SURAT KABAR, JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan bahwa Dunia Islam memiliki posisi strategis sebagai mitra kunci Indonesia yang harus dikelola secara serius, terarah, dan lintas sektor.
Menurutnya, hubungan Indonesia dengan negara-negara Dunia Islam tidak bisa lagi berjalan sporadis, melainkan perlu dirancang secara fokus dan berkelanjutan demi mendukung kepentingan nasional.
Sugiono menjelaskan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI telah menyusun sebuah Peta Jalan Kerja Sama dengan Dunia Islam yang dirancang lebih sistematis, berjangka panjang, serta berorientasi pada hasil nyata.
Peta jalan ini menjadi pedoman agar kerja sama Indonesia dengan Dunia Islam dapat berlangsung secara konsisten, terukur, dan memberikan manfaat strategis bagi posisi Indonesia di kancah global.
Ia menekankan bahwa pendekatan diplomasi semacam ini penting agar Indonesia tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi juga mampu membangun kerja sama substantif yang berdampak langsung, baik di bidang politik, kemanusiaan, sosial, maupun ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, Sugiono juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta yang selama ini dipercaya memimpin dan mengawal langsung diplomasi Indonesia dengan Dunia Islam.
“Oleh karena itu, saya juga mengucapkan terima kasih kepada wakil menteri saya, Bapak Anis Matta yang secara khusus mengawaki diplomasi Indonesia dengan Dunia Islam,” ujar Sugiono saat menyampaikan pernyataan pers tahunan di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Sugiono menilai, Indonesia memiliki modal diplomasi yang sangat kuat sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Selain jumlah penduduk Muslim yang besar, Indonesia juga dikenal luas memiliki rekam jejak panjang dalam praktik moderasi beragama, dialog lintas budaya, serta konsistensi dalam menjaga stabilitas sosial.
Modal tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk membangun kerja sama yang lebih mendalam dan bermakna dengan Dunia Islam, bukan sekadar hubungan formal antarnegara, tetapi juga kemitraan strategis yang menjawab tantangan global.
Penguatan diplomasi Indonesia di Dunia Islam, lanjut Sugiono, tidak berhenti pada tataran wacana.
Berbagai langkah konkret terus diterjemahkan dalam kebijakan nyata, salah satunya melalui dukungan terhadap inisiatif Kampung Haji Indonesia di Mekkah.
Program ini dipandang sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas negara dalam meningkatkan kualitas pelayanan bagi jamaah haji Indonesia secara berkelanjutan.
Selain fokus pada kerja sama Dunia Islam, Menlu Sugiono juga menegaskan bahwa diplomasi Indonesia akan selalu hadir dengan prinsip dan keberanian dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Ia menegaskan bahwa isu Palestina bukan sekadar agenda politik luar negeri, melainkan panggilan moral dan kemanusiaan.
“Palestina adalah pengingat bahwa diplomasi tidak boleh kehilangan nuraninya,” tegas Menlu.
Sugiono menggambarkan situasi krisis kemanusiaan yang masih terjadi di berbagai kawasan dunia, termasuk kondisi di Gaza yang terus berlarut-larut tanpa upaya nyata yang efektif untuk menghentikan penderitaan rakyat sipil. Situasi tersebut, menurutnya, tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan dalam tatanan global.
Ia kembali menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia tidak boleh bersikap pasif ketika pelanggaran kemanusiaan terjadi secara terang-terangan.
Atas dasar itu, Indonesia memilih terlibat aktif dalam berbagai inisiatif internasional yang bertujuan mendorong perdamaian dan keadilan bagi Palestina.
Indonesia tercatat berperan sebagai co-chair Working Group di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menghasilkan New York Declaration, serta aktif mendorong implementasi Sharm El Sheikh Peace Summit sebagai bagian dari upaya diplomatik berkelanjutan.
Tak hanya itu, Indonesia juga terlibat aktif dalam pembahasan pembentukan International Stabilization Force (ISF) di Gaza.
Menurut Sugiono, ISF dirancang sebagai instrumen sementara untuk mendukung terwujudnya gencatan senjata permanen serta memastikan kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza.
“ISF merupakan instrumen sementara untuk mendukung gencatan senjata permanen dan kelancaran bantuan kemanusiaan di Gaza, sementara tujuan akhir tetap perdamaian Palestina melalui Solusi Dua Negara,” jelas Sugiono.
Bagi Indonesia, kemerdekaan Palestina merupakan amanat konstitusi yang tidak bisa ditawar dan harus terus diperjuangkan.
Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memainkan peran aktif di berbagai forum internasional guna mendorong penghentian kekerasan, pemulihan kondisi kemanusiaan, serta terwujudnya Palestina yang damai, berdaulat, dan merdeka. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar