SURAT KABAR - Upaya menekan angka stunting tidak berhenti di ruang pelayanan kesehatan. Persoalan yang selama ini menjadi tantangan pembangunan sumber daya manusia tersebut juga ditentukan oleh apa yang tersaji di meja makan keluarga.
Di tengah masih kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap bahan pangan tertentu, pemanfaatan pangan lokal yang bergizi justru menjadi salah satu peluang yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Bhakti Kencana (UBK) Cabang Kendal Kelompok 17 menggelar program pengabdian kepada masyarakat bertajuk GEMARI (Gerakan Masyarakat Mandiri Mengolah Bahan Pangan Bergizi untuk Mencegah Stunting) di Balai Desa Purwokerto, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Senin (3/8/2026).
Program ini berangkat dari kenyataan bahwa stunting masih menjadi salah satu persoalan gizi kronis di Indonesia. Dampaknya tidak hanya terlihat pada tinggi badan anak yang terhambat, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas saat dewasa, hingga kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Karena itu, pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dipandang sebagai fase paling menentukan untuk mencegah stunting.
Melalui GEMARI, tim pengabdian masyarakat berupaya mendekatkan edukasi gizi kepada masyarakat dengan pendekatan yang sederhana, yakni memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan, memiliki nilai gizi tinggi, relatif terjangkau, serta dapat diolah menjadi makanan yang disukai bayi maupun balita.
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30 hingga 11.00 WIB tersebut diikuti oleh 4 ibu hamil dan 15 ibu yang memiliki bayi maupun balita.
Alih-alih hanya menyampaikan materi secara teoritis, peserta diajak memahami berbagai aspek pemenuhan gizi, mulai dari pengenalan makanan bergizi, prinsip gizi seimbang, kebutuhan nutrisi bayi dan balita, hingga mengenali tanda-tanda bahaya gizi buruk yang memerlukan penanganan tenaga kesehatan.
Peserta juga diperlihatkan bagaimana bahan pangan lokal dapat diolah menjadi menu yang lebih menarik. Salah satu contoh yang diperkenalkan adalah "Dimsum Nusa" yakni dimsum berbahan campuran daun kelor.
Tanaman yang selama ini banyak tumbuh di lingkungan sekitar masyarakat tersebut dipilih karena mengandung vitamin A, zat besi, kalsium, serta berbagai mineral lain yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pendekatan berbasis pangan lokal menjadi salah satu fokus kegiatan ini. Selain memperkenalkan sumber pangan yang mudah diakses masyarakat, peserta juga dilatih mengolah bahan tersebut agar memiliki nilai tambah dan lebih diminati anak-anak.
Efektivitas edukasi kemudian diukur melalui post test yang diberikan kepada seluruh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman pada hampir seluruh materi yang disampaikan.
Seluruh peserta, yakni 4 dari 4 ibu hamil dan 15 dari 15 ibu balita, mengetahui bahwa daun kelor mengandung vitamin dan mineral yang berperan penting bagi pertumbuhan bayi dan balita.
Pada materi mengenai deteksi dini gizi buruk, 1 dari 4 ibu hamil serta 11 dari 15 ibu balita memahami bahwa berat badan balita yang tidak mengalami kenaikan dapat menjadi salah satu tanda awal terjadinya gizi buruk.
Seluruh peserta juga mengetahui bahwa balita dengan kondisi tubuh sangat kurus harus segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Sementara itu, 3 dari 4 ibu hamil dan 14 dari 15 ibu balita memahami bahwa pemberian makanan bergizi secara tepat merupakan salah satu langkah penting dalam mencegah gizi buruk pada anak.
Hasil evaluasi juga menunjukkan seluruh peserta memahami bahwa daun kelor dapat diolah menjadi berbagai menu pendamping makanan bayi dan balita, sekaligus mengetahui kandungan vitamin A, zat besi, serta kalsium yang terdapat di dalamnya.
Seluruh ibu hamil dan ibu balita juga mengetahui bahwa balita yang tampak lemas, kehilangan nafsu makan, serta mengalami penurunan berat badan memerlukan perhatian serius.
Selain itu, 4 ibu hamil dan 14 dari 15 ibu balita memahami kapan balita harus segera dibawa ke tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda bahaya gizi buruk.
Meski demikian, evaluasi masih menemukan adanya ruang yang perlu diperkuat dalam edukasi gizi. Sebanyak 4 ibu hamil dan 12 dari 15 ibu balita belum mengetahui bahwa gizi lebih juga termasuk bagian dari masalah status gizi yang perlu diwaspadai.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai persoalan gizi masih cenderung berfokus pada kekurangan gizi, padahal kelebihan gizi juga dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan bagi anak.
Melalui GEMARI, Universitas Bhakti Kencana Cabang Kendal berharap edukasi mengenai gizi tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan semata.
Kemampuan keluarga memanfaatkan pangan lokal menjadi menu bergizi diharapkan dapat menjadi kebiasaan sehari-hari, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan berkelanjutan sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita. (SAT)


Posting Komentar