SURAT KABAR - Pendampingan anak dengan Cerebral Palsy tidak cukup hanya berfokus pada kondisi anak. Ketahanan psikologis orang tua dan kekuatan keluarga juga menjadi kunci agar proses pengasuhan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, PT Martasandy Psychology Indonesia memperkuat kolaborasi bersama Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI) dan Universitas Atma Jaya untuk mengembangkan dukungan psikologis berbasis komunitas bagi keluarga anak dengan Cerebral Palsy.
Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem dukungan yang melibatkan psikologi, pendidikan, keluarga, komunitas, akademisi, tenaga kesehatan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Director PT Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy, PhD, menilai kebutuhan keluarga yang memiliki anak dengan Cerebral Palsy bersifat kompleks sehingga membutuhkan pendekatan lintas disiplin.
Menurut dia, dukungan terhadap keluarga tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Penguatan kapasitas keluarga perlu dibangun melalui kerja bersama agar dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan.
"Ketika kita berbicara tentang anak dengan Cerebral Palsy, yang perlu dikuatkan bukan hanya anaknya, tetapi juga keluarga yang setiap hari mendampingi proses tumbuh kembangnya. Karena itu, kami melihat kolaborasi lintas sektor sebagai bagian penting untuk menghadirkan dukungan yang lebih utuh dan berkelanjutan,” ujar Billy.
Karena itu, pengembangan RCP BETACICI juga diarahkan untuk membuka ruang kolaborasi dengan tenaga kesehatan, pendidik, komunitas dan berbagai pihak lain dalam menciptakan lingkungan yang inklusif serta ramah disabilitas.
"Bagi kami, keluarga dan komunitas bukan sekadar penerima manfaat. Mereka adalah mitra yang memiliki pengalaman dan pengetahuan penting mengenai kebutuhan di lapangan. Dari sana, program psikologi bisa dikembangkan agar lebih tepat sasaran, relevan, dan memiliki dampak jangka panjang,” katanya.
Perspektif psikologi pendidikan kemudian diperkuat melalui keterlibatan APPI. Ketua APPI, Dr. Weny Savitry S. Pandia, M.Si., Psikolog, menjadi pembicara dalam kegiatan pada Minggu, 27 September 2026, dengan tema “Memahami Anak, Menguatkan Keluarga, dan Menemukan Kekuatan Bersama.”
Dalam pemaparannya, Weny menekankan pentingnya posisi keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak. Ketangguhan orang tua berkaitan erat dengan kualitas pengasuhan, termasuk kemampuan menghadirkan kehangatan, rasa aman, kepercayaan, afeksi positif, serta respons yang sesuai terhadap kebutuhan anak.
Ketangguhan juga tidak hanya dilihat sebagai kemampuan individu. Keluarga dipandang sebagai sebuah sistem yang dipengaruhi oleh keyakinan keluarga, pola komunikasi, fleksibilitas, keterhubungan antaranggota keluarga, hingga pemanfaatan sumber daya sosial dan ekonomi.
Pandangan tersebut memperluas cara melihat dukungan psikologis bagi keluarga anak dengan Cerebral Palsy. Anak tetap menjadi pusat perhatian, tetapi kondisi orang tua dan lingkungan keluarga juga harus diperkuat agar proses pengasuhan dapat berjalan secara adaptif.
Sementara itu, VP Growth and Partnership PT Martasandy Psychology Indonesia sekaligus Koordinator Program dan Pengembangan RCP BETACICI, Dian Rahmawati, S.Psi., berperan dalam memetakan kebutuhan keluarga melalui observasi, wawancara, dan survei.
Pemetaan terhadap 56 responden menjadi salah satu dasar dalam menentukan prioritas program, termasuk pengelolaan stres dan emosi orang tua, kelelahan caregiver, pemahaman perkembangan anak, peningkatan kemandirian, serta kebutuhan psikologis anak.
Pendekatan tersebut menempatkan keluarga dan komunitas sebagai mitra dalam merancang solusi. Artinya, program tidak semata-mata dibuat dari perspektif penyelenggara, tetapi dikembangkan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Kolaborasi antara Martasandy Psychology Indonesia, APPI dan Universitas Atma Jaya pun diharapkan dapat mempertemukan pengalaman komunitas dengan perspektif psikologi, pendidikan dan akademik.
Pada akhirnya, penguatan keluarga menjadi fondasi penting dalam menciptakan ruang tumbuh yang lebih baik bagi anak dengan Cerebral Palsy.
Ketika keluarga memiliki dukungan yang memadai, anak memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Sementara ketika komunitas bergerak bersama, dukungan terhadap keluarga tidak lagi menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan menjadi gerakan bersama.
“Satu Hati, Satu Semangat, untuk Anak Cerebral Palsy — Sehat, Kuat dan Semangat.” (SAT)


Posting Komentar