![]() |
| Suasana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMPN 16 Cimahi (Doc: Istimewa) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Krisis tenaga pengajar Bahasa Sunda mulai terasa di sejumlah sekolah di Kota Cimahi. Di SMPN 16 Cimahi, keterbatasan itu bahkan terlihat nyata, hanya satu guru yang masih bertahan mengampu mata pelajaran tersebut, namun tetap mampu mencetak prestasi hingga tingkat provinsi.
Sosok tersebut adalah Popon Saadah (60), guru Bahasa Sunda yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak akhir 1980-an. Di tengah keterbatasan sarana dan minimnya tenaga pengajar sebidang, ia tetap konsisten membina siswa hingga mampu bersaing di ajang perlombaan.
Perempuan kelahiran Limbangan, Garut, 13 Oktober 1966 ini merupakan lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Institut Keguruan Bandung (UPI). Ia meraih gelar D-II pada 1988 dan mulai mengajar setahun kemudian di SMPN 4 Cimahi.
Selain mengajar, Popon juga aktif di dunia literasi. Sejak 2001, ia menulis cerita pendek (carpon) dan mengisi kolom di majalah berbahasa Sunda, Manglé atau Carpon, sambil menyelesaikan pendidikan sarjananya di UPI Bandung.
Sejumlah karyanya turut diterbitkan dalam antologi bersama, seperti Kanagan2, Lir Cahya Nyorot Euntung, serta kumpulan puisi Sajak Wanoja.
Namun, baginya, ruang kelas tetap menjadi pusat pengabdian. Ia menilai Bahasa Sunda memiliki karakter berbeda dibandingkan mata pelajaran lain, sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam pengajarannya.
"Tiba-tiba datang Bahasa Sunda, aneh-aneh gitu. Kita ngajarnya juga jangan seram, harus ceria dan menyenangkan, dan bermakna itu kan," kata Popon saat ditemui Surat Kabar di SMPN 16 Cimahi, Senin (20/4/2026).
Pendekatan yang santai namun bermakna itu ia terapkan selama puluhan tahun. Ia meyakini keberhasilan siswa tidak semata diukur dari nilai akademik, melainkan juga dari pengalaman dan capaian di luar kelas.
"Itu Ibu teh jadi mikir, wah berarti tidak menutup kemungkinan tempat yang serba terbatas ini memunculkan anak-anak yang berprestasi. Itu yang jadi pengalaman yang menyenangkan, ketika membawa anak lomba jadi juara," ungkapnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada 2025, ia kembali mengantarkan siswanya meraih prestasi dalam lomba penulisan carpon hingga tingkat provinsi, meski materi tersebut tergolong tidak mudah.
"Suruh gitu aja, 'Sok, baca ieu, baca ini, baca.' Nah, ketika tampil lomba, di sana juara satu tahun kemarin ke provinsi lomba menulis carpon, carita pondok," tuturnya.
"Itulah pengalaman tahun 2025. Kan sekarang 2026 belum. Tahun 2025 sampai ke provinsi itu SMPN 16," sambung Popon.
Di balik capaian itu, Popon menyoroti persoalan yang lebih luas, yakni minimnya guru Bahasa Sunda yang sesuai bidang keilmuan. Di sekolahnya, ia kini menjadi satu-satunya pengajar yang tersisa.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan minimnya pengangkatan tenaga pendidik menjadi pegawai negeri, yang berdampak langsung pada rendahnya minat mahasiswa untuk mengambil jurusan tersebut.
"Itu pengaruhnya besar sekali ke dunia pendidikan. Akhirnya mata pelajaran Bahasa Sunda kekurangan guru, karena yang ada pun tidak diangkat. Nah yang jadi pertanyaan kenapa tidak dijadikan diangkat PNS, itu belum terjawab," tegasnya.
Perjalanan kariernya juga tidak lepas dari dinamika. Pada 2020, setelah puluhan tahun mengajar di SMPN 4 Cimahi, ia dipindahkan karena penyesuaian kebutuhan jam mengajar. Ia sempat mengajar di dua sekolah sebelum akhirnya fokus di SMPN 16 Cimahi sejak 2022.
"Nah, pindah aja, Ibu teh langsung fokus di sini," katanya.
Dalam proses pembelajaran, Popon terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ia memanfaatkan media digital untuk mendekatkan materi kepada siswa, salah satunya melalui aplikasi desain.
"Misalnya bikin poster nih, poster Bahasa Sunda pakai Canva karena mereka pegang handphone kan. Mereka udah hafal aplikasi Canva," ujarnya.
Meski demikian, ia tetap menilai metode konvensional masih memiliki peran penting dalam pembelajaran.
"Kan kalau Canva tinggal jadi aja, tapi itu juga penting untuk menyeimbangkan hobi mereka gitu caranya," tutupnya.
Di tengah derasnya arus digital dan minimnya tenaga pengajar, Popon percaya ruang kelas sederhana tetap mampu melahirkan prestasi. Baginya, ketulusan dalam mengajar menjadi kunci agar Bahasa Sunda tetap hidup di kalangan generasi muda. (SAT)


Posting Komentar