![]() |
| TEKANAN REMAJA: Pergeseran Stres Pelajar, dari Nilai ke Tekanan Ekonomi Keluarga (Gemini AI) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Tekanan yang dihadapi pelajar menunjukkan perubahan. Jika sebelumnya didominasi tuntutan akademik, kini persoalan ekonomi mulai menjadi sumber stres baru yang memengaruhi kesehatan mental remaja.
Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA Cimahi, Yukie Agustia Kusmala, melihat adanya pergeseran pola tekanan di kalangan pelajar. Menurut dia, beban yang dihadapi remaja saat ini tidak lagi tunggal.
"Jadi stresor nya bertambah, Sekarang menariknya ada tambahan itu, entah dari keluarga, entah dari ekonomi, yang kita pikir seharusnya itu tidak jadi tanggungan atau beban pikiran pelajar, namun ternyata dipikirkan," kata Yukie, saat diwawancarai Surat Kabar di ruang kerjanya, Rabu, 8 April 2026.
Ia menilai, perubahan tersebut menjadi dinamika baru yang patut diperhatikan. Pelajar yang semestinya berfokus pada kegiatan belajar, kini turut memikirkan persoalan yang lebih kompleks, termasuk kondisi ekonomi keluarga.
Menurut Yukie, gangguan seperti kecemasan dan depresi tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan diawali oleh stresor dari luar individu.
"Stresor atau penyebab stres yang mengawali. Entah tadi tuntutan akademik, entah ekonomi, entah apa pun itu tuh yang bisa menyebabkan kesehatan mental turun, itu awalnya," ujarnya.
Ia menambahkan, dampak dari tekanan tersebut sangat bergantung pada respons individu. Cara seseorang memaknai dan menghadapi stresor menjadi penentu apakah tekanan berkembang menjadi kecemasan atau depresi.
"Atau misalnya kita jadi worry, kita jadi cemas. Itu tergantung diri kitanya. Tergantung seberapa kuat kita menghadapi masalahnya, tergantung bagaimana cara kita menanggapi masalah itu atau stresor itu," cetusnya.
Sementara itu, Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA Cimahi, Intan Mustika, menilai meningkatnya pembicaraan mengenai stres dan depresi di kalangan pelajar bukan fenomena baru. Menurut dia, kondisi tersebut kini hanya lebih terlihat.
"Mereka lebih punya kesadaran untuk menamai bahwa 'aku tuh lagi stres, aku tuh cemas, aku tuh sedih'," tutur Intan.
Ia menjelaskan, kehadiran media sosial turut memperkuat kesan seolah-olah isu kesehatan mental menjadi tren, padahal masalah tersebut telah lama ada.
"Maka, karena ada media sosial, bukan hanya jadi tahu keadaan diri tapi juga punya wadah untuk mengekspresikan secara terbuka," kata Intan.
Menurut dia, generasi saat ini memiliki kemampuan lebih dalam mengenali kondisi emosional, meskipun belum tentu seluruhnya tepat secara klinis.
"Jadi mereka bisa menamai, 'Oh ini yang namanya stres', 'Oh ini yang namanya aku frustrasi', 'Oh ini mungkin depresi', 'Oh ini cemas'," sambungnya.
Kemampuan itu, menurut Intan, menjadi langkah awal yang positif dalam memahami kondisi diri. Namun, keterbukaan di ruang digital membuat fenomena ini tampak lebih menonjol dibandingkan sebelumnya.
"Padahal itu bukan sesuatu yang baru happening, tapi ini tuh sesuatu yang pada dasarnya memang dirasakan manusia," tandasnya. (REL)


Posting Komentar