Iklan

Belum Diangkut, Material Bekas Renovasi di SDN Mandiri 1 Dinilai Berpotensi Bahayakan Siswa

Posting Komentar
Kondisi Brangkal di SDN Mandiri 1 Leuwigajah yang Masih Menumpuk di Lapangan Sekolah

SURAT KABAR, CIMAHI - Keselamatan dan kenyamanan siswa menjadi perhatian utama di SDN Mandiri 1 Leuwigajah, Kota Cimahi. Pasca renovasi bangunan sekolah, sisa material bangunan masih terlihat menumpuk di area lapangan sekolah. Kondisi ini memicu kekhawatiran, terutama karena area tersebut biasa digunakan siswa untuk berolahraga dan melaksanakan upacara bendera.

Kepala SDN Mandiri 1 Leuwigajah, Yanni Febrian, menjelaskan bahwa pihak sekolah sejak awal telah berkoordinasi dengan Dinas terkait untuk penanganan material sisa renovasi tersebut. 

Menurutnya, proses pengangkutan tidak bisa dilakukan secara instan karena material tersebut merupakan aset daerah yang harus melalui prosedur administratif.

"Alokasi untuk renovasi atap sekolah yang bocor-bocor lantai atas, yang bocor-bocor parah itu tiga bulan. Oktober, November, Desember. Alhamdulillah di bulan November udah selesai, atapnya," ujarnya saat ditemui Surat Kabar di sekolah, Kamis (15/1/26).

Berdasarkan pantauan di lokasi, lapangan sekolah yang tidak terlalu luas kini sebagian dipenuhi material bekas berupa kayu dan genteng. Area yang seharusnya menjadi ruang bermain dan olahraga siswa pun menjadi terbatas.

Yanni menyebut, pasca renovasi, pihak sekolah terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan agar sisa material segera ditangani. Namun, menurutnya, ada prosedur dan tahapan yang harus dilalui.

"Mungkin karena memang ada aturan yang harus ditempuh, ada proses yang memang harus ditempuh. Ya akhirnya kami dengan Dinas, tapi pihak sekolah terus koordinasi sih dengan Dinas," jelasnya.

Ia menambahkan, pihak pemborong dikabarkan akan segera memindahkan material tersebut ke lahan milik dinas yang tidak terpakai.

"Tapi alhamdulillah katanya dari pihak dinas sore ini, sore ini nggak tahu sore ini nggak tahu besok, dari pemborong mau memindahkan. Memindahkan ini barang-barang ini supaya akses sekolah masih bisa dipakai gitu ya, ke lahan Dinas juga, ke rumah dinas yang tidak terpakai," ungkap Yanni.

Yanni juga mengakui bahwa material bekas tersebut telah berada di lapangan sekolah sejak akhir November hingga Desember.

"Eh, November akhir, Desember satu bulanan lah ya kira-kira ya, Desember potong libur gitu. Ya di sini, di sini, (lapang sekolah)," katanya.

Keberadaan material tersebut diakui memang mengganggu aktivitas siswa, meski pihak sekolah berupaya memahami kondisi yang ada.

"Kalau mengganggu sih mengganggu, cuman ya kita juga maklum gitu, maklum karena memang prosedurnya yang memang harus ditempuh gitu ya. Tapi tetep sih komunikasi dengan orang tua siswa, mudah-mudahan secepatnya bisa dibereskan," ujarnya.

Keluhan dari orang tua siswa pun disebut sudah ada, terutama terkait keterbatasan ruang gerak dan potensi bahaya.

"Keluhan, ya pasti ada mungkin ya, karena ruang gerak anak yang eh terbatas dengan adanya brangkal. Takutnya membahayakan juga gitu," tutur Yanni.

Meski demikian, pihak sekolah memperketat pengawasan di lingkungan sekolah.

"Nah, tapi alhamdulillah sih kerja sama dengan guru-guru juga diperketat lagi gitu kan, eh banyak apa namanya, banyak genteng dan kayu. Alhamdulillah guru-guru dan eh penjaga juga lebih ekstra lagi gitu," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua RT 02 RW 05 Kelurahan Leuwigajah, Edi Setiawan membenarkan bahwa proyek tersebut merupakan renovasi atap lantai dua sekolah.

"Renovasi lantai dua (sekolah), dari plafonnya kayu menjadi baja ringan kalau saya lihat. Karena kebetulan kan saya di sini posisinya masih wilayah RT saya ini kan, RT 02 RW 05," jelasnya.

Edi mengungkapkan, sebelumnya sempat ada pembicaraan terkait pemanfaatan lahan rumah warga di sekitar sekolah untuk menyimpan material bekas sementara.

"Yang punya rumah juga sudah ngomong ke saya gitu apabila nanti suatu waktu ada pihak dari SD untuk naruh di situ, silakan saja diizinkan karena si orang yang punya rumah itu sudah ngobrol dengan Ibu Kepala Sekolah," kata Edi.

Namun dalam praktiknya, material bekas tersebut justru masih diletakkan di halaman sekolah.

"Di antaranya dengan adanya halaman itu dipakai nyimpen dulu sementara barang-barang bekas itu, kemungkinan besar akses bermain mereka dan akses untuk tempat berolahraga mereka sedikit terganggu," ujarnya.

Menurut Edi, kondisi tersebut membuat area sekolah menjadi sempit dan kurang nyaman dipandang.

"Yang biasanya sekolah itu bersih, ada halaman buat bermain, ada halaman juga untuk berolahraga, jadi tertutup sama barang-barang itu," bebernya.

Ia pun berharap sisa material tersebut segera diangkut agar halaman sekolah kembali aman dan bisa dimanfaatkan siswa.

"Yang penting barang itu diangkut biar clear gitu permasalahannya jadi supaya si halaman sekolah itu memang menjadi luas lagi gitu seperti semula," harapnya.

"Anak-anak bisa bermain lagi lah kalau di jam-jam istirahat gitu kan karena tidak ada halaman lagi selain di situ," tandas Edi. (SAT)

Related Posts

Posting Komentar