SURAT KABAR, CIMAHI - Praktik vandalisme menyingkap rapuhnya pengelolaan ruang publik di Kota Cimahi. Sejumlah dinding Underpass Dustira di Jalan Sriwijaya Raya, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, dipenuhi coretan cat semprot tak bertanggung jawab, tak lama setelah fasilitas tersebut direnovasi dan dicat ulang akibat kebocoran.
Underpass Dustira, sebagai salah satu jalur penghubung vital di pusat kota, kini justru memantulkan kontras tajam antara upaya perbaikan infrastruktur dan lemahnya pengawasan pasca penataan.
Coretan-coretan yang muncul mencolok di permukaan dinding, merusak estetika kawasan sekaligus menghadirkan kesan kumuh di ruang publik yang semestinya terawat.
Pantauan di lokasi menunjukkan berbagai tulisan dan gambar acak menutupi dinding underpass. Warna cat semprot yang kontras dengan lapisan baru memperjelas jejak vandalisme yang diduga terjadi berulang dan tanpa penindakan tegas.
Sejumlah warga menilai kondisi tersebut mencerminkan rendahnya kesadaran sebagian pihak dalam menjaga fasilitas umum, sekaligus memperlihatkan celah pengawasan di ruang publik strategis.
Oded (56), warga Baros, mengaku prihatin melihat underpass yang kembali tercemar coretan.
"Sangat disayangkan, apalagi tulisan-tulisan nya itu gak jelas menurut saya," kata Oded saat ditemui, Jum'at (6/2/2026).
Menurut dia, vandalisme bukan sekadar soal keindahan visual, melainkan bentuk pengabaian terhadap upaya pemerintah yang telah mengalokasikan tenaga dan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur publik.
Oded menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Merusak estetika kota, itu orang benar-benar tak bertanggung jawab. Pemerintah sudah capek-capek bikin kota ini indah malah di rusak,"bujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Zahra Nurul Fatimah (22), mahasiswi yang hampir setiap hari melintasi kawasan Underpass Dustira. Ia menyebut pemandangan dinding penuh coretan bukan hal baru, bahkan terjadi secara berulang.
"Hampir setiap hari saya lihat. Terutama di underpass itu ya, pasti ada saja ada coretan," kata Zahra.
Bagi Zahra, pola vandalisme yang terus berulang menunjukkan bahwa persoalan ini telah melampaui sekadar insiden sporadis. Coretan-coretan tersebut, menurutnya, umumnya berupa nama geng, inisial, hingga gambar yang dibuat menggunakan cat semprot.
"Biasanya tulisan nama geng atau inisial pakai cat semprot. Ada juga gambar-gambar enggak jelas," ujarnya.
Dampaknya dirasakan langsung oleh pengguna jalan. Zahra mengaku merasa tidak nyaman, bahkan was-was, terutama saat melintasi underpass seorang diri pada sore hingga malam hari. Ruang publik yang seharusnya memberi rasa aman justru menghadirkan kesan terabaikan.
Fenomena vandalisme di Underpass Dustira menambah daftar panjang persoalan tata kelola ruang publik di Cimahi mulai dari perawatan, pengawasan, hingga penegakan aturan.
"Terlihat kumuh dan enggak terawat, padahal itu ruang publik. Jadi kesannya kayak enggak ada yang peduli," kata dia menutup. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar