![]() |
| Salah Satu Peserta FLS3N saat Tampil dalam Kategori Lomba Solo Nyanyi (Doc. Surat Kabar) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Suasana SMKN 3 Cimahi terasa berbeda, bukan hanya deretan siswa berseragam, tetapi juga energi kreativitas yang memenuhi setiap sudut sekolah. Dari lantunan lagu hingga gerak tari tradisional, semuanya berpadu dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 tingkat Kota Cimahi.
Tahun ini, SMKN 3 Cimahi menjadi tuan rumah. Sebanyak 12 SMK ambil bagian, mewakili sekolah masing-masing dari total 21 SMK yang ada di kota ini. Mereka datang bukan sekadar untuk bertanding, tetapi membawa karya, proses panjang, dan harapan.
Berbagai cabang lomba dipertandingkan, mulai dari cipta puisi, cerpen, film pendek, jurnalistik, cipta lagu, nyanyi solo, musik tradisi, monolog, tari tradisional, hingga fotografi.
Setiap penampilan menjadi panggung kecil yang memperlihatkan cara siswa bercerita melalui seni. Di balik riuhnya acara, ada satu tujuan yang sama, melangkah lebih jauh.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kota Cimahi, Shofa Krisna, menyebut FLS3N sebagai agenda tahunan yang konsisten digelar untuk menggali potensi siswa.
"Jadi FLS3N ini kan seleksi tingkat kota, nanti para juara-juaranya akan kita ajukan ke tingkat provinsi. Nanti dari tingkat provinsi kalau misalnya sudah ada dan kalau menang, bisa ke tingkat nasional," ujarnya saat diwawancarai Surat Kabar di sela kegiatan, Kamis (23/4/26).
Bagi para peserta, panggung ini adalah gerbang awal. Mereka yang terbaik di tingkat kota akan melanjutkan perjalanan ke tingkat provinsi, lalu berpeluang menembus nasional.
Lokasi penyelenggaraan pun tidak menetap. Setiap tahun bergilir dari satu sekolah ke sekolah lain. Tahun ini, SMKN 3 Cimahi dipilih karena dinilai memiliki fasilitas yang memadai.
"Alhamdulillah tahun ini diselenggarakan di SMKN 3 Cimahi, karena tempatnya bagus dan luas, maka kami menentukan di sini," kata Shofa.
Ia menyebut, sebelumnya FLS3N pernah digelar di SMK Sangkuriang 1 dan SMK Bhakti Kencana. Sistem rotasi ini, menurutnya, memberi kesempatan semua sekolah untuk saling mengenal.
"Jadi setiap tahunnya akan berputar. Jadi minimal biar bisa tahu seluruh SMK Kota Cimahi," katanya.
Meski telah rutin digelar, perjalanan menuju tingkat nasional bukan perkara mudah. Tahun sebelumnya, peserta dari Cimahi sempat melaju ke tingkat provinsi, namun belum berhasil menembus nasional.
"Jadi mudah-mudahan tahun ini, dari tingkat kota bisa lolos ke tingkat provinsi dan nanti bisa ke tingkat nasional," ucapnya optimis.
Harapan itu juga terasa di kalangan tuan rumah. Plt Kepala SMKN 3 Cimahi, Ade Sudrajat, mengatakan sekolahnya turut mengirimkan peserta di beberapa cabang lomba, seperti solo nyanyi, tari jaipong, dan poster.
"Kemudian ikut lomba poster juga. Solo nyanyi, nari, dan lomba poster," kata Ade.
Para peserta yang diturunkan berasal dari kelas 10 dan 11. Sementara siswa kelas 12 tidak diikutsertakan karena telah menyelesaikan masa studi.
Ade mengakui, beberapa peserta yang tampil bukan nama baru di dunia kompetisi. Mereka telah memiliki pengalaman dan prestasi sebelumnya.
"Untuk tahunnya saya lupa, tapi pernah. Dan sekarang juga yang ikutan lomba fotografi, lomba poster, itu memang yang dari SMKN 3 Cimahi, peserta yang diikutsertakan sudah mengikuti lomba di berbagai kejuaraan dan memang dia juara," ujarnya.
Sikap optimistis itu kian menebal. Ade menyebut bahwa pihaknya sudah mengantongi rasa percaya diri yang cukup tinggi untuk menyabet gelar di kategori poster hingga fotografi
"Optimis untuk menang. Dan guru-gurunya juga pendampingnya juga memang sudah terbiasa untuk mendampingi level nasional," sambungnya.
Namun, kompetisi ini bukan hanya soal karya terbaik. Ada faktor lain yang sering kali tak terlihat, mental bertanding. Persiapan peserta, kata Ade, sudah dimulai jauh sebelum hari pelaksanaan, bahkan sejak bulan puasa.
"Persiapannya sudah matang, kan kalau lomba-lomba kayak gini tidak hanya mencari juara, tapi juga mengasah mental. Jadi ada pengalaman buat anak untuk menjaga mental bertanding, mental bertanding saja yang terpentingnya," kata Ade.
Dari 21 SMK yang ada di Cimahi, hanya 12 yang ikut berpartisipasi tahun ini. Menurut Ade, sekolah yang berpartisipasi adalah mereka yang benar-benar siap bersaing.
"Berarti yang 12 ini yang memang sudah terbaik di sekolahnya masing-masing. Dan semua sekolah pede dengan itu. Cuman kan tinggal di penjurian, dan apakah anak sudah terbiasa untuk lomba atau enggak," ujarnya.
Ia menambahkan, tidak jarang hasil lomba ditentukan oleh hal-hal di luar kualitas karya.
"Yang pada saat itu anak sebetulnya belum siap, padahal secara karya sudah bagus," tuturnya.
Di tengah semua dinamika itu, FLS3N tetap menjadi ruang belajar tentang keberanian tampil, menerima hasil, dan menjaga mimpi tetap hidup. Sebagai tuan rumah, SMKN 3 Cimahi pun merasakan kebanggaan tersendiri.
"Nah untuk tahun ini memang di SMKN 3 Cimahi. Tahun ini ada 12 SMK yang ikut FLS3N ini, dan ini adalah seleksi tingkat kota yang akan mewakili Kota Cimahi ke level Jawa Barat," kata Ade.
Di akhir pernyataannya, harapan kembali ditegaskan, agar ada wakil dari Kota Cimahi yang mampu melangkah lebih jauh.
"Dan mudah-mudahan yang terbaik dari Cimahi ini bisa mewakili Cimahi dengan baik dan bisa juara di level provinsi," tandasnya.
Di atas panggung itu, langkah kecil sedang dimulai, menuju mimpi yang lebih besar, bahkan hingga tingkat nasional. (SAT)


Posting Komentar