![]() |
| HALAL BIHALAL: Wakil Wali Kota Cimahi, Aditya Yudhistira, Menyapa dan Bersalaman Dengan Masyarakat Usai Salat Idul Fitri di Masjid Agung Kota Cimahi (ISTIMEWA) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Agung Cimahi, Sabtu (21/3/2026), tak sekadar menjadi momen ibadah tahunan. Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam menghadirkan ruang ibadah yang benar-benar inklusif bagi seluruh masyarakat.
Untuk pertama kalinya, Pemerintah Kota Cimahi menyelenggarakan Shalat Ied secara inklusif dengan menghadirkan juru bahasa isyarat selama khutbah berlangsung.
Kehadiran ini memastikan jamaah penyandang disabilitas rungu dapat memahami setiap pesan yang disampaikan, tanpa terhalang keterbatasan komunikasi.
Di tengah ribuan jamaah yang memadati area masjid hingga Alun-alun Kota Cimahi, konsep inklusivitas terasa nyata.
Tidak ada perbedaan, tidak ada sekat semua jamaah memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti rangkaian ibadah dengan khusyuk.
Juru bahasa isyarat yang berdiri di sisi mimbar menjadi simbol kuat dari semangat tersebut.
Setiap gerakan yang diterjemahkan bukan hanya menyampaikan isi khutbah, tetapi juga menghadirkan rasa keterlibatan dan kesetaraan bagi jamaah tunarungu.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira menegaskan, pelaksanaan ini merupakan langkah konkret, bukan sekadar simbolis.
“Inklusivitas bukan hanya wacana. Ini adalah komitmen agar seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dapat mengakses kegiatan keagamaan dengan setara,” ujarnya baru-baru ini.
Menurutnya, ibadah yang inklusif berarti memastikan tidak ada satu pun kelompok yang tertinggal. Kehadiran juru bahasa isyarat menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman ibadah yang adil dan bermakna bagi semua.
Pemerintah Kota Cimahi, lanjut Adhitia, berharap langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Shalat Ied di Cimahi tahun ini menjadi pengingat kuat, inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata di mana setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki tempat yang sama dalam menjalankan ibadah.
"Bahwa kegiatan keagamaan tidak hanya soal pelaksanaan ritual, tetapi juga tentang membuka ruang yang ramah, setara, dan dapat diakses oleh siapa saja," tegasnya menutup. (SAT)



.jpeg)

Posting Komentar