SURAT KABAR, KBB - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat sebagai langkah strategis meningkatkan kualitas gizi ibu dan anak ternyata belum sepenuhnya dirasakan masyarakat di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Di Kecamatan Cipatat, ribuan kelompok sasaran yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok B3 dilaporkan belum pernah menerima manfaat program tersebut, meskipun MBG telah mulai diluncurkan sejak pertengahan tahun 2025.
Ketimpangan pelaksanaan program ini terjadi di sejumlah desa, antara lain Desa Sarimukti, Kertamukti, Gunung Masigit, dan Mandalawangi.
Keterbatasan jumlah dapur penyedia MBG serta kendala jarak distribusi menjadi faktor utama belum meratanya program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tersebut.
Kader Pos KB Desa Sarimukti, Euis mengungkapkan bahwa hingga saat ini tidak satu pun kelompok B3 di wilayahnya menerima menu MBG. Padahal, jumlah sasaran di desa tersebut terbilang cukup besar berdasarkan data resmi.
“Di Desa Sarimukti belum ada yang menerima sama sekali. Data di PLKB Kecamatan Cipatat mencatat sekitar 560 orang kelompok B3 di desa kami,” ujar Euis saat dikonfirmasi, Jumat (16/1/2026).
Menurut Euis, belum tersedianya dapur MBG di wilayah Desa Sarimukti menjadi penyebab utama terhambatnya penyaluran program.
“Alasannya karena belum ada dapur yang bisa melayani. Dapur yang sudah ada kapasitasnya penuh, sehingga kami belum terjangkau,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan serupa juga dialami desa-desa lain di Kecamatan Cipatat. Hingga kini, distribusi MBG belum menyentuh seluruh wilayah secara menyeluruh.
“Di Desa Kertamukti, Gunung Masigit, dan Mandalawangi juga masih banyak RW yang belum terlayani. Baru sebagian kecil saja yang sudah menerima,” ujarnya.
Sementara itu, Penyuluh KB UPT KB Kecamatan Cipatat, Wida Dewi membenarkan bahwa implementasi Program Makan Bergizi Gratis di wilayahnya masih belum merata. Dari total 9.737 orang kelompok B3 yang tersebar di Kecamatan Cipatat, baru 6.695 orang yang telah menerima manfaat program tersebut.
“Artinya, masih ada sekitar 3.000 lebih kelompok B3 yang belum terlayani program Makan Bergizi Gratis,” kata Wida.
Ia menjelaskan, kendala utama berada pada aspek teknis distribusi, khususnya terkait batasan radius layanan dapur MBG yang maksimal hanya 5 hingga 6 kilometer.
“Jarak menjadi persoalan utama. Kalau lokasi sasaran terlalu jauh dari dapur, secara teknis belum bisa dijangkau,” jelasnya.
Sebagai upaya mengatasi keterbatasan tersebut, Wida menyebutkan bahwa pemerintah telah membangun dua dapur MBG baru di Desa Gunung Masigit, yang diprioritaskan untuk melayani wilayah pelosok seperti Kampung Pasegan.
Namun demikian, kapasitas dapur tersebut masih belum mencukupi.
“Dapur baru memang sudah ada, tapi kuotanya belum cukup untuk mengakomodasi seluruh kelompok B3 yang ada,” ujarnya.
Wida menegaskan, pemerintah berencana melakukan pemerataan secara bertahap dengan menambah dapur MBG di wilayah yang hingga kini belum terlayani.
“Kelompok B3 yang belum mendapatkan program akan dicover secara bertahap jika dapur baru sudah dibangun,” katanya.
Ia berharap ke depan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis benar-benar menyasar kelompok sasaran di wilayah pelosok, sejalan dengan tujuan awal kebijakan tersebut.
“Seperti yang disampaikan Presiden Prabowo, wilayah pelosok seharusnya menjadi prioritas utama. Harapannya, program ini bisa segera dirasakan secara merata,” pungkas Wida. (SAT)


Posting Komentar
Posting Komentar