![]() |
| DINAMIKA USAHA: Produsen tempe di Cimahi terpaksa mengurangi produksi akibat kenaikan harga kedelai dan bahan pendukung di tengah melemahnya daya beli masyarakat (Istimewa) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Produsen tempe di KotaCimahi kini menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga kedelai dan plastik pembungkus dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga kedelai Cimahi ini menjadi pukulan bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Kusnanto, produsen tempe sekaligus Ketua Koperasi ProdusenTempe Tahu Indonesia (Kopti) Kota Cimahi, menjelaskan bahwa harga kedelai impor
Cimahi saat ini telah mencapai Rp10.500 hingga Rp10.700 per kilogram. Padahal,
dalam kondisi normal, harga kedelai berada di kisaran Rp8.000 sampai Rp9.000
per kilogram, menjadikan lonjakan ini signifikan bagi biaya produksi.
Kondisi tersebut membuat para produsen semakin terjepit
dalam pusaran ekonomi lesu di Indonesia, di mana ruang gerak usaha terasa
semakin sempit. Sementara itu, kebutuhan hidup tetap berjalan tanpa kompromi,
menghadirkan tekanan psikologis sekaligus ekonomi yang terus menguji daya tahan
para pelaku usaha kecil setiap harinya.
“Sekarang harga kedelai sudah melejit, meskipun belum
terlalu tinggi. Sekitar Rp10.500 bahkan ada yang Rp10.800 per kilogram di
pasar,” ujar Kusnanto saat ditemui pada Rabu Kliwon (8/4/2026). Pernyataan ini
menegaskan realitas lonjakan harga bahan baku tempe yang mulai dirasakan
langsung di tingkat produsen.
Tak hanya kedelai, kenaikan harga plastik pembungkus tempe
juga turut memperparah kondisi. Kusnanto menyebut harga plastik mengalami
kenaikan cukup tajam, dari Rp30 ribu menjadi Rp50 ribu per pax. Alternatif
penggunaan daun pisang pun dinilai tidak solutif karena biaya yang justru lebih
tinggi.
“Terus harga plastik juga kan lagi naik, berdampak pastinya.
Misalnya Rp30 ribu per pax naik jadi Rp50 ribu per pax, ya kan lumayan
selisihnya. Kalau pakai daun pisang juga enggak mungkin, justru lebih mahal,”
ujarnya, menggambarkan dilema dalam memilih bahan kemasan yang efisien.
Untuk menyiasati situasi ini, produsen melakukan penyesuaian
dengan mengecilkan ukuran tempe tanpa menaikkan harga. Tempe seharga Rp5 ribu
kini berbobot sekitar 300 gram, sementara Rp6 ribu menjadi 400 gram, dan ukuran
terbesar 900 gram dijual Rp12.500. Strategi ini diambil untuk menjaga daya beli
konsumen sekaligus mempertahankan kelangsungan usaha.
Selain itu, Kusnanto mengungkapkan adanya penurunan produksi
tempe Cimahi hingga 30 persen, seiring dengan melemahnya permintaan pasar. Daya
beli masyarakat yang menurun membuat perputaran produk di pasar menjadi lebih
lambat dari biasanya.
“Dampaknya kita juga mengurangi produksi 30 persenan, dan
market di pasar memang sepi, daya beli menurun. Untuk ukuran kita perkecil tapi
enggak setipis ATM juga. Harga normal, jadi nanti kalau kedelai turun ukuran
kita kembalikan lagi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kusnanto menuturkan bahwa kenaikan harga
kedelai impor tidak lepas dari faktor global, termasuk melemahnya nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika serta dampak konflik geopolitik yang memicu
gangguan distribusi, seperti penutupan Selat Hormuz akibat perang antara
Amerika dan Iran.
“Faktornya karena dollar katanya ya, tapi kan walaupun
dollar naik harusnya ada standar harga di kita berapa. Kita pengusaha ya ikut
saja, yang penting ketersediaan ada. Daripada harga murah tapi barangnya enggak
ada, ya repot juga kalau begitu,” tutup Kusnanto. (SAT)


Posting Komentar