SURAT KABAR, BANDUNG - Peristiwa pembunuhan siswa SMP yang jasadnya ditemukan di kawasan eks Kampung Gajah tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang kesiapan sistem dalam melindungi kesehatan mental remaja.
Akademisi psikologi Billy Martasandy menilai tragedi tersebut harus dibaca sebagai alarm bagi negara untuk memperkuat intervensi di sektor pendidikan dan perlindungan anak.
Menurut Billy, kasus yang dipicu konflik pertemanan itu menunjukkan rapuhnya kemampuan sebagian remaja dalam mengelola penolakan dan emosi negatif. Namun ia menegaskan, persoalan ini bukan semata kegagalan individu atau keluarga.
“Ketika seorang anak di bawah umur sampai melakukan tindakan ekstrem karena sakit hati, itu menandakan ada celah dalam sistem pendampingan kita. Negara perlu hadir lebih kuat dalam menjaga kesehatan mental siswa,” ujarnya.
Billy menyoroti bahwa hingga kini, layanan konseling di banyak sekolah masih terbatas. Tidak semua satuan pendidikan memiliki psikolog atau konselor terlatih dengan rasio ideal. Padahal, konflik pertemanan, tekanan sosial, hingga potensi perundungan kerap terjadi di lingkungan sekolah.
Ia menilai pemerintah perlu menjadikan kesehatan mental sebagai bagian integral dari kebijakan pendidikan, bukan sekadar program tambahan. Literasi emosional, kemampuan menyelesaikan konflik, dan pendidikan empati harus terstruktur dalam kurikulum.
Tragedi di eks Kampung Gajah, lanjutnya, juga membuka kembali isu perundungan yang kerap menjadi pemicu keretakan relasi remaja. Meski motif kasus ini disebut karena putus pertemanan, Billy menekankan bahwa dinamika sosial remaja sering kali kompleks dan bisa melibatkan tekanan kelompok sebaya.
“Bullying atau pengucilan sosial dapat merusak harga diri anak secara perlahan. Jika tidak ada sistem pelaporan yang aman dan respons cepat dari sekolah, dampaknya bisa sangat serius terhadap kondisi mental,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk memastikan setiap sekolah memiliki standar operasional prosedur penanganan perundungan yang jelas, termasuk mekanisme pengawasan dan evaluasi berkala. Pelatihan guru untuk mendeteksi perubahan perilaku siswa juga dinilai penting.
Billy juga mengusulkan adanya skrining kesehatan mental secara berkala di sekolah, terutama pada jenjang remaja awal yang secara psikologis masih dalam tahap perkembangan identitas dan pengendalian emosi.
“Negara tidak boleh menunggu tragedi berikutnya. Kasus di eks Kampung Gajah harus menjadi momentum pembenahan sistemik—dari kebijakan, anggaran, hingga implementasi di lapangan,” tegasnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa menjaga kesehatan mental siswa bukan hanya soal mencegah kekerasan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas generasi mendatang. “Anak-anak membutuhkan ruang aman, pendampingan profesional, dan kebijakan yang berpihak. Tanpa itu, risiko ledakan emosi dan konflik ekstrem akan selalu ada,” pungkas Billy. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar