Bandung Kota Pelajar, tapi Kesehatan Mental Mahasiswa Terabaikan

Redaksi
Tambahkan
...
0
Akademisi Psikologi, Billy Martasandy
Akademisi Psikologi, Billy Martasandy (Istimewa)

SURAT KABAR, BANDUNG - Status Bandung sebagai kota pelajar menyisakan persoalan yang jarang dibicarakan, kesehatan mental mahasiswa. Di tengah padatnya aktivitas akademik dan derasnya arus urbanisasi pelajar dari berbagai daerah, tekanan psikologis justru kian meningkat.

Akademisi psikologi, Billy Martasandy, menilai kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Ia melihat kehidupan mahasiswa di Bandung kini dihadapkan pada beban yang berlapis, mulai dari tuntutan akademik, tekanan sosial, hingga persoalan ekonomi yang saling bertaut.

“Bandung memang dikenal sebagai kota pelajar, tetapi perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswanya belum sebanding dengan jumlah dan aktivitas akademik yang ada,” ujar Billy.

Menurut dia, gejala yang muncul bukan lagi kasus sporadis. Banyak mahasiswa mengalami kecemasan (anxiety), kelelahan mental (burnout), hingga krisis seperempat abad (quarter-life crisis). Lingkungan yang kompetitif serta ekspektasi tinggi dari keluarga dan diri sendiri memperkuat tekanan tersebut.

Billy melihat, dinamika kehidupan kota turut memperparah situasi. Gaya hidup urban di Bandung, termasuk penggunaan media sosial, membentuk ruang perbandingan yang tidak sehat. Mahasiswa, kata dia, kerap terjebak dalam dorongan untuk tampil berhasil di ruang digital.

“Mahasiswa sering kali merasa harus ‘terlihat berhasil’ di media sosial, padahal di balik itu mereka sedang berjuang secara mental,” katanya.

Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan mental dinilai masih terbatas. Sejumlah kampus memang telah menyediakan fasilitas konseling, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan. Hambatan berupa stigma dan rasa enggan masih menjadi persoalan.

Billy menekankan perlunya keterlibatan banyak pihak. Kampus, pemerintah, hingga komunitas dinilai harus lebih serius menangani isu ini, termasuk melalui edukasi yang lebih luas dan penyediaan layanan yang mudah dijangkau.

“Kesadaran harus dibangun bersama. Kesehatan mental bukan lagi isu sampingan, tetapi kebutuhan utama, terutama di kota dengan dinamika pendidikan seperti Bandung,” ujarnya.

Ia berharap, citra Bandung sebagai kota pelajar tidak berhenti pada jumlah institusi pendidikan. Lebih dari itu, kota ini perlu menjadi ruang yang aman bagi kesehatan mental generasi mudanya. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar