SURAT KABAR, CIMAHI - Momentum mudik Lebaran pada Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 diperkirakan berlangsung di tengah bayang-bayang tekanan energi global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang dapat berdampak pada sektor transportasi di Indonesia.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menilai situasi tersebut menjadi peringatan serius bagi ketahanan energi nasional, khususnya menjelang periode mobilitas masyarakat yang sangat tinggi seperti mudik Lebaran.
Menurut Djoko, lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan global dapat menjadi alarm bagi sistem transportasi nasional yang masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) fosil.
"Ketegangan geopolitik antara Israel-AS dan Iran mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri menjelang mudik Lebaran 2026," kata Djoko, Senin (9/3/26).
Ia menjelaskan, dampak yang paling terasa dari konflik tersebut adalah potensi kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga BBM di dalam negeri.
"Hal ini tentu akan membebani biaya transportasi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan mudik," jelas Djoko.
Djoko juga menilai, kondisi ini mencerminkan rapuhnya sistem transportasi Indonesia yang selama ini terlalu bergantung pada BBM, sementara pengembangan angkutan umum belum menjadi prioritas utama.
Meski demikian, hiruk-pikuk kendaraan di jalur mudik tahun ini diperkirakan tidak sepadat tahun-tahun sebelumnya. Djoko menilai pelemahan daya beli masyarakat akibat kondisi ekonomi yang sedang lesu berpotensi menekan jumlah pemudik.
Ia juga menyinggung ketergantungan Indonesia terhadap impor energi yang masih cukup tinggi.
"Saya baca di salah satu media, jika Indonesia saat ini masih mengimpor energi. Konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya 860 barel per hari," ujar Djoko.
Djoko menambahkan, setiap musim mudik selalu terjadi peningkatan penggunaan kendaraan, baik mobil pribadi, sepeda motor, maupun angkutan umum, yang secara otomatis meningkatkan konsumsi BBM secara signifikan.
"Sangat mungkin bahwa perang yang berimbas pada ketersediaan bahan bakar akan membayangi aktivitas mudik," terangnya.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan memprediksi pergerakan masyarakat selama periode angkutan Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,6 persen dari total penduduk Indonesia.
Pergerakan pemudik terbesar diperkirakan berasal dari Jawa Barat dengan jumlah mencapai 30,97 juta orang, disusul wilayah Jakarta sebanyak 19,93 juta orang, serta Jawa Timur sekitar 17,12 juta orang.
Adapun daerah tujuan mudik terbanyak diperkirakan menuju Jawa Tengah dengan 38,71 juta orang, diikuti Jawa Timur sebanyak 27,29 juta orang, serta Jawa Barat sekitar 25,09 juta orang.
Di sisi lain, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memastikan bahwa kondisi pasokan BBM nasional sejauh ini masih terkendali meskipun konflik di Timur Tengah terus berlangsung.
"Soal BBM kita belum mengalami masalah yang terlalu serius, saya lihat pemerintah sudah memiliki kontijensi untuk menghadapi kalau-kalau perang ini masih akan berkelanjutan. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan," kata Luhut di Unjani, Kota Cimahi, Rabu (11/3/2026).
Menurut Luhut, salah satu komoditas energi yang sempat menjadi perhatian pemerintah adalah stok gas LPG yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan memasak.
Untuk memastikan kondisi tersebut, Dewan Ekonomi Nasional telah memanggil PT Pertamina Patra Niaga guna memeriksa kondisi pasokan dan rantai distribusi energi, khususnya LPG.
"Kemarin kami mengundang Patra Niaga dan kita juga lihat ke lapangan, mengenai suplai energi. Kita harus lihat siapa yang memberikan kepada kita, berapa cadangan nasional kita, berapa lama dia sampai," cetusnya.
Ia mengakui, dari seluruh produk energi yang dipantau, pasokan LPG sempat menjadi titik yang paling sensitif. Namun setelah dilakukan pengecekan, pengiriman LPG dari Amerika Serikat diketahui sudah dalam perjalanan menuju Indonesia.
"Kapalnya sudah jalan masuk ke Indonesia, kita kemudian melihat tidak ada masalah serius," ujarnya.
Luhut juga memastikan bahwa rantai distribusi energi nasional hingga saat ini masih berjalan normal, terutama di wilayah Jawa.
"Dari pulau besar sudah dialirkan ke daerah terpencil gas-gas itu, kalau di pulau Jawa itu tidak ada masalah, datang langsung bisa dibagikan, tapi di luar Jawa yang jauh itu masalah karena transportasinya ke sana," tandasnya. (SAT)

Posting Komentar