SURAT KABAR – Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Diabetes Melitus terus dilakukan melalui edukasi kesehatan. Salah satunya lewat kegiatan Service Learning yang digelar di Desa Malasari pada 27 Juli 2026 dengan menyasar warga penderita Diabetes Melitus, maupun masyarakat yang memiliki anggota keluarga, tetangga, atau teman dengan kondisi tersebut.
Kegiatan edukasi Diabetes Melitus ini bertujuan meningkatkan pengetahuan warga agar mampu mengenali kondisi kegawatan akibat komplikasi hipoglikemia dan hiperglikemia.
Selain mengenali gejalanya, warga juga dibekali pemahaman mengenai penanganan awal yang dapat dilakukan di rumah maupun lingkungan sekitar sebelum pasien mendapatkan pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam materi kegawatan Diabetes Melitus, hipoglikemia disebut sebagai salah satu komplikasi yang paling sering terjadi. Berdasarkan penelitian Shafiee G, Mohajeri-tehrani M, dan Pajouhi M (2012), sekitar 90 persen penderita diabetes yang mendapatkan terapi insulin pernah mengalami episode hipoglikemia.
Kondisi hipoglikemia dapat dikenali melalui sejumlah tanda dan gejala, seperti pusing, tubuh gemetar, lemas, pandangan kabur, keringat dingin hingga penurunan kesadaran. Pengenalan gejala tersebut menjadi penting agar penderita Diabetes Melitus dapat segera memperoleh penanganan awal sebelum kondisinya semakin memburuk.
Selain hipoglikemia, warga juga mendapatkan edukasi mengenai hiperglikemia yang dapat berkembang menjadi kondisi kegawatan dan mengancam jiwa. Dua kondisi utama yang perlu diwaspadai adalah Ketoasidosis Diabetikum (KAD) dan Status Hiperglikemik Hiperosmolar (HHS).
Adapun tanda bahaya hiperglikemia antara lain mual, muntah, napas beraroma buah, kebingungan hingga penurunan kesadaran. Dengan mengetahui gejala kegawatan Diabetes Melitus tersebut, masyarakat diharapkan tidak terlambat memberikan pertolongan maupun membawa penderita ke layanan kesehatan.
Pentingnya edukasi Diabetes Melitus juga terlihat dari data Puskesmas Curug Bitung periode 1-30 Juni 2026. Berdasarkan data tersebut, kunjungan pasien Diabetes Melitus pada Januari 2026 berada di urutan ketiga.
Kemudian pada Februari hingga Mei 2026, kunjungan meningkat menjadi urutan kedua dan kembali mengalami peningkatan hingga menempati urutan pertama pada Juni 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai Diabetes Melitus, khususnya dalam menghadapi kemungkinan kegawatan akibat kadar gula darah yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi.
Pengetahuan mengenai pertolongan pertama diharapkan dapat membantu warga mengambil tindakan awal sebelum penderita dibawa ke pelayanan kesehatan.
Dukungan masyarakat terhadap kegiatan edukasi Diabetes Melitus tersebut juga dinilai sangat baik. Hal itu terlihat dari kehadiran warga serta dukungan sejumlah tokoh masyarakat, khususnya kepala kasepuhan desa, kepala desa, dan kepala puskesmas yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan edukasi Diabetes Melitus tersebut berlangsung di rumah dan pendopo Kepala Kasepuhan Desa Malasari pada 27 Juli 2026. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan warga berdasarkan perbandingan nilai pre-test dan post-test, dengan rata-rata skor mengalami kenaikan sebesar 2,47.
Selain mendapatkan materi mengenai kegawatan Diabetes Melitus, warga juga diperkenalkan dengan terapi genggam jari yang ditujukan untuk membantu menjaga kestabilan gula darah.
Warga turut diberikan motivasi agar lebih rutin melakukan kontrol kesehatan ke Pustu yang berada di Desa Malasari sebagai bagian dari upaya pengelolaan Diabetes Melitus secara berkelanjutan. (SAT)


Posting Komentar