![]() |
| Popon Saadah, Guru Bahasa Sunda di SMPN 16 Cimahi (Doc: Surat Kabar) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Perubahan perilaku siswa akibat gawai hingga merosotnya literasi menjadi sorotan utama dalam perjalanan panjang pengabdian seorang guru Bahasa Sunda di Kota Cimahi. Selama lebih dari tiga dekade, dinamika itu dirasakan langsung oleh Popon Saadah, pendidik di SMPN 16 Cimahi yang tetap bertahan mengajar sejak akhir 1980-an.
Debu kapur, papan tulis hitam, hingga kini layar digital menjadi saksi perjalanan karier wanita kelahiran Limbangan, Garut, 13 Oktober 1966 tersebut. Sejak pertama kali mengajar pada 1989, Popon telah melewati berbagai fase perubahan pendidikan, dari era tanpa distraksi teknologi hingga masa ketika gawai mendominasi keseharian siswa.
Popon menilai, pergeseran paling terasa terjadi saat memasuki era digital. Menurutnya, kehadiran gadget telah mengubah pola perilaku dan minat belajar siswa secara signifikan.
"Jadi yang merusak menurut Ibu ya, prediksi Ibu dan kadang suka merenung, di antaranya adalah gadget. Jadi beda perilaku anak tahun 90-an dengan anak sekarang," ujarnya saat diwawancarai Surat Kabar di SMPN 16 Cimahi, Senin (20/4/2026).
Tak hanya soal perilaku, ia juga menyoroti menurunnya minat baca siswa. Upaya sekolah mendorong budaya literasi, menurutnya, belum cukup jika tidak didukung kebiasaan dari lingkungan keluarga.
"Literasi anak-anak Indonesia itu rendah, bukan hanya SMPN 16, Ibu rasa semuanya. Jadi membaca itu malas," tegasnya.
Popon mengawali kariernya di SMPN 4 Cimahi pada usia 22 tahun, setelah menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Sunda IKIP Bandung yang kini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kala itu, suasana belajar dinilainya lebih kondusif. Sistem seleksi berbasis Nilai Ebtanas Murni (NEM) membuat kualitas input siswa relatif merata, sehingga proses pembelajaran berjalan lebih efektif.
"Anak-anaknya," ucapnya singkat saat mengenang daya tarik mengajar di era 90-an, yang menurutnya minim distraksi teknologi.
Namun, tantangan kini tak hanya datang dari siswa, melainkan juga dari kondisi sosial keluarga. Selama menjadi wali kelas, Popon kerap menemukan persoalan siswa berakar dari lingkungan rumah, mulai dari perceraian orang tua hingga kurangnya perhatian.
"Kenapa mereka terjerumus pergaulan bebas? Ya karena orang tuanya saja cerai, atau dititipkan di neneknya. Anak-anak tuh luka batin, lalu larinya ke hal-hal yang negatif," ungkapnya.
Perbedaan latar belakang siswa juga terasa saat dirinya berpindah dari SMPN 4 ke SMPN 16 Cimahi. Jika sebelumnya mayoritas siswa berasal dari keluarga mapan, kini ia banyak menghadapi anak-anak dari masyarakat urban dengan persoalan ekonomi dan domestik yang lebih kompleks.
"Siswa di sini (SMPN 16) itu kebanyakan anak-anak masyarakat urban yang pindah dari suatu daerah, ngontrak di rumah yang satu petak, yah muncullah masalah-masalah keluarga," jelasnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Popon tetap memandang profesinya sebagai panggilan hidup. Ia mengaku sejak awal memang memiliki minat menjadi guru, yang kemudian berkembang menjadi passion hingga kini.
"Waktu kuliah kan belajar, bagaimana cara mengelola kelas. Jadi saya merasa bahwa menjadi guru itu pekerjaan yang sangat menyenangkan," tuturnya.
"Iya sih, ada cita-cita juga. Jadi tersalurkan, dan jadi passion saya sampai hari ini. Dan ternyata menyenangkan sebenarnya. Coba bayangkan, kita masuk ke kelas A dengan masuk ke kelas B sangat beda. Situasi kelas A dengan situasi kelas B beda," lanjutnya.
Interaksi dengan siswa yang lebih muda juga, menurutnya, menjadi sumber energi tersendiri.
"Setiap hari kita berinteraksi dengan anak-anak yang usianya jauh di bawah kita. Secara otomatis, itu memengaruhi pola hidup kita. Energi positif yang mereka pancarkan itu menular," katanya.
Selain perubahan perilaku dan literasi, Popon juga menyoroti menurunnya kemampuan siswa dalam berbahasa Sunda. Ia menyebut era 1990-an sebagai masa keemasan, ketika bahasa daerah masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
"Tahun 90-an itu jaya-jayanya guru Bahasa Sunda menurut Ibu. Soalnya ketika ulangan bagus-bagus. Nah, tahun 2000-an ke sini nih sudah mulai tidak paham, sehingga kita harus ekstra keras berpikir bagaimana supaya kita masuk kelas tuh anak asal seneng aja dulu lah," bebernya.
Menurutnya, peran keluarga menjadi kunci dalam pelestarian bahasa daerah.
"Apa pun, segala hal juga dimulai dari keluarga kan? Dan memang suka beda anak yang di rumahnya diajar Bahasa Sunda, di rumahnya ngomong Bahasa Sunda dengan yang tidak. Mereka yang bicara Bahasa Sunda lebih bisa menerima pelajaran kita," ujarnya.
Di sisi lain, ia menyoroti krisis tenaga pengajar Bahasa Sunda yang kini terjadi di berbagai sekolah.
"Nah, sayangnya sekarang itu krisis guru Bahasa Sunda. Di setiap sekolah kurang. Ada yang mengajar Bahasa Sunda itu guru Bahasa Inggris, di SMP lain guru olahraga. Jelas beda, yang bukan jurusannya mengajar Bahasa Sunda rohnya itu enggak ada, roh kesundaan nya enggak ada," terangnya.
Popon sendiri menjadi satu-satunya guru spesialis Bahasa Sunda di SMPN 16 Cimahi. Beban mengajarnya sempat mencapai 30 jam pelajaran per minggu untuk 15 kelas, sebelum akhirnya dibantu guru lain karena kondisi kesehatan.
Pada 2023, ia didiagnosis kanker payudara yang membuat fisiknya menurun. Menjelang masa pensiun pada Oktober 2026, ia memilih untuk beristirahat setelah puluhan tahun mengabdi.
"Ibu itu sudah capek, ingin menikmati pensiun, rasanya pensiun itu bagaimana gitu. Untungnya menjelang pensiun sakitnya. Oktober tahun ini, lima bulan lagi, sudah dihitung saja sama Ibu," pungkasnya.
Lebih dari sekadar pengajar, Popon menjadi simbol keteguhan dalam menjaga bahasa dan budaya di tengah arus perubahan zaman. Dari kapur tulis hingga layar digital, ia tetap berdiri di depan kelas, memastikan bahasa ibu tidak hilang ditelan waktu. (SAT)


Posting Komentar