AI Mulai Jadi Tempat Curhat, Psikolog Ingatkan Batas Penggunaan Teknologi

Redaksi
Tambahkan
...
0
Psikolog Billy Martasandy

SURAT KABAR, BANDUNG - Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin meluas, termasuk untuk menjadi tempat bercerita ketika seseorang menghadapi persoalan mental dan psikologis. 

Kemudahan akses, respons yang cepat, serta kemampuan AI memberikan tanggapan membuat sebagian masyarakat mulai menjadikan teknologi sebagai alternatif ketika membutuhkan tempat untuk mencurahkan masalah.

Psikolog Billy Martasandy menilai fenomena tersebut perlu menjadi perhatian. Menurutnya, AI memang dapat membantu seseorang memperoleh informasi awal mengenai kondisi psikologis yang sedang dialami, tetapi tidak seharusnya menggantikan peran psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental.

"AI itu bisa menjadi teman berdiskusi, memberikan informasi, bahkan membantu seseorang mengenali apa yang sedang dia rasakan. Tetapi AI tidak memiliki kemampuan untuk melakukan asesmen psikologis secara menyeluruh seperti yang dilakukan psikolog," ujar Billy, Sabtu (15/8/26).

Ia menjelaskan, persoalan psikologis tidak selalu dapat dilihat hanya dari cerita atau jawaban yang diberikan seseorang. Psikolog perlu memahami konteks kehidupan, pola perilaku, kondisi emosional, lingkungan sosial, hingga berbagai faktor lain sebelum menentukan langkah penanganan.

Billy juga mengingatkan adanya risiko ketika seseorang terlalu bergantung kepada AI untuk menyelesaikan persoalan mentalnya. Jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu sesuai dengan kondisi individu yang bersangkutan.

"Yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang menganggap jawaban AI sebagai diagnosis atau sebagai keputusan final terhadap kondisi dirinya. Padahal, respons AI bisa saja tidak tepat, terlalu umum, atau tidak memahami konteks persoalan secara utuh," katanya.

Menurut Billy, keberadaan AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti hubungan profesional antara psikolog dan klien. 

Teknologi dapat digunakan untuk mencari informasi dasar, membantu menyusun pertanyaan sebelum berkonsultasi, atau menjadi sarana awal bagi seseorang untuk menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan.

Namun, ketika persoalan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan, pendidikan, atau menimbulkan kondisi emosional yang berat, Billy menyarankan masyarakat tidak berhenti pada konsultasi dengan AI.

"Kalau sudah menyangkut persoalan yang kompleks dan berdampak pada kehidupan sehari-hari, sebaiknya datang kepada psikolog. Jangan sampai AI justru membuat seseorang merasa sudah mendapatkan pertolongan, padahal masalah utamanya belum ditangani," ujarnya.

Billy menilai perkembangan AI justru harus dimanfaatkan untuk memperkuat literasi kesehatan mental. Masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai kapan teknologi dapat digunakan dan kapan seseorang harus mencari bantuan profesional.

Di sisi lain, ia melihat meningkatnya penggunaan AI untuk persoalan psikologis juga menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap akses layanan kesehatan mental yang mudah, cepat, terjangkau, dan tidak menghakimi.

"Fenomena ini sebenarnya menjadi sinyal bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk berbicara. Tantangannya adalah bagaimana kita memastikan ruang tersebut aman dan ditangani dengan metode yang tepat," kata Billy.

Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak mempertentangkan AI dengan psikolog. Menurutnya, keduanya dapat berjalan berdampingan selama fungsi dan batasannya dipahami.

"AI bisa menjadi pintu masuk untuk mendapatkan informasi. Psikolog tetap menjadi pihak yang memiliki kompetensi untuk melakukan asesmen dan intervensi psikologis secara profesional. Jadi bukan AI versus psikolog, tetapi bagaimana teknologi digunakan secara bijak untuk membantu manusia," tutupnya. (SAT)

Baca Juga

Tersalin!

Posting Komentar