![]() |
| EARTH HOUR: Warga Cimahi diajak berpartisipasi mematikan lampu selama satu jam dalam aksi peduli lingkungan (Doc.Instagram @dlh_cimahi) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Pemerintah Kota Cimahi mendorong partisipasi publik dalam aksi global Earth Hour yang akan digelar pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, pukul 20.30 hingga 21.30 WIB.
Kegiatan yang dipusatkan di Alun-alun Cimahi ini menjadi bagian dari langkah konkret merespons isu krisis iklim yang kian mendesak, dengan mengajak masyarakat memadamkan lampu dan peralatan elektronik yang tidak digunakan selama satu jam.
Ajakan ini disampaikan sebagai bentuk intervensi sederhana namun simbolik untuk menekan emisi karbon, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa perubahan gaya hidup hemat energi perlu dimulai dari tingkat rumah tangga.
Dalam konteks meningkatnya konsumsi energi di perkotaan, momentum Earth Hour dinilai relevan untuk memperkuat komitmen bersama terhadap keberlanjutan lingkungan.
Dalam video resmi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cimahi melalui akun @dlh_cimahi, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana menyatakan dukungannya terhadap gerakan global tersebut.
Ia mengajak seluruh masyarakat Kota Cimahi untuk tidak sekadar berpartisipasi secara simbolik, tetapi juga menjadikan momentum ini sebagai refleksi atas tanggung jawab bersama terhadap masa depan bumi.
“Bergabunglah bersama kami dalam Earth Hour dan berikan 60 menit untuk bumi pada hari Sabtu, 28 Maret 2026 pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat,” ujarnya dalam keterangan video tersebut, Sabtu (28/3/2026).
Ngatiyana menekankan bahwa aksi memadamkan lampu bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan energi.
“Dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak digunakan.”
Ia juga menggarisbawahi pesan utama gerakan tersebut, yakni “Beri Ruang untuk Bumi”, sebagai ajakan untuk menghemat energi listrik dan air, sekaligus mengurangi dampak pemanasan global.
“Dengan pesan utama 'Beri Ruang untuk Bumi', sehingga kita dapat menghemat energi listrik dan air, serta menyelamatkan bumi dari global warming,” ucapnya.
Lebih jauh, Ngatiyana menjelaskan bahwa Earth Hour harus dimaknai sebagai pengingat berkelanjutan, bukan hanya aksi satu malam. Menurutnya, pengendalian konsumsi energi dan perubahan pola hidup sehari-hari menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan lingkungan di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim.
“Ini aksiku, 1 jam untuk bumi,” tandasnya.
Aksi ini diharapkan tidak berhenti sebagai gerakan simbolik tahunan, tetapi menjadi titik awal transformasi perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, seiring meningkatnya urgensi penanganan krisis iklim di tingkat lokal maupun global. (SAT)



.jpeg)

Posting Komentar