![]() |
| LAYANAN DAMKAR: Petugas Damkar Cimahi saat melayani masyarakat secara langsung sebagai bentuk respons terhadap laporan warga (Istimewa) |
SURAT KABAR, CIMAHI - Pada suatu siang yang tampak biasa di markas Damkar Cimahi, telepon berdering bukan untuk melaporkan kobaran api, melainkan suara lirih seseorang yang sedang berada di ambang keputusasaan hidup. Di titik itulah, peran petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Cimahi berubah, dari pemadam api menjadi penjaga harapan.
Fenomena unik ini menandai pergeseran fungsi Damkar Cimahi yang kian luas dan tidak terduga. Selain menangani kebakaran rumah, gudang, maupun evakuasi hewan, petugas kini juga menghadapi persoalan psikologis warga, mulai dari curhat asmara, tekanan rumah tangga, hingga ancaman bunuh diri yang disampaikan melalui sambungan telepon.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Achmad Suparlan, mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut bukanlah kejadian tunggal. Ditemui di kantornya di Komplek Taman Bumi Prima, Cibabat, Cimahi Utara, Senin (30/3/2026), ia menjelaskan bahwa panggilan semacam ini bisa berlangsung berjam-jam.
“Jadi ada nelepon mau bunuh diri gitu. Konsultasi gimana kalau saya bunuh diri di rel kereta katanya. Itu sampai berjam-jam nelepon ke orang Damkar. Sama orang Damkar ‘jangan ini ini’, gitu jadi diedukasi lah, akhirnya teu jadi gitu. Putus pacar, ulang tahun, juga pernah,” ujarnya, menggambarkan realitas unik Damkar Cimahi.
Curhat Rumah Tangga hingga Asmara Remaja
Dalam banyak kasus, kata Achmad, panggilan terkait krisis mental sering datang dari warga yang telah berumah tangga. Tekanan domestik menjadi pemicu utama, menjadikan petugas Damkar Cimahi sebagai tempat pelarian emosional yang tidak direncanakan.
“Nah, dia itu sendiri pusing juga oleh kelakuan suaminya gitu. Ingin cerai dia nggak berani minta itu,” katanya.
Sementara itu, persoalan asmara lebih banyak datang dari kalangan muda. Remaja yang mengalami putus cinta kerap menghubungi Damkar Cimahi, mencari seseorang untuk sekadar mendengar keluh kesah mereka.
Namun, tidak semua permintaan berhenti pada curhat. Dalam beberapa kejadian, warga bahkan meminta bantuan yang benar-benar di luar tugas utama, seperti menghadiri perayaan ulang tahun hingga mengambil rapor sekolah.
“Ada juga yang misalkan orang tuanya nggak bisa ngambil rapor, nyuruh Damkar yang ngambil rapor,” ucap Achmad.
Fobia, “Gajah Beruang”, dan Realitas Tak Terduga
Spektrum tugas Damkar Cimahi semakin luas ketika berhadapan dengan laporan berbasis ketakutan. Banyak warga yang menghubungi petugas hanya karena fobia terhadap hewan kecil, meskipun secara objektif tidak berbahaya.
“Padahal dicepret sama kayu kecil aja dah kabur gitu. Atau dicepret aja mati gitu segede cicak kan kecil. Saking fobianya gitu,” katanya.
Dalam kasus lain yang lebih ekstrem, petugas bahkan diminta menangkap hewan yang disebut warga sebagai “gajah beruang” atau beruang madu. Penanganannya berlangsung dengan cara yang jauh dari standar profesional, mencerminkan keterbatasan situasi sekaligus kreativitas di lapangan.
“Tapi ya udah gitu ditangkep, ditangkepnya tuh ditali pakai tali rafia, akhirnya dapet juga karena kan ditangkepnya sama yang punya,” ujarnya.
Menurut Achmad, hewan tersebut bukan sepenuhnya liar, melainkan sudah jinak. Namun, insiden ini menegaskan bahwa Damkar Cimahi sering berada di garis depan menghadapi situasi yang tidak memiliki protokol baku.
Kepanikan Massal saat Kebakaran
Di tengah peristiwa kebakaran, tantangan terbesar bagi petugas Damkar Cimahi bukan hanya api, melainkan respons warga yang diliputi kepanikan. Dalam kondisi tersebut, logika sering kali tergeser oleh dorongan emosional.
Achmad menuturkan bahwa warga kerap memaksa petugas untuk memprioritaskan rumah tertentu, bahkan jika lokasinya tidak berada dalam titik bahaya utama.
“‘Rumah abdi heula,’ cenah, ‘bisi kaduruk,’” katanya.
Pemandangan lain yang kerap muncul adalah warga membawa ember kecil untuk memadamkan kebakaran besar, sebuah upaya yang secara teknis tidak efektif, tetapi mencerminkan kepanikan kolektif.
“Bawa ember kecil nggak akan bisa memadamkan api,” ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, tekanan emosional sering meningkat hingga memicu kemarahan yang sulit dikendalikan. Peran Damkar Cimahi pun meluas menjadi penenang situasi, menjaga agar kepanikan tidak berubah menjadi kekacauan.
“Kadang-kadang ada yang stres melihat api itu marah-marah, tidak terkendali,” tandasnya. (REL)


Posting Komentar