SURAT KABAR, CIMAHI - Di tengah riuh notifikasi dan derasnya video yang tak pernah habis di layar gadget, buku perlahan menghadapi lawan yang jauh lebih menggoda, dunia digital. Namun, di satu sudut, sejumlah anak justru memilih membalik halaman demi halaman. Mereka tidak sedang ketinggalan zaman.
Mereka sedang menemukan dunia dengan cara yang lebih sunyi membaca, membayangkan, memahami, dan bertanya. Sebuah pemandangan sederhana yang sekaligus menjadi alarm bahwa budaya membaca anak perlu terus dijaga sebelum kalah oleh gemerlap layar.
Suara notifikasi terdengar nyaris tanpa jeda. Jari-jari kecil begitu lincah menyapu layar gadget, berpindah dari satu tayangan ke tayangan lainnya. Namun, di tengah riuh dunia digital itu, ada pemandangan yang terasa berbeda.
Sejumlah anak justru duduk tenang. Tak ada layar menyala di tangan mereka. Yang terbuka adalah sebuah buku. Lembar demi lembar dibalik. Mata mereka mengikuti tulisan dan gambar. Sesekali, ekspresi wajah berubah ketika menemukan cerita yang menarik.
Pemandangan sederhana itu menjadi sesuatu yang ingin terus dijaga oleh Siti Khotimah, perempuan asal Kota Cimahi yang akrab disapa Otie. Bagi dia, buku bukan sekadar kumpulan kertas dengan tulisan di dalamnya. Buku adalah pintu. Dari sana, anak-anak bisa berkenalan dengan dunia yang bahkan belum pernah mereka datangi.
“Lebih dari sekadar menambah pengetahuan, buku juga dapat menanamkan nilai kehidupan. Cerita tentang persahabatan mengajarkan kepedulian, kisah perjuangan menumbuhkan semangat, sementara buku pengetahuan mendorong anak untuk terus bertanya dan mencari jawaban," ujar Otie, Senin (10/08/2026).
Otie memahami betul bahwa mengajak anak membaca buku fisik di era gadget bukan perkara sederhana. Teknologi menawarkan segala sesuatu dengan cepat. Hiburan tinggal disentuh. Informasi bisa muncul dalam hitungan detik. Anak-anak pun memiliki begitu banyak pilihan untuk menghabiskan waktu tanpa harus membuka satu halaman buku pun.
Di situlah, menurut Otie, tantangannya. Bukan bagaimana menjauhkan anak dari gadget, melainkan bagaimana membuat buku tetap memiliki tempat di tengah kehidupan mereka.
"Di zaman gadget seperti sekarang, tantangan untuk menumbuhkan minat baca memang semakin besar. Berbagai hiburan digital dapat diakses dengan mudah dan cepat," katanya.
Bagi Otie, membaca tidak harus selalu dimulai dari buku tebal atau target berlembar-lembar yang justru membuat anak merasa terbebani. Beberapa halaman setiap hari, menurut dia, sudah cukup menjadi langkah awal.
Sebab, yang sedang dibangun bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah rasa penasaran tumbuh. Dari rasa penasaran, anak mulai bertanya. Kemudian mencari jawaban. Perlahan, cara berpikir mereka pun ikut berkembang.
"Membaca juga menjadi cara untuk melatih konsentrasi. Ketika membaca, anak diajak untuk memahami setiap kalimat, mengikuti alur cerita dan menangkap pesan yang disampaikan," tutur perempuan berhijab tersebut.
Otie percaya, kebiasaan sederhana itu dapat memberikan dampak panjang. Anak tidak hanya menjadi lebih akrab dengan bacaan, tetapi juga belajar memahami informasi dan melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dan semuanya, bisa dimulai dari rumah. Orang tua dapat menyediakan buku yang sesuai dengan kesukaan anak. Tidak harus selalu buku pelajaran. Buku cerita, komik edukatif, ensiklopedia anak atau bacaan bergambar pun bisa menjadi pintu masuk.
Sekolah dan lingkungan sekitar juga memiliki peran yang sama pentingnya. Pojok baca dan ruang literasi yang nyaman dapat menjadi tempat bagi anak untuk mengenal buku tanpa merasa sedang dipaksa belajar.
Karena bagi Otie, membaca seharusnya menghadirkan rasa senang, bukan tekanan. Ketika buku hadir sebagai teman, anak akan lebih mudah mendekat. Sebaliknya, jika membaca selalu identik dengan kewajiban dan tugas, buku bisa terasa seperti beban.
Itulah mengapa gerakan gemar membaca, menurut Otie, harus terus digelorakan. Tidak perlu menunggu anak membaca puluhan halaman dalam sehari. Tidak perlu pula memulai dengan target besar.
Satu halaman. Dua halaman. Beberapa menit setiap hari. Kecil, tetapi konsisten, bagi Otie, dari kebiasaan kecil itulah sesuatu yang besar bisa tumbuh.
Sebab sebuah buku yang dibuka hari ini mungkin belum langsung mengubah seorang anak. Tetapi cerita yang dibaca, pengetahuan yang ditemukan dan pertanyaan yang muncul di dalam kepala mereka bisa menjadi bekal untuk masa depan.
Pada akhirnya, Otie tidak sedang mengajak anak-anak memilih antara buku atau gadget. Ia hanya ingin memastikan, ketika dunia semakin ramai oleh layar, buku tidak ikut kehilangan tempat. Sebab anak-anak boleh saja tumbuh menjadi generasi yang piawai mengoperasikan gadget.
Tetapi di balik kecanggihan itu, mereka tetap membutuhkan kemampuan untuk berpikir, memahami, menganalisis dan melihat dunia dengan wawasan yang luas. Dan bagi Otie, buku masih menjadi salah satu jalan menuju ke sana.
"Di tengah cepatnya perubahan zaman, buku tetap menjadi
salah satu jendela terbaik untuk melihat dunia," tandas Otie. (SAT)


Posting Komentar