![]() |
| Akademisi Psikologi Billy Martasandy (Istimewa) |
SURAT KABAR, BANDUNG - Akademisi psikologi Billy Martasandy menilai fenomena burnout di kalangan pekerja muda di Kota Bandung kian mengemuka, seiring tingginya tuntutan kerja di sektor kreatif yang tidak diimbangi pengelolaan beban kerja secara sehat.
Menurut Billy, karakteristik pekerjaan di industri kreatif yang menuntut ide dan inovasi tanpa henti justru membuat pekerja lebih rentan mengalami kelelahan mental.
“Banyak pekerja muda di Bandung bekerja di bidang yang menuntut kreativitas tinggi, tetapi sering kali tidak diimbangi dengan manajemen waktu dan beban kerja yang sehat,” ujar Billy.
Ia menjelaskan, burnout tidak semata ditandai kelelahan fisik, melainkan juga kelelahan emosional serta menurunnya makna terhadap pekerjaan. Kondisi tersebut, dalam konteks Bandung, diperparah oleh pola kerja fleksibel yang kerap mengaburkan batas antara waktu kerja dan waktu istirahat.
“Karena dianggap ‘kerja kreatif’, banyak yang merasa harus terus produktif setiap saat. Ini yang berbahaya, karena otak tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih,” katanya.
Selain faktor pekerjaan, tekanan juga datang dari lingkungan sosial. Gaya hidup urban di Bandung yang lekat dengan produktivitas, pencapaian, serta eksistensi di media sosial, dinilai turut memicu beban psikologis pekerja muda.
“Standar kesuksesan jadi bias. Banyak yang membandingkan diri dengan orang lain, merasa tertinggal, lalu memaksakan diri bekerja lebih keras tanpa memperhatikan kondisi mentalnya,” tambahnya.
Billy juga menyoroti masih minimnya perhatian perusahaan terhadap kesehatan mental karyawan, khususnya di sektor informal dan perusahaan rintisan. Padahal, menurut dia, keberlanjutan produktivitas sangat bergantung pada kondisi psikologis pekerja.
Ia mendorong perusahaan mulai menerapkan kebijakan yang lebih berpihak pada kesehatan mental, seperti pengaturan jam kerja yang jelas, pemberian cuti yang memadai, hingga penyediaan layanan konseling.
“Burnout bukan tanda lemah, tetapi sinyal bahwa seseorang sudah bekerja melampaui batasnya. Ini harus dipahami, bukan diabaikan,” tegas Billy.
Di sisi lain, ia mengingatkan pekerja muda agar lebih peka terhadap kondisi diri, berani menetapkan batas kerja, serta tidak ragu mencari bantuan profesional bila diperlukan.
Dengan meningkatnya kesadaran tersebut, Billy berharap Bandung tak hanya dikenal sebagai kota kreatif, melainkan juga mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental para pekerja mudanya. (SAT)



.jpeg)

Posting Komentar