Martasandy Psychology Indonesia Petakan Kebutuhan 56 Keluarga Anak Cerebral Palsy

Redaksi
Tambahkan
...
0
Martasandy Psychology Indonesia Petakan Kebutuhan 56 Keluarga Anak Cerebral Palsy

SURAT KABAR - Dukungan terhadap keluarga yang mendampingi anak dengan Cerebral Palsy dinilai perlu dimulai dari pemahaman terhadap persoalan yang benar-benar mereka hadapi.

Karena itu, PT Martasandy Psychology Indonesia bersama komunitas RCP BETACICI melakukan pemetaan kebutuhan keluarga sebagai dasar pengembangan program psikologi berbasis komunitas.

Pemetaan tersebut dilakukan melalui observasi, wawancara, dan survei terhadap orang tua maupun pengasuh anak dengan Cerebral Palsy. Sebanyak 56 responden terlibat dalam proses tersebut.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa mayoritas responden merupakan ibu yang sekaligus menjalankan peran sebagai pengasuh utama. Kondisi ini menjadi perhatian karena beban pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan anak, tetapi juga menyangkut kondisi fisik dan psikologis caregiver.

Sejumlah kebutuhan kemudian muncul sebagai prioritas, mulai dari pemahaman mengenai kondisi dan perkembangan anak, mendorong kemandirian anak, mengelola stres dan emosi, mengatasi kelelahan caregiver, hingga memahami kebutuhan psikologis anak.

Selain itu, keluarga juga menghadapi persoalan terkait stigma, penerimaan lingkungan, tuntutan pengasuhan sehari-hari, serta keterbatasan akses terhadap informasi dan dukungan sosial.

VP Growth and Partnership PT Martasandy Psychology Indonesia, Dian Rahmawati, S.Psi., mengatakan pemetaan tersebut menjadi bagian penting sebelum sebuah program dikembangkan.

Menurutnya, kebutuhan komunitas perlu didengarkan terlebih dahulu agar program yang disusun tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi benar-benar menjawab persoalan keluarga.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan peran Dian sebagai Koordinator Program dan Pengembangan RCP BETACICI. Ia terlibat dalam proses menghubungkan kebutuhan komunitas dengan pengembangan program serta peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Dalam pendekatan ini, komunitas ditempatkan bukan sekadar sebagai penerima manfaat. Pengalaman keluarga justru menjadi sumber utama untuk memahami persoalan sekaligus menentukan bentuk dukungan yang dibutuhkan.

“Pengembangan program dimulai dari mendengar. Setelah kebutuhan didengar, kita memetakan persoalan, menentukan prioritas, kemudian menerjemahkannya menjadi program yang relevan,” kata Dian.

PT Martasandy Psychology Indonesia menilai penguatan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dukungan terhadap anak dengan Cerebral Palsy.

Sebab, orang tua dan caregiver yang memiliki kapasitas psikologis lebih baik akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan pengasuhan, sekaligus mendukung anak untuk berkembang dan mencapai kemandirian.

Kolaborasi dengan berbagai pihak pun diarahkan untuk memperluas dukungan, mulai dari psikologi, pendidikan, kesehatan, komunitas hingga akademisi. Semangat tersebut terangkum dalam pesan, “Satu Hati, Satu Semangat, untuk Anak Cerebral Palsy — Sehat, Kuat dan Semangat.” (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar