dan pembelajaran lintas mata pelajaran (Doc. Surat Kabar) |
SURAT KABAR, CIMAHI FEATURE – Sebanyak lebih dari 300 siswa kelas XI SMAN 1 Cimahi terlibat dalam Festival Musikal Sachi yang digelar di aula sekolah, Kota Cimahi, Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai 18 hingga 21 Mei 2026 ini menjadi bagian dari Projek Kokurikuler Kurikulum Merdeka yang mengintegrasikan delapan mata pelajaran dalam satu pertunjukan drama musikal berskala besar.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang pentas seni, tetapi juga proses pembelajaran kolaboratif yang melibatkan Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Seni Budaya, PPKn, Sejarah, TIK, hingga PKWU. Seluruhnya dirancang untuk menghasilkan pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga edukatif dan berbasis praktik nyata.
Guru Seni Budaya SMAN 1 Cimahi sekaligus Koordinator Projek Kokurikuler Drama Musikal kelas XI, Annisa Resti Fauziah, menjelaskan bahwa proyek tahun ini mengangkat tema kesejarahan yang dipadukan dengan pendekatan kreatif siswa.
“Seluruh materi pembelajaran disinergikan agar siswa bisa merangkai pengetahuan mereka ke dalam pertunjukan drama musikal yang utuh, bermakna, dan hidup,” ujarnya saat diwawancarai Surat Kabar di sekolah usai kegiatan, Senin (18/5/26).
Annisa menuturkan, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda, para siswa diminta menyusun naskah secara mandiri dengan tema sejarah yang telah ditentukan, yakni seputar proklamasi dan kemerdekaan.
“Nah, di situ dari temanya itu mereka mengolah sendiri naskahnya, sambil menyisipkan kebudayaan. Kebudayaannya bisa berupa tarian, terus juga di naskahnya sendiri diwajibkan ada yang namanya sisindiran atau bertukar pantun,” terang Annisa.
Penggunaan Bahasa Sunda melalui sisindiran sengaja diterapkan untuk menjaga kedekatan siswa dengan budaya daerahnya. Menurut Annisa, langkah ini penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar tradisi.
“Jadi lebih ke melestarikan (budaya Sunda) juga. Jadi, salah satunya karena jarang ya anak zaman sekarang mau melestarikan, jadi kami ingin anak-anak sekarang mulai tahu dan siapa tahu nanti bisa mengembangkan sendiri,” bebernya.
Pada proyek tahun ini, SMAN 1 Cimahi juga mencoba pendekatan baru dengan mengangkat tema sejarah sebagai fokus utama. Hal ini menjadi pengalaman berbeda dibandingkan karya sebelumnya yang lebih banyak terinspirasi dari cerita babad dan dongeng Sunda.
Annisa menilai, sejarah memiliki banyak sudut pandang yang bisa digali dan dikemas menjadi karya kreatif. Kolaborasi dengan mata pelajaran sejarah pun memberi ruang bagi siswa untuk memahami peristiwa masa lalu dengan cara yang lebih hidup.
“Sekarang kami coba berkolaborasi dengan mata pelajaran sejarah, lalu karena kebetulan pas dan akhirnya ya kami mengambil temanya tema sejarah gitu. Dan lumayan menarik juga supaya anak-anak tidak lupa dengan sejarahnya, tentang sejarah nenek moyang kita,” ungkap dia.
Tak hanya fokus pada kreativitas, proyek ini juga diarahkan untuk memperkuat nilai nasionalisme di lingkungan sekolah. Melalui pembelajaran PPKn, siswa diajak memahami makna perjuangan serta mampu mengambil pelajaran dari konflik yang muncul, baik dalam cerita maupun proses produksi.
Dari sisi seni budaya, siswa terlibat dalam berbagai aspek pertunjukan mulai dari musik, tari, tata rias, hingga penciptaan lagu.
“Untuk di pelajaran saya, di Seni Budaya sendiri, lebih ke artistiknya sudah pasti. Di masalah musiknya, masalah nyanyiannya, tariannya, tata riasnya mereka, dan juga mereka kalau tadi mendengarkan di akhir ada lagu yang mungkin tidak familier, itu adalah lagu ciptaan mereka,” kata dia.
Salah satu hasil karya siswa bahkan menjadi perhatian, yakni lagu berjudul Teman Sejati yang dinyanyikan secara bersama-sama di lingkungan sekolah.
Selain itu, mata pelajaran PKWU turut berperan dalam pembuatan properti pertunjukan yang seluruhnya dikerjakan oleh siswa.
“Dan satu lagi, di pelajaran Pendidikan Kewirausahaan dan Prakarya (PKWU) itu khusus ke propertinya. Jadi, tadi ada beberapa properti yang mungkin tadi bisa dilihat juga, itu adalah hasil karya mereka,” imbuhnya.
Proyek ini juga berpengaruh terhadap penilaian rapor siswa, terutama pada aspek sikap dan karakter. Penilaian dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh guru mata pelajaran yang kemudian didiskusikan bersama.
“Jadi, untuk nilai pelajaran ada sendiri dan nilai kokurikuler untuk sikapnya juga kami punya nanti sendiri, di akhirnya kami akan berkumpul untuk menilai itu,” ujar Annisa
Penilaian sikap mencakup aspek kerja sama, kemandirian, dan tanggung jawab siswa selama proses berlangsung. Guru BK dan guru mata pelajaran saling melengkapi catatan sebelum menentukan hasil akhir secara objektif.
Kekompakan ratusan siswa tersebut dibangun melalui proses panjang sejak awal semester. Sejak Januari 2026, para siswa sudah diperkenalkan dengan proyek ini agar memiliki waktu persiapan yang matang.
Memasuki semester dua, tim pelaksana bahkan melakukan roadshow ke tiap kelas untuk menjelaskan sistem penilaian, jadwal latihan, hingga teknis pementasan.
Selama proses latihan, Annisa mengakui tantangan terbesar adalah menyatukan karakter ratusan siswa Generasi Z yang dikenal ekspresif dan penuh ide.
“Ini sekaligus pembelajaran buat kami semua,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun, dalam dinamika tersebut juga muncul berbagai tantangan komunikasi hingga perbedaan pendapat yang perlu dikelola dengan bijak.
“Itu yang harus kami pause, yang harus kami tahan. Itu yang kadang belum sampai di logikanya mereka,” kata Annisa.
Meski demikian, ia bersyukur para siswa tetap dapat menerima arahan dan teguran dari guru dengan baik.
“Alhamdulillah, anak-anak bisa menerima masukan kami tanpa marah. Mereka percaya kalau semua yang kami sampaikan, termasuk saat kami menegur, itu untuk kebaikan mereka juga,” ujarnya.
Dalam prosesnya, sempat muncul beberapa kendala seperti perbedaan pembagian peran hingga isu naskah yang disebut bocor di beberapa kelas. Kondisi tersebut sempat memicu ketegangan, namun perlahan dapat diselesaikan melalui penyesuaian ulang.
SMAN 1 Cimahi sendiri melibatkan 11 kelas, mulai dari 11 A1 hingga 11 G, dengan masing-masing kelas berisi sekitar 36 siswa. Mereka dibagi dalam berbagai peran, baik di atas panggung maupun di belakang layar.
“Ada yang jadi sutradara, astrada, lighting, sound, PJ make up, kostum, koreografi, stage manager, sampai stage crew. Jadi mereka sudah punya perannya masing-masing, termasuk juga yang menjadi aktor,” ujar Annisa.
Selain itu, terdapat proses seleksi dan casting untuk menentukan pemeran utama dalam pertunjukan, sehingga siswa juga merasakan pengalaman seperti dalam produksi profesional.
Penilaian dilakukan secara berkelanjutan melalui setiap pertemuan dan sesi gladi. Guru memberikan evaluasi bertahap untuk melihat perkembangan siswa secara objektif.
“Setiap pertemuan dan gladi selalu kami evaluasi untuk penilaian mereka sendiri,” ujar Annisa.
Kelulusan siswa tidak hanya ditentukan dari hasil akhir, tetapi juga dari proses panjang yang mencakup kehadiran, pemahaman materi, hingga praktik selama kegiatan berlangsung.
Sebagai bentuk motivasi, sekolah juga memberikan penghargaan untuk berbagai kategori seperti best performer hingga publikasi terbaik.
“Kami memberikan reward kepada mereka untuk best performer, terus publikasi terbaik, ada make up terbaik, koreografi terbaik, dan seperti itu. Karena mereka tahu ada reward tersebut, mereka tuh lebih ambisius,” kata Annisa.
Menurutnya, sistem penghargaan membuat siswa lebih bersemangat dan kompetitif secara positif dalam proses pembelajaran.
“Ternyata anak-anak itu mereka kalau diberikan reward, mereka diberikan tantangan tuh anak zaman sekarang masih mau, dan masih berani untuk menerima tantangan,” cetusnya.
Annisa juga menegaskan bahwa sistem KKM kini lebih fleksibel dalam Kurikulum Merdeka dan disesuaikan oleh masing-masing guru mata pelajaran.
“Karena di Kurikulum Merdeka seperti itu. Jadi nanti lulus atau tidaknya setiap guru akan punya kriterianya sendiri untuk kelulusannya,” jelasnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa penilaian siswa dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan hasil akhir.
“Ya, guru mata pelajarannya, karena kami bukan hanya menilai dari hasil hari ini saja. Tapi kami menilai dari proses lima bulan ke belakang sebelumnya,” tandas Annisa. (SAT)


Posting Komentar