SURAT KABAR, BANDUNG - Menanggapi temuan puluhan ribu pelajar di Kota Bandung yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental, akademisi psikologi Billy Martasandy menyoroti pentingnya peran orang tua dalam proses deteksi dan penanganan dini. Ia menegaskan, sikap malu dan penyangkalan justru dapat memperburuk kondisi anak.
Billy mengatakan, dalam banyak kasus, hambatan terbesar bukan pada akses layanan, melainkan pada penerimaan keluarga.
"Masih ada anggapan bahwa gangguan mental adalah aib. Padahal dalam perspektif psikologi, masalah kesehatan mental sama seperti gangguan kesehatan fisik. Semakin cepat dikenali, semakin baik prognosisnya,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, hasil skrining atau deteksi dini bukanlah vonis bahwa seorang anak mengalami gangguan berat. Skrining hanya menunjukkan adanya gejala awal yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Namun, tidak sedikit orang tua yang langsung defensif ketika anaknya disebut membutuhkan pendampingan psikologis.
“Sering kali orang tua merasa itu mencerminkan kegagalan mereka dalam mendidik anak. Padahal justru sebaliknya, orang tua yang mau menerima hasil deteksi dini dan mencari bantuan adalah bentuk tanggung jawab yang besar,” katanya.
Billy menjelaskan, reaksi penyangkalan bisa muncul karena kurangnya literasi kesehatan mental. Banyak orang tua yang masih menyamakan gangguan mental dengan kondisi ekstrem.
Akibatnya, gejala seperti kecemasan berlebih, menarik diri dari pergaulan, perubahan pola tidur, atau penurunan prestasi dianggap hal biasa.
“Kalau anak demam, kita tidak malu membawanya ke dokter. Lalu kenapa ketika anak mengalami tekanan psikologis kita merasa harus menutupinya? Ini soal kesehatan, bukan soal harga diri,” tegasnya.
Ia mengingatkan, penanganan sejak dini dapat mencegah masalah berkembang menjadi lebih kompleks, seperti depresi berat, perilaku menyakiti diri, hingga gangguan fungsi sosial yang berkepanjangan. Karena itu, orang tua diminta untuk lebih terbuka terhadap rekomendasi guru, konselor sekolah, maupun tenaga kesehatan.
Billy juga mendorong agar komunikasi dalam keluarga dibangun secara lebih hangat dan terbuka. Orang tua, menurutnya, perlu menyediakan ruang aman bagi anak untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
“Anak-anak butuh didengar, bukan langsung dinasehati atau dibanding-bandingkan. Validasi emosi mereka sangat penting. Dari situ orang tua bisa lebih cepat menangkap tanda-tanda jika ada yang tidak beres,” ujarnya.
Ia berharap momentum temuan data ini dapat menjadi titik balik dalam menghapus stigma terhadap isu kesehatan mental di lingkungan keluarga. Dengan sikap terbuka dan tanpa rasa malu, proses pemulihan anak justru akan lebih cepat dan efektif.
“Jangan menunggu sampai kondisinya berat. Tidak perlu malu, tidak perlu menyangkal. Justru keberanian orang tua untuk menerima kenyataan dan mencari bantuan adalah kunci utama kesehatan mental anak,” pungkasnya. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar