Iklan

Sektor Manufaktur Bandung Mandek, Pengusaha Billy Martasandy Ingatkan Bahaya Jangka Panjang

Posting Komentar
Ilustrasi Pertumbuhan Sektor Manufaktur di Kota Bandung
SURAT KABAR, BANDUNG - Pertumbuhan sektor manufaktur di Kota Bandung yang tercatat hanya sekitar 0,01 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mendapat sorotan dari kalangan pengusaha. Angka tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa sektor industri di kota ini tengah mengalami stagnasi.

Pengusaha asal Kota Bandung, Billy Martasandy, menilai pertumbuhan yang nyaris nol itu tidak bisa dianggap sebagai kondisi yang aman bagi perekonomian daerah. 

Menurutnya, stagnasi pada sektor manufaktur justru menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera membenahi iklim industri di Bandung.

Billy mengatakan, pertumbuhan 0,01 persen menunjukkan bahwa tidak ada ekspansi industri baru yang signifikan di Kota Bandung. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kota ini belum cukup menarik bagi investor yang ingin mengembangkan sektor manufaktur.

“Kalau pertumbuhan hanya 0,01 persen, itu artinya industri tidak bergerak. Pabrik memang tidak banyak yang tutup, tetapi juga tidak ada penambahan yang berarti. Dalam jangka panjang ini berbahaya karena sektor manufaktur adalah salah satu penopang lapangan kerja,” ujar Billy.

Selama ini, Kota Bandung dikenal sebagai kota kreatif sekaligus pusat pendidikan. Namun, Billy menilai keseimbangan antara sektor kreatif dan sektor industri tetap diperlukan agar struktur ekonomi kota lebih kuat dan berkelanjutan.

Ia menilai beberapa faktor seperti keterbatasan lahan industri, regulasi perizinan, hingga biaya operasional yang tinggi bisa menjadi penyebab minimnya pertumbuhan sektor manufaktur di Bandung.

Karena itu, Billy menilai pemerintah kota perlu menyusun strategi yang lebih jelas jika ingin sektor manufaktur tetap bertahan dan berkembang. 

Tanpa kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri, Bandung dinilai berpotensi kehilangan peran sebagai kota dengan basis ekonomi yang beragam.

“Bandung tidak bisa hanya mengandalkan sektor jasa dan ekonomi kreatif saja. Industri manufaktur tetap penting karena menciptakan rantai ekonomi yang panjang, mulai dari tenaga kerja, pemasok bahan baku, hingga distribusi,” katanya.

Selain itu, Billy juga mendorong pemerintah untuk membuka ruang dialog dengan para pelaku usaha. Menurutnya, komunikasi yang baik dapat membantu menemukan solusi bersama untuk memperkuat iklim investasi di sektor industri.

Ia menegaskan bahwa pelaku usaha pada dasarnya ingin berkontribusi terhadap pembangunan kota. Namun, kepastian kebijakan serta dukungan ekosistem usaha tetap diperlukan agar investor merasa yakin menanamkan modalnya di Bandung.

“Kalau Bandung ingin tetap kompetitif sebagai kota ekonomi, maka sektor industri tidak boleh dibiarkan stagnan. Harus ada langkah konkret agar industri kembali tumbuh,” pungkasnya. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar