SURAT KABAR - Pernah nggak sih kalian ngerasa pengen ketawa kencang padahal hati lagi hancur berkeping-keping? Atau justru nangis kejer pas dapet kabar paling bahagia dalam hidup? Tenang, kamu nggak aneh kok!
Belakangan ini, sebuah postingan dari akun asakusamedia lagi jadi buah bibir netizen karena ngebahas soal "Paradoks Emosi Manusia".
Postingan yang menampilkan cuplikan film Perfect Days ini sukses bikin ribuan orang baper dan merasa "relate" banget. Ternyata, perasaan manusia itu nggak sesederhana hitam di atas putih, lho!
Penasaran gimana penjelasannya? Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Tertawa di Balik Luka: Mekanisme Pertahanan Jiwa
Sering dibilang "tertawa di atas penderitaan sendiri", ternyata ada penjelasan psikologisnya. Di postingan tersebut dijelaskan kalau Puncak Sedih adalah Tertawa.
Saat beban mental udah terlalu berat dan otak nggak sanggup lagi memproses rasa sakit, tubuh kita seringkali ngeluarin reaksi "korslet" berupa tawa.
Ini bukan tawa bahagia ya, tapi lebih ke defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri. Tujuannya? Biar kita nggak benar-benar "ambruk".
Jadi, kalau kamu lihat teman kamu ketawa getir pas lagi curhat masalah berat, jangan dikira dia bercanda. Bisa jadi itu adalah titik terendahnya.
Menangis Karena Bahagia: Saat Hati Nggak Lagi Muat Penampung
Siapa yang pas momen wisuda atau dilamar pacar malah nangis sesenggukan? Nah, ini dia yang disebut Puncak Senang adalah Nangis.
Katanya sih, air mata itu hadir ketika kebahagiaan udah meluap-luap dan nggak bisa lagi ditampung hanya dengan senyuman.
Secara ilmiah, ini adalah cara tubuh buat menyeimbangkan emosi yang terlalu intens. Air mata bahagia adalah bukti kalau momen itu saking indahnya sampai menyentuh bagian terdalam dari jiwa kita. So sweet banget kan?
Diam Itu Emas? Bukan, Diam Itu Marah Besar!
Nah, yang satu ini pasti banyak yang setuju, terutama buat para cewek-cewek nih! Puncak Amarah adalah Diam. Kalau biasanya orang marah itu teriak-teriak atau banting barang, justru amarah yang paling berbahaya dan paling "jujur" adalah ketika seseorang sudah memilih untuk bungkam.
Kenapa? Karena di titik itu, kata-kata sudah nggak dianggap cukup buat mewakili rasa kecewa. Diam menjadi bentuk protes paling tinggi sekaligus tanda kalau seseorang sudah lelah untuk berdebat.
Kalau pasangan kamu tiba-tiba diam seribu bahasa, wah, itu sinyal merah banget! Kamu harus ekstra hati-hati.
Kesimpulan: Menjadi Manusia yang Utuh
Paradoks emosi ini ngajarin kita kalau jadi manusia itu kompleks. Kita nggak perlu selalu terlihat "sinkron" antara apa yang dirasakan dan apa yang ditunjukkan.
Dunia ini memang penuh warna, dan emosi kita adalah bagian dari pelangi kehidupan yang kadang nggak masuk akal tapi nyata.
Postingan yang viral ini seolah jadi pengingat buat kita semua untuk lebih empati sama orang sekitar. Jangan mudah menghakimi ekspresi seseorang, karena kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan di balik tawa atau diamnya mereka.
Gimana nih menurut kalian? Kamu tim yang kalau sedih malah ketawa atau kalau marah langsung silent mode? (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar