Iklan

Akademisi Psikologi Billy Martasandy Soroti Faktor Emosi Remaja dalam Kasus Pembunuhan di Eks Kampung Gajah

Posting Komentar
Akademisi Psikologi Billy Martasandy Soroti Faktor Emosi Remaja dalam Kasus Pembunuhan di Eks Kampung Gajah
SURAT KABAR, BANDUNG - Kasus pembunuhan seorang siswa SMP yang jasadnya ditemukan di kawasan eks Kampung Gajah mengejutkan publik. Fakta bahwa pelaku merupakan anak di bawah umur, dengan motif sakit hati karena korban memutuskan tali pertemanan, memunculkan pertanyaan serius mengenai kondisi psikologis remaja saat menghadapi konflik sosial.

Akademisi psikologi, Billy Martasandy, menjelaskan bahwa tindakan ekstrem yang dilakukan pelaku tidak bisa dilepaskan dari dinamika perkembangan emosi pada usia remaja awal.

Menurut Billy, masa SMP merupakan fase krusial dalam perkembangan identitas diri. Pada tahap ini, relasi pertemanan memiliki makna yang sangat besar. 

“Bagi remaja, diterima atau ditolak oleh teman sebaya sangat memengaruhi harga diri mereka. Ketika hubungan pertemanan diputus secara sepihak, sebagian remaja bisa merasakannya sebagai bentuk penolakan yang sangat menyakitkan,” ujarnya.

Secara neurologis, Billy menjelaskan bahwa perkembangan otak remaja belum sepenuhnya matang. Sistem limbik yang mengatur emosi berkembang lebih cepat dibandingkan korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan rasional. Ketidakseimbangan ini membuat remaja cenderung lebih impulsif saat diliputi emosi kuat seperti marah, kecewa, atau merasa dikhianati.

“Dalam kondisi emosi yang memuncak, kemampuan berpikir jernih bisa menurun drastis. Jika tidak ada keterampilan regulasi emosi yang baik, maka respons yang muncul bisa sangat ekstrem,” jelasnya.

Billy juga menekankan bahwa tindakan kekerasan jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya terdapat akumulasi rasa sakit hati, kemarahan yang dipendam, serta kurangnya ruang aman untuk mengekspresikan perasaan secara sehat. 

Faktor lain seperti pola asuh, minimnya komunikasi dengan orang tua, hingga kurangnya pendampingan di sekolah dapat memperbesar risiko tersebut.

Ia menambahkan bahwa bagi sebagian remaja, putusnya hubungan pertemanan dapat memicu rasa kehilangan yang intens, bahkan memunculkan pikiran irasional seperti ingin “membalas” rasa sakit tersebut. Dalam kondisi tertentu, terutama jika anak memiliki kecenderungan agresivitas atau riwayat konflik sebelumnya, risiko tindakan kekerasan bisa meningkat.

Billy mengingatkan bahwa kasus ini harus menjadi refleksi bersama. “Kita perlu memperkuat pendidikan literasi emosional sejak dini. Anak harus diajarkan bahwa konflik dan putus pertemanan adalah bagian dari dinamika sosial yang wajar, dan ada cara sehat untuk menghadapinya,” tegasnya.

Ia juga mendorong sekolah untuk memperkuat layanan konseling dan deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa, seperti mudah marah, menarik diri, atau menunjukkan obsesi terhadap konflik tertentu. Keluarga, menurutnya, memegang peran penting dalam membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman membicarakan masalahnya.

Kasus tragis ini, lanjut Billy, menunjukkan bahwa di balik tindakan kriminal remaja terdapat persoalan perkembangan psikologis yang kompleks. Pendekatan komprehensif yang melibatkan keluarga, sekolah, dan sistem hukum anak dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar