Iklan

Billy Martasandy: Kenali Ciri Gangguan Mental Anak, Orang Tua Harus Lebih Peka

Posting Komentar
Billy Martasandy: Kenali Ciri Gangguan Mental Anak, Orang Tua Harus Lebih Peka
SURAT KABAR, BANDUNG - Kasus tragis pembunuhan siswa SMP yang jasadnya ditemukan di kawasan eks Kampung Gajah terus menjadi perhatian publik. Menyikapi peristiwa tersebut, akademisi psikologi Billy Martasandy menegaskan pentingnya deteksi dini gangguan mental pada anak serta peran sentral orang tua dalam pencegahan.

Billy menilai, tidak semua anak yang terlibat dalam tindakan agresif dapat langsung dikategorikan mengalami gangguan mental. Namun, ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai sejak dini agar masalah psikologis tidak berkembang menjadi perilaku berisiko.

“Sering kali perubahan perilaku anak dianggap sekadar fase pubertas atau kenakalan biasa. Padahal, ada indikator yang menunjukkan anak sedang mengalami tekanan psikologis serius,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu tanda paling umum adalah perubahan perilaku yang drastis dan berlangsung cukup lama, seperti menjadi sangat tertutup, mudah marah, atau kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai. Selain itu, ledakan emosi yang tidak proporsional terhadap masalah kecil juga patut menjadi perhatian.

Billy juga menyoroti kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial sebagai sinyal yang tidak boleh diabaikan. Anak yang menjauh dari teman dan keluarga secara ekstrem berpotensi mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Pernyataan bernada putus asa, kebencian berlebihan, atau keinginan membalas dendam juga termasuk tanda bahaya.

“Yang juga penting adalah melihat apakah anak masih memiliki empati. Jika ia menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah atau tidak memahami dampak perbuatannya, maka evaluasi profesional sangat diperlukan,” jelasnya.

Meski demikian, Billy mengingatkan agar orang tua tidak sembarangan memberi label gangguan mental tanpa pemeriksaan ahli. Ia menekankan pentingnya konsultasi dengan psikolog atau psikiater anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keluarga adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental anak. Orang tua disarankan membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita. Validasi emosi juga menjadi kunci, terutama dalam menghadapi konflik pertemanan yang kerap dianggap sepele oleh orang dewasa.

“Bagi remaja, konflik dengan teman bisa terasa sangat menyakitkan. Jika perasaan itu diabaikan, ia bisa berkembang menjadi kemarahan yang terpendam,” katanya.

Selain itu, orang tua perlu menjadi teladan dalam mengelola emosi, mengawasi perubahan perilaku anak, serta membatasi paparan konten kekerasan. Aktivitas positif dan lingkungan sosial yang sehat dinilai dapat membantu memperkuat ketahanan mental remaja.

Billy berharap kasus ini menjadi refleksi bersama bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah tragedi terjadi. 

“Kepekaan orang tua terhadap perubahan kecil pada anak bisa menjadi faktor penyelamat. Anak yang agresif sering kali adalah anak yang sedang terluka secara emosional,” pungkasnya. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar